← Back to list

Allah Selalu Punya Cara Mempertemukan dan Memisahkan

Sebelum semua kehilangan itu terjadi, aku hanya seorang anak yang sedang bersemangat menyambut perjalanan luar negeri pertamanya.

Gusti Sultan · 2026-05-27 11:52 · 1 claps · 8.0 min read
#duka #pengembangan-diri #refleksi-diri #belajar #cerita-dewasa
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🖊️ · Illustration & Drawing

Allah Selalu Punya Cara Mempertemukan dan Memisahkan

Sebelum semua kehilangan itu terjadi, aku hanya seorang anak yang sedang bersemangat menyambut perjalanan luar negeri pertamanya.

Aku membayangkan suasana bandara, antrean check-in, cap pertama lagi di paspor, pemandangan dari jendela pesawat, hingga bagaimana rasanya tiba di negara lain yang sebelumnya hanya bisa kau lihat dari kanal YouTube dan media sosial lainnya. Saat itu, aku belum tahu bahwa Allah sedang mempersiapkan alasan lain untuk memulangkan ke rumah.

Semua ini bermula pada April 2024, ketika aku mendapatkan kabar bahwa aku harus mempersiapkan administrasi perjalanan luar negeri untuk mewakili AIDHM dalam kegiatan Project Working Group (PWG) 1 and 2 for the ARCH Project di Bangkok, Thailand pada bulan Juni. Sebagai seseorang yang belum pernah bepergian ke luar negeri sebelumnya, kesempatan ini terasa begitu besar sekaligus menegangkan. Sempat terlintas dalam benakku, “Apakah aku pantas menjadi perwakilan, sementara institusiku membawa nama negara-negara ASEAN?” Namun perlahan aku meyakinkan diri bahwa ini adalah amanah yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, rasa syukur, dan tentu diawali dengan Bismillah.

Setelah mendapatkan kabar tersebut, aku langsung memberi tahu orang tua bahwa aku harus berangkat ke Thailand dan mulai mempersiapkan paspor. Bulan Mei, aku memutuskan pulang ke rumah untuk mencari paspor lama sekaligus mengurus perpanjangannya di Jogja. Pulang ke rumah selalu menjadi momen yang dirindukan, bukan hanya bagiku tetapi juga bagi orang tua. Saat itu, aku banyak menghabiskan waktu bersama ibu mengobrol, guyon, dan menikmati hal-hal sederhana yang saat itu terasa biasa saja, namun kini justru menjadi kenangan yang paling aku rindukan. Guyon ternyata juga sangat dianjurkan oleh agama, menurut Fahruddin Faiz, bahwa manusia adalah “homo ridens” yang berarti makhluk yang tertawa.

Malam pertama di rumah, aku langsung memenuhi keinginan sederhana yang selalu muncul setiap kali pulang ke Sidoarjo, makan tahu tek langgananku. Rasanya selalu berbeda dan entah kenapa tidak pernah benar-benar bisa kutemukan di Jogja. Beberapa hari setelahnya, aku juga kembali membeli nasi goreng favorit yang sering kurindukan saat merantau. Saat itu semuanya terasa begitu biasa, sekadar pulang, makan makanan favorit, dan bercanda bersama keluarga. Aku tidak tahu bahwa momen sederhana itu perlahan sedang berubah menjadi kenangan terakhir bersama ibu.

>> Allah ternyata sedang menyiapkan perpisahan

Ahad dini hari sekitar pukul tiga, aku terbangun karena melihat ibu bolak-balik ke kamar mandi dan beberapa kali muntah. Saat itu, aku tidak terlalu berpikir jauh. Dalam benakku hanya muncul pikiran sederhana bahwa mungkin ibu hanya sedang kurang enak badan akibat makanan yang dimakan sebelumnya. Menjelang pagi, aku membersihkan bekas muntah sambil mencoba menenangkan keadaan rumah yang mulai terasa tidak nyaman. Ayah memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi situasi sakit dan kepanikan, sementara aku justru merasa harus tetap sigap menemani ibu saat itu. Belakangan aku baru menyadari, mungkin memang jalan Allah memulangkanku saat itu untuk menjaga ibu di masa terakhirnya.

