← Back to list

Secangkir Kopi dan Nama-Nama dalam Doa.

Kau disayangi, selalu disayangi. Meski mungkin dengan cara-cara yang tidak pernah kau ketahui bagaimana bentuknya. Namun yang pasti, kau…

Mee · 2026-03-23 07:28 · 0 claps · 2.4 min read
#writing #coffee #writer #life-lessons
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 🍳 · Food & Cooking

Secangkir Kopi dan Nama-Nama dalam Doa.

Kau disayangi, selalu disayangi. Meski mungkin dengan cara-cara yang tidak pernah kau ketahui bagaimana bentuknya. Namun yang pasti, kau selalu disayang.

Photo by Rizky Subagja on Unsplash

Photo by Rizky Subagja on Unsplash

Suara mesin kopi yang lama tak kudengar itu bagaikan penenang dari riuhnya isi kepala.

Aroma kopi yang menguar membuat rasa tenang perlahan merambat di dada.

Lelah setelah hampir satu minggu beraktivitas seakan luruh begitu pahitnya kopi atau coklat kesukaan menyentuh lidah.

Alunan musik yang terputar acak, kadang menghadirkan lagu favorit—membuat bibir ini ikut bersenandung pelan.

Hampir semua pengunjung datang bersama teman atau pasangan. Tawa mereka saling bersahutan, percakapan mereka mengisi sudut-sudut ruangan.

Namun kadang, ada juga yang datang sendirian. Duduk diam dengan pikirannya sendiri, aku salah satunya.

Meski lebih seringnya memang aku selalu datang sendiri ke tempat ini.

Memilih kursi di sudut, memesan secangkir kopi, dan membiarkan waktu berjalan tanpa perlu ditemani siapa pun— termasuk isi kepala yang perlahan merangkai kata tentang segala.

Barista yang bertugas selalu sigap mengurus setiap pesanan. Mereka saling berbagi peran dengan tenang dan teratur.

Ada yang meracik kopi hingga cairan pekat itu turun perlahan ke dalam cangkir, menguar hangat bersama aromanya.

Ada yang menakar manisnya dengan pas, ada yang mengurus pesanan dan pembayaran, dan ada pula yang menyiapkan camilan pendamping— salah satunya kentang goreng yang hampir selalu kupesan tanpa ragu.

Melihat mereka bekerja dengan ritme yang rapi dan saling melengkapi, entah mengapa menghadirkan seulas senyum tulus tanpa tapi.

Seolah setiap orang tahu tugasnya, dan dunia berjalan sebagaimana mestinya.

Anehnya, setiap kali melangkah masuk ke dalam kedai kopi ini, entah mengapa aku selalu bisa mengeluarkan tulisan-tulisan yang sebelumnya hanya bersarang di dalam kepala.

Kalimat-kalimat yang biasanya berputar tanpa arah, perlahan menemukan bentuknya.

Seperti kopi yang diracik dengan takaran yang pas, pikiranku pun akhirnya menemukan keseimbangannya.

Aku mungkin duduk sendiri di kursi ini, tapi tak pernah benar-benar sendiri; ada nama-nama yang diam-diam kupeluk dalam doa dan rindu.

Pandanganku berkelana ke beberapa arah. Diam cukup lama di sana, tanpa memikirkan apa pun, kadang.

Seolah dunia berhenti sejenak, memberi ruang untuk sekedar merasa.

Aku merindukan orang-orang yang selama ini memperlakukanku dengan begitu baik.

Mereka yang menyambutku dengan hangat dan penuh kasih sayang.

Yang setiap kali bertemu rasanya ingin selalu kupandang lebih lama dan kudekap lebih erat.

Meski tak pernah tahu sampai kapan kami diizinkan untuk saling mengenal dan tetap dekat, Tuhan tahu betapa bersyukurnya aku atas hadirnya manusia-manusia hebat itu dalam hidupku.

Di antara pahit yang selalu muncul setiap kali cafein menyentuh kerongkongan, aku belajar— bahwa tak semua yang hadir harus selamanya tinggal.

Ada yang hanya singgah untuk menguatkan di beberapa fase kehidupan, ada yang datang untuk mengajarkan arti disayang tanpa syarat.

Mungkin hidup memang tak pernah menjanjikan kebersamaan yang abadi.

Namun selama Tuhan masih mengizinkan untuk duduk di meja yang sama, berbagi tawa, berbagi cerita, berbagi diam— itu sudah lebih dari cukup.

Aku tahu, suatu hari nanti mungkin ada yang pergi tanpa aba-aba. Seolah semuanya tiba-tiba saja berbeda dan dipisahkan secara paksa.

Seperti lagu yang mendadak berhenti tepat di bagian favoritnya, aku tidak bisa meminta untuk diputar ulang meskipun begitu ingin kan?

Tapi untuk setiap peluk yang pernah kuterima, rumitnya diri dimengerti, genggaman erat yang menguatkan hati, setiap tatap hangat yang membuatku merasa berarti— aku tak ingin mengingatnya sebagai bentuk kehilangan.

Aku ingin mengingatnya sebagai bukti, bahwa aku pernah disayangi meski kadang dengan cara yang tidak aku mengerti bentuknya.

Dan untuk itu saja, hatiku amat bersyukur setiap kali merasa ketulusan mereka melingkupi diri ini.

Terima kasih banyak...


메타데이터
post_id
0cd9cc8700be
slug
secangkir-kopi-dan-nama-nama-dalam-doa-0cd9cc8700be
url
https://medium.com/@meiarml/secangkir-kopi-dan-nama-nama-dalam-doa-0cd9cc8700be
canonical_url
https://medium.com/@meiarml/secangkir-kopi-dan-nama-nama-dalam-doa-0cd9cc8700be
author_url
https://medium.com/@meiarml
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13