← Back to list

Genealogi dan Dinamika Intelektual Tafsir Masa Tabi’in: Antara Otoritas Madrasah dan Transmisi…

Perkembangan tafsir pada masa Tabi’in merupakan fase transisi krusial dari tradisi lisan menuju kodifikasi sistematis. Era ini dimulai…

Aisyah Zulfa · 2026-04-28 17:53 · 0 claps · 2.0 min read
#tafsir-tabiin #tafsir #madrasah-madinah-mekkah #kodifikasi-al-quran #tradisi-lisan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Genealogi dan Dinamika Intelektual Tafsir Masa Tabi’in: Antara Otoritas Madrasah dan Transmisi Isra’iliyyat

Perkembangan tafsir pada masa Tabi’in merupakan fase transisi krusial dari tradisi lisan menuju kodifikasi sistematis. Era ini dimulai setelah wafatnya sahabat terakhir, Abu Thufail, sekitar tahun 110 Hijriah, di mana kebutuhan akan penjelasan Al-Qur’an meningkat tajam karena jarak dengan zaman kenabian yang semakin menjauh. Para mufasir Tabi’in menyempurnakan makna ayat yang mulai samar bagi umat dengan bersandar pada lima sumber utama: Al-Qur’an, Hadis, pendapat sahabat, ijtihad bahasa, serta informasi dari Ahli Kitab atau Isra’iliyyat.

Pusat keilmuan tafsir pada masa ini terfragmentasi ke dalam tiga madrasah besar yang dipimpin oleh para sahabat senior. Madrasah Mekkah didirikan oleh Abdullah bin Abbas yang menekankan pada kekuatan riwayat dan bahasa, melahirkan tokoh seperti Said bin Jubair dan Mujahid bin Jabr. Madrasah Madinah berakar pada keilmuan Ubay bin Ka’ab yang fokus pada tradisi lokal Madinah, melahirkan murid seperti Zaid bin Aslam. Sementara itu, Madrasah Iraq di Kufah yang dipelopori Abdullah bin Mas’ud lebih menonjolkan penggunaan ijtihad dan akal (ra’yu) karena dinamika sosial yang kompleks di wilayah tersebut.

Dalam Madrasah Mekah, tokoh seperti Said bin Jubair dikenal sangat komprehensif menguasai tafsir, namun berhati-hati dalam menggunakan ijtihad. Berbeda dengannya, Mujahid bin Jabr lebih berani menggabungkan riwayat dengan pendekatan rasional, sehingga tafsirnya banyak dirujuk oleh Imam Bukhari dan Thabari. Tokoh lainnya seperti Ikrimah, Tawus bin Kaisan, dan Atha’ bin Abi Rabah memperkuat otoritas Mekkah sebagai pusat referensi sastra dan manasik yang sangat diperhitungkan oleh penduduk wilayah lain.

Madrasah Madinah memiliki karakteristik yang sangat kuat dalam menjaga kemurnian riwayat langsung dari lingkungan wahyu. Abu Al-Aliyah menjadi pemegang jalur utama naskah besar tafsir dari Ubay bin Ka’ab, sementara Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazi dikenal sebagai sosok yang sangat alim dalam takwil Al-Qur’an. Zaid bin Aslam, meskipun merupakan seorang mantan budak, memiliki kredibilitas tinggi hingga mampu menarik minat tokoh dari kalangan Ahlu Bait untuk belajar di majelisnya, membuktikan bahwa otoritas ilmu melampaui status sosial.

Sisi lain yang mewarnai tafsir Tabi’in adalah masuknya riwayat Isra’iliyyat sebagai pengisi rincian kisah-kisah umat terdahulu. Empat tokoh sentral dalam transmisi ini adalah Abdullah bin Salam, Ka’ab al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, dan Ibnu Jurayj. Abdullah bin Salam dipandang sangat tepercaya karena kedudukannya sebagai sahabat Nabi, sedangkan Ka’ab al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih menjadi rujukan produktif untuk mendalami narasi sejarah kitab samawi meskipun para ulama memberikan catatan kritis terhadap validitas sebagian riwayat mereka.

Ibnu Jurayj memiliki posisi istimewa sebagai tokoh pertama yang membukukan tafsir secara lengkap di Mekkah, namun ia juga dikritik karena sering kali kurang teliti dalam menyambung sanad. Para ulama seperti Ibnu Taimiyah menekankan prinsip kehati-hatian dalam menerima Isra’iliyyat: riwayat yang sesuai dengan syariat Islam diterima, yang bertentangan ditolak, dan yang bersifat netral boleh diceritakan tanpa harus dibenarkan atau didustakan. Hal ini menunjukkan bahwa Tabi’in mulai membangun filter metodologis untuk menjaga otentisitas tafsir.

Secara keseluruhan, kedudukan tafsir Tabi’in diakui sebagai hujah terutama jika terjadi kesepakatan (ijma) atau menyangkut hal ghaib yang bersifat marfu. Meskipun muncul perbedaan pendapat antara kelompok yang mewajibkan pengambilan pendapat Tabi’in dengan kelompok rasionalis seperti Abu Hanifah, fenomena ini dipandang sebagai kekayaan intelektual. Masa ini berhasil meletakkan fondasi yang kokoh bagi ilmu tafsir melalui perpaduan antara kemurnian bahasa, kekuatan riwayat, dan keberanian ijtihad ilmiah.


메타데이터
post_id
0cd57c68f262
slug
genealogi-dan-dinamika-intelektual-tafsir-masa-tabiin-antara-otoritas-madrasah-dan-transmisi-0cd57c68f262
url
https://medium.com/@aisyahzulfa/genealogi-dan-dinamika-intelektual-tafsir-masa-tabiin-antara-otoritas-madrasah-dan-transmisi-0cd57c68f262
canonical_url
https://medium.com/@aisyahzulfa/genealogi-dan-dinamika-intelektual-tafsir-masa-tabiin-antara-otoritas-madrasah-dan-transmisi-0cd57c68f262
author_url
https://medium.com/@aisyahzulfa
status
ok
fetched_at
2026-08-12 13:50:23