Pohon Beringin: Mitos, Realitas, dan Sains di Baliknya
Keberadaan pohon-pohon dengan ukuran yang besar sering dikaitkan dengan hal-hal mistik. Salah satunya adalah pohon beringin. Dilansir dari…
Pohon Beringin: Mitos, Realitas, dan Sains di Baliknya

source: google
Keberadaan pohon-pohon dengan ukuran yang besar sering dikaitkan dengan hal-hal mistik. Salah satunya adalah pohon beringin. Dilansir dari situs Tempo, tiga daerah di Indonesia; Kraton Yogyakarta, Lembah Bada di Sulawesi Tengah, dan masyarakat Bali memberikan filosofi yang berbeda terhadap pohon beringin. Kraton Yogyakarta mengartikan keberadaan pohon beringin sebagai ‘manunggaling kawula gusti’ atau yang berarti tempat berkumpulnya manusia dan Tuhan atau manusia dengan pemimpin. Lain halnya dengan masyarakat di Lembah Bada yang mengartikan keberadaan Beringin sebagai tempat pertemuan kegiatan-kegiatan adat. Terakhir, masyarakat Bali menganggap pohon beringin sebagai pohon surgawi karena para dewa bersemayam di sekitarnya. Alhasil, kesakralan dan kesuciannya betul-betul dijaga oleh masyarakat adat setempat, khususnya umat Hindu.
Pohon beringin (ficus benjamina) merupakan tumbuhan asli wilayah Asia dan Australia. Ciri khas yang sering nampak pada pohon ini adalah batangnya memiliki diameter yang cukup lebar, akar gantung yang rimbun, dan dedaunannya yang tak pernah mengering. Ciri fisik pohon beringin yang terkesan horor membuat masyarakat di berbagai daerah memiliki kepercayaan mistik terhadap pohon ini. Kesan rimbun dan besar yang melekat padanya, membuat pohon ini juga diaggap sebagai hunian makhluk halus.
Tapi, apakah benar pohon beringin adalah hunian dari makhluk halus? Ataukah, ada penjelasan lain dibaliknya?
Sebagai ekosistem hidup yang kompleks, beringin menyediakan habitat bagi makhluk hidup dan menyediakan suasana alami yang dianggap mistis akibat karakter fisiknya yang unik. Struktur pohon yang memiliki akar gantung. Dedaunan yang rapat antara satu dengan yang lain dan seolah berbentuk seperti kanopi menciptakan suasana yang unik. Tetapi, ciri fisik tersebut yang justru membuat beringin juga menjadi pohon yang membantu burung, seranga, dan mikroorganisme lainnya untuk membangun sebuah habitat baru yang mana akan membantu ekosistem disekeliling beringin menjadi lebih sehat. Tak hanya itu, ciri fisik yang khas pada beringin juga membuat daerah yang terkena ‘kanopi’ dedaunannya menjadi lembab dan sedikit gelap. Sehingga, hal ini makin memperkuat persepsi mistis dari manusia kepada pohon beringin.
Kepercayaan terhadap mistisme beringin seringkali juga dipengaruhi oleh efek nocebo dan pareidolia, di mana sugesti negatif dan ilusi optik akibat hasil tangkapan panca indera menciptakan pemahaman adanya makhluk ghaib. Efek *nocebo merupakan kondisi pikiran negatif yang dapat memunculkan efek samping yang tidak seharusnya terjadi. Efek nocebo* terjadi ketika seseorang sedang mengkonsumsi obat-obatan, dalam masa perawatan, atau berada di situasi tertentu. Efek pemicu hal ini dapat terjadi adalah persepsi yang terlalu negatif, sulit mengendalikan pikiran, ekspektasi, dan pengalaman. Seseorang yang melihat pohon beringin sebagai tempat yang mistis kemungkinan dipengaruhi oleh pikiran negatif yang sulit dikendalikan akibat dari pengalaman. Dalam hal ini, pengalaman yang didapatkan bisa melalui orang-orang sekitar atau dirinya sendiri yang menciptakan ekspektasi atau keyakinan bahwa tempat-tempat yang memiliki atmosfer gelap, lembab, dan rimbun adalah hunian makhluk ghaib.
Pareidolia menjadi puncak dari efek nocebo. Pareidolia merupakan fenomena psikologis yang menciptakan ilusi bahwa seseorang melihat struktur atau sosok mirip wajah seseorang pada benda-benda mati. Hal ini berangkat dari perasaan takut atau bahagia tergantung objek yang dilihat. Contohnya, melihat ilusi orang tersenyum pada sekumpulan awan di langit. Kombinasi antara pikiran negatif, keyakinan, dan kesulitan mengontrol pikiran menyebabkan perasaan kalut dan takut yang kemudian muncul menjadi persepsi yang mistis terhadap pohon beringin. Oleh sebab itu, memasuki era modern, kepercayaan mistis terhadap benda-benda mati sebetulnya bisa dijabarkan secara saintifik agar lebih mudah diterima berbagai lapisan masyarakat.
Dalam aspek sosial dan budaya, mitos keangkeran pohon beringin bukan hanya soal mistisme. Melainkan juga upaya masyarakat menjaga ekosistem dan identitas sosial melalui simbolis yang dapat diwariskan lintas generasi. Keberadaannya yang diletakkan di alun-alun kabupaten/kota menjadi simbol kepemimpinan yang melindungi dan mengayomi seperti manfaat dari pohon beringin itu sendiri. Ritual dan kepercayaan serta peletakan sesajen terhadap pohon beringin membawa manfaat ekologis berupa terhindar penebangan liar seperti pohon-pohon liar lain yang tak diberi ‘perhatian’ yang sama. Apabila di lautan ada kepercayaan Nyi Roro Kidul, yang padahal jika dilihat melalui perspektif sains, Nyi Roro Kidul adalah representatif dari lautan itu sendiri. Maka, di daratan ada pohon beringin yang dengan kepercayaan mistisnya dapat membantu menyelamatkan lingkungan dan makhluk hidup dari kerusakan-kerusakan akibat keserakahan manusia.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa hal-hal yang bersifat mistis ternyata memiliki pembuktian ilmiah yang memberikan hasil positif bagi alam itu sendiri. Di era modern ini, hal-hal mistis dapat dilihat lebih kritis dan mendalam agar dapat menemukan bukti-bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang sudah ada sejak dahulu kala. Dengan demikian, pohon beringin bukan hanya tempat ‘angker’, melainkan sebuah entitas biologis, psikologis, sosial, dan budaya yang kompleks.
Apakah semua yang kita anggap mistis ternyata bisa dijelaskan dengan sains?
메타데이터
- post_id
- 0cd144190bef
- slug
- pohon-beringin-mitos-realitas-dan-sains-di-baliknya-0cd144190bef
- url
- https://medium.com/@salsabiilaay/pohon-beringin-mitos-realitas-dan-sains-di-baliknya-0cd144190bef
- canonical_url
- https://medium.com/@salsabiilaay/pohon-beringin-mitos-realitas-dan-sains-di-baliknya-0cd144190bef
- author_url
- https://medium.com/@salsabiilaay
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 12:32:40