Aku kemudian bertanya kepada ibu mengenai keluhannya. Dengan suara pelan, beliau mengatakan kepalanya sangat sakit dan memintaku membelikan obat. Aku sempat memberinya pisang karena hampir semua makanan yang sebelumnya dimakan sudah keluar akibat muntah. Awalnya aku berpikir untuk membeli obat sakit kepala biasa, namun ibu mengatakan rasa sakitnya menyerupai migrain. Saat itu, aku masih mencoba meyakinkan diri bahwa kondisi ini tidak terlalu serius, meskipun dalam hati mulai muncul rasa khawatir yang perlahan sulit dijelaskan.

Menjelang sore, kondisi ibu tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Beliau kemudian meminta untuk diantar ke rumah sakit. Aku sempat bertanya rumah sakit mana yang ingin dituju, namun saat itu pikiranku benar-benar kacau. Sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa sebagai seseorang yang belajar di bidang kesehatan masyarakat, aku tidak langsung terpikir membawa ibu ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih intensif sejak awal.

Sore itu, hanya aku dan ibu yang berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, aku masih berusaha meyakinkan diri bahwa kondisi ini mungkin tidak terlalu serius. Sesampainya di IGD, perawat segera melakukan triase dan pemeriksaan awal. Hasil pemeriksaan tekanan darah dan EKG saat itu masih terlihat normal. Namun, kondisi ibu yang kesulitan membuka mata dan mengeluhkan pusing hebat membuat dokter dan perawat menyarankan rawat inap agar observasi dan penanganan dapat dilakukan lebih intensif.

Hangatnya tangan ibu

Hangatnya tangan ibu

Singkatnya, dokter menyarankan agar ibu dipindahkan ke ruang perawatan yang lebih intensif agar proses monitoring dapat dilakukan secara maksimal. Saat itu, aku mencoba menanyakan kemungkinan diagnosis yang dialami ibu. Namun, pihak rumah sakit belum dapat memberikan jawaban pasti karena hasil radiologi masih menunggu interpretasi dari dokter spesialis radiologi.

Dalam kepanikan itu, aku sempat memohon agar diperbolehkan melihat atau memfoto hasil CT scan supaya bisa berkonsultasi dengan dokter lain dan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun, pihak rumah sakit tetap tidak mengizinkan karena adanya prosedur dan kebijakan internal yang harus dipatuhi. Saat itu aku merasa benar-benar tidak memiliki kendali atas keadaan.

Setelahnya, aku menemui ayah dan menjelaskan saran dari dokter mengenai pemindahan ibu ke ruang intensif. Mendengar kabar tersebut, kami tentu panik dan kebingungan karena belum benar-benar memahami kondisi yang sedang dialami ibu. Ayah sempat mengusulkan agar ibu dipindahkan ke rumah sakit Muhammadiyah karena memiliki beberapa kolega di sana yang mungkin dapat membantu proses perawatan. Namun aku merasa kondisi ibu saat itu sudah terlalu berisiko untuk dipindahkan, mengingat proses administrasi dan perjalanan justru bisa memperburuk keadaan beliau.

Dengan rasa takut dan berat hati, akhirnya kami memberikan persetujuan agar ibu dibawa ke ICU.

Selama di ICU, keluarga tentu tidak diperbolehkan keluar masuk dengan bebas. Namun, karena memiliki latar belakang di bidang kesehatan, aku beberapa kali diberi kemudahan untuk memastikan kondisi ibu secara langsung. Setiap kali masuk, aku selalu memperhatikan monitor EKG dan alat-alat yang terpasang pada tubuh beliau, seolah mencoba mencari sedikit harapan bahwa ibu masih bisa kembali membaik.

Di tengah keadaan itu, aku tidak berhenti berdoa kepada Allah agar diberikan jalan terbaik dan kesembuhan untuk ibu. Kadang terasa ironis memang, bagaimana manusia sering kali menjadi sangat dekat dengan Tuhan ketika sedang berada di titik paling takut dalam hidupnya, namun perlahan lalai ketika kebahagiaan datang menghampiri.

Malam itu, sekitar pukul 23.30, aku mendengar nama ibu dipanggil dan keluarga diminta segera masuk ke dalam ICU. Saat itu juga aku mendengar panggilan “code blue” dari dalam ruangan. Dadaku langsung terasa kosong. Entah kenapa, di detik itu aku merasa mungkin ini adalah akhir dari segalanya.

Di dalam ruangan, tenaga medis sedang melakukan RJP kepada ibu. Aku bahkan sempat ingin ikut membantu melakukan RJP, namun tubuhku rasanya sudah terlalu lemah untuk berdiri tenang melihat semuanya terjadi begitu cepat di depan mata. Hingga akhirnya, tepat pukul 00.00, ibu dinyatakan telah tiada.

>> Belajar hidup setelah kehilangan

Kehilangan tentu menjadi hal yang tidak pernah benar-benar diharapkan oleh siapa pun. Banyak kolega dan sanak saudara datang memberi penguatan dengan kalimat, “pasrahkan dan ikhlaskan.” Aku memahami maksud baik dari semua itu. Aku juga sadar bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada-Nya. Namun ternyata, memahami konsep kehilangan dan benar menerima kehilangan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Aku teringat salah satu tulisan dr. Andreas yang mengatakan bahwa hidup pada akhirnya akan berujung pada kematian, setiap pertemuan akan sampai pada perpisahan, dan segala sesuatu di dunia memang tidak ada yang abadi. Banyak buku tentang duka membahas hal serupa, tetapi saat benar-benar mengalaminya sendiri, aku baru sadar bahwa proses menerima kehilangan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Di masa-masa itu, aku juga menyadari betapa pentingnya kehadiran seseorang yang bersedia menemani di titik terendah kehidupan. Aku masih ingat bagaimana seseorang yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita rela berangkat tengah malam dari kota lain di Jawa Tengah setelah mendengar kabar ibu telah tiada.

Aku sebenarnya sudah melarangnya datang karena khawatir dengan perjalanan malam dan berbagai risiko di jalan. Namun, dia tetap bersikeras ingin datang hanya untuk memastikan keadaanku baik-baik saja. Saat itu aku sadar, terkadang manusia memang tetap membutuhkan manusia lain untuk bertahan di tengah kehilangan.

Kehidupan pada akhirnya tetap berjalan. Kesadaran itu justru datang sekitar dua bulan setelah ibu meninggal, ketika salah satu kolegaku berkata, “Hebat ya ibumu, sudah aktif di Pusat Muhammadiyah. Sekarang bagaimana pekerjaan yang beliau tinggalkan?”

Aku menjawab sekenanya bahwa aku sendiri belum tahu karena saat takziah pun belum ada pembicaraan apa-apa mengenai hal tersebut. Lalu dia berkata pelan, “Tapi organisasi tetap berjalan, kan?”

Kalimat itu membuatku terdiam cukup lama. Saat itulah aku perlahan menyadari bahwa hidup memang tidak berhenti hanya karena seseorang pergi. Dan tanpa sadar, mungkin proses menerima kehilangan itu sebenarnya sedang berjalan pelan di dalam diriku sendiri.

Life must go on,” ternyata bukan hanya kalimat klise. Ia benar-benar harus dipelajari dalam bentuk kehilangan yang nyata.

Sejujurnya, aku memang bukan seseorang yang terbiasa hidup sendiri. Selalu ada dorongan untuk mencari teman bercerita agar pikiranku tidak berubah menjadi kesedihan yang terlalu lama dipendam sendiri. Bahkan sahabat dekatku pernah berkata,

Koe ki yo kudu belajar urip dewe. Soale kabeh wong ujunge yo bakal jalan dewe-dewe.

Kalimat itu terus teringat di kepalaku hingga sekarang.

Belakangan, aku juga mulai banyak membaca buku refleksi diri. Salah satu tulisan Alvi Syahrin yang paling membekas bagiku adalah:

People come and go, but Allah stays.

Dan mungkin memang itu yang perlahan sedang kupelajari setelah kehilangan ibu , bahwa manusia akan datang dan pergi, tetapi Allah akan selalu tetap ada.

>> Bangkok setelah ibu tiada

Setelah seluruh prosesi kepergian ibu selesai, ada rasa bersalah yang terus menghantuiku ketika harus kembali meninggalkan ayah sendirian di rumah. Namun, beliau justru meyakinkanku untuk tetap melanjutkan pekerjaan dan perjuangan yang sebelumnya juga dijalani oleh ibu di dunia akademik.

Perlahan, aku mulai mencoba menerima keadaan, meskipun rasa kehilangan itu masih datang dalam bentuk yang berbeda-beda setiap harinya.

Akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di Jogja. Dulu kota ini selalu terasa menyenangkan bagiku, tetapi setelah ibu pergi, ada perasaan hampa yang sulit dijelaskan setiap kali kembali ke sini.

Di tengah suasana itu, aku mulai kembali mengurus persiapan keberangkatan ke Bangkok, termasuk memperpanjang paspor dan menyiapkan berbagai administrasi perjalanan. Untuk pertama kalinya, aku memegang paspor yang akhirnya selesai diperbarui. Rasanya campur aduk antara senang, gugup, dan sedih.

Hari keberangkatan akhirnya tiba. Kami harus berangkat menuju bandara dini hari, ketika sebagian besar orang masih tertidur. Di sepanjang perjalanan menuju NYIA, aku hanya banyak diam sambil memandangi jalanan yang masih gelap.

Semua proses keberangkatan berjalan lancar, mulai dari check-in, pemeriksaan bagasi, hingga menunggu di ruang tunggu keberangkatan. Namun, kali itu rasanya berbeda. Ada seseorang yang biasanya mendoakan perjalanan dan kepulanganku, tetapi kini sudah tidak bisa kutemui lagi.

Transit di Soekarno Hatta menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan bagiku. Di sela menunggu penerbangan menuju Thailand, kami sempat makan bersama di area bandara. Aku masih ingat bagaimana saat itu aku mencoba menikmati semuanya dengan perlahan, seolah ingin meyakinkan diri bahwa hidup memang tetap berjalan meski kehilangan masih terasa begitu dekat.

>> Bangkok terasa beda

Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Thailand, aku beberapa kali masih sulit percaya bahwa akhirnya bisa berada di pesawat internasional tipe Boeing 777 yang sebelumnya hanya kulihat melalui YouTube. Dulu, saat masih menjadi mahasiswa, aku sering membayangkan bagaimana rasanya bisa bekerja dan terlibat di lingkungan akademik tingkat regional seperti ini.

Dan perlahan aku mulai memahami bahwa beberapa mimpi memang membutuhkan waktu, doa, dan jalan yang tidak selalu mudah untuk akhirnya benar-benar terwujud.

Ketika pesawat mendarat di Bangkok tepat waktu, ada perasaan takjub yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar berada di negara yang sebelumnya hanya bisa kulihat lewat layar HP.

Namun, di tengah rasa kagum itu, ada satu perasaan lain yang diam-diam ikut hadir, keinginan untuk bisa menceritakan semua ini kepada ibu seperti biasanya.

Di sela kegiatan, aku mulai mencoba menjelajahi Bangkok bersama rekan kerja. Kami mencoba berbagai makanan khas Thailand, berjalan di pusat perbelanjaan, hingga sekadar membeli makanan di Seven Eleven seperti wisatawan pada umumnya. Hal-hal sederhana itu terasa menyenangkan, meskipun di beberapa momen aku tetap merasa ada ruang kosong yang sulit dijelaskan di dalam diri.

Centralworld Thailand kala itu

Centralworld Thailand kala itu

Pertemuan ASEAN dilaksanakan di Ministry of Public Health Thailand. Saat berada di sana, aku merasa kecil sekaligus bersyukur karena akhirnya bisa terlibat langsung dalam forum regional yang sebelumnya hanya kubayangkan saat masih menjadi mahasiswa.

Dari perjalanan ini, aku belajar banyak hal, mulai dari cara memfasilitasi pertemuan internasional, membangun jejaring lintas negara, hingga memahami bagaimana komunikasi profesional di tingkat regional dilakukan.

Pada akhirnya, aku merasa semua pengalaman ini mungkin tidak lepas dari doa-doa yang selama ini selalu dipanjatkan oleh ibu.

Pesan beliau juga masih terus teringat hingga sekarang:

Jadilah orang yang bermanfaat bagi sesama


메타데이터
post_id
0cdbfce1a44e
slug
allah-selalu-punya-cara-mempertemukan-dan-memisahkan-0cdbfce1a44e
url
https://medium.com/@gusti.rekto/allah-selalu-punya-cara-mempertemukan-dan-memisahkan-0cdbfce1a44e
canonical_url
https://medium.com/@gusti.rekto/allah-selalu-punya-cara-mempertemukan-dan-memisahkan-0cdbfce1a44e
author_url
https://medium.com/@gusti.rekto
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12