Kita Belum Duduk Empat Jam
Tentang anggaran yang besar, anak-anak yang tidak didengar, dan seorang kepala sekolah Jepang yang mengajarkan sesuatu yang tidak ada di…
Kita Belum Duduk Empat Jam
Tentang anggaran yang besar, anak-anak yang tidak didengar, dan seorang kepala sekolah Jepang yang mengajarkan sesuatu yang tidak ada di dokumen kebijakan mana pun.

Dokumentasi ilustrasi oleh Microsoft Copilot, 2026.
Ada sebuah buku yang terbit di Jepang tahun 1981. Judulnya Totto-chan: The Little Girl at the Window memoar masa kecil Tetsuko Kuroyanagi, seorang aktris dan presenter yang kelak menjadi salah satu perempuan paling dikenal di Asia. Buku itu menjadi salah satu buku terlaris dalam sejarah Jepang. Diterjemahkan ke puluhan bahasa. Dibaca oleh jutaan orang.
Tapi bukan karena ceritanya dramatis. Tidak ada tokoh jahat. Tidak ada plot twist. Tidak ada yang mati secara tragis di akhir.
Buku itu laris karena melakukan sesuatu yang sangat sederhana dan sangat langka: ia membuat pembacanya merasa dimengerti.
Di jantung cerita itu ada seorang kepala sekolah bernama Sosaku Kobayashi. Dan di hari pertama Totto-chan, gadis kecil yang baru saja diusir dari sekolah reguler karena dianggap terlalu berisik, terlalu hidup, terlalu banyak bertanya mendatangi sekolahnya yang aneh (ruang-ruang kelasnya adalah gerbong kereta tua yang sudah tidak lagi berjalan), Kobayashi melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kita temukan dalam manual tata kelola pendidikan mana pun:
Ia duduk. Dan mendengarkan.
Bukan lima menit. Bukan satu jam. Empat jam. Totto-chan berbicara tentang burung gereja, tentang kucing tetangga, tentang warna langit sebelum hujan. Kobayashi tidak menguap. Tidak melihat jam. Tidak menyela. Hanya mendengar sampai gadis kecil itu benar-benar kehabisan kata-kata.
Saya tidak bisa berhenti memikirkan empat jam itu.
Terutama ketika saya membaca bahwa tahun ini, Indonesia mengalokasikan Rp 335 triliun untuk anak-anak.
Rp 335 triliun adalah angka yang susah dibayangkan dengan cara biasa, jadi mari kita coba dengan cara lain: itu adalah uang yang mengalir sebesar Rp 10,6 juta setiap detiknya, siang dan malam, tujuh hari seminggu, selama setahun penuh.
Dan seluruhnya, dalam satu keputusan fiskal terbesar yang pernah dibuat untuk satu program tunggal dalam sejarah republik ini, diarahkan ke satu tujuan: makan siang.
Saya tidak ingin membahas apakah programnya baik atau buruk. Orang-orang yang jauh lebih pintar dari saya sudah berdebat soal itu di tempat-tempat yang lebih tepat.
Yang ingin saya tanyakan adalah sesuatu yang lebih mendasar:
Sebelum angka itu ditetapkan, berapa lama kita duduk dan benar-benar mendengarkan?
Kobayashi tidak mendirikan Tomoe Gakuen dengan anggaran besar. Ia mendirikannya dengan sebuah keyakinan yang kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa kebijakan, akan terdengar terlalu sederhana untuk masuk ke dokumen resmi mana pun: bahwa setiap anak yang datang kepadanya, terutama yang sudah ditolak oleh sistem lain menyimpan sesuatu yang baik di dalamnya. Sesuatu yang utuh. Yang hanya butuh tanah yang benar untuk tumbuh.
Dalam Islam, keyakinan itu punya nama: fitrah. Setiap manusia lahir dalam keadaan bersih, baik, siap dan lingkunganlah yang kemudian membentuk ke mana ia tumbuh. Kobayashi mungkin tidak pernah membaca hadis itu. Tapi ia hidup di dalamnya setiap hari, di antara gerbong-gerbong kereta tuanya.
Yang menarik dari cara Kobayashi mendidik bukan metodenya, meski metodenya revolusioner. Yang menarik adalah urutannya. Ia mendengar dulu. Baru kemudian memutuskan. Ia tidak datang dengan program yang sudah jadi, lalu mencari anak-anak yang cocok untuk dimasukkan ke dalamnya. Ia datang dengan telinga yang terbuka, dan membiarkan apa yang ia dengar membentuk cara ia mengajar.
Urutan itu terdengar sepele. Tapi justru di sana letak segalanya.
Ketika saya membaca bahwa di tahun yang sama Rp 335 triliun dialokasikan untuk makan siang, anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga dipangkas lebih dari separuhnya dan bahwa Pra Popnas 2026 dibatalkan karena tidak ada dana, saya langsung memikirkan Kobayashi.
Bukan karena saya ingin membandingkan angka. Tapi karena pembatalan Pra Popnas berarti ada ribuan pelajar atlet dari seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua, dari keluarga yang tidak punya koneksi ke mana-mana selain bakat dan kerja keras, kehilangan satu-satunya pintu resmi untuk membuktikan diri. Mereka tidak akan muncul di berita. Nama-nama mereka tidak akan pernah kita tahu. Karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk ada.
Kobayashi punya kebiasaan yang sederhana: ia menulis setiap pertanyaan yang diajukan anak-anak di buku catatannya. Bukan untuk dijawab saat itu juga. Tapi karena ia percaya bahwa pertanyaan anak-anak adalah data paling jujur tentang apa yang mereka butuhkan.
Saya bertanya-tanya: buku catatan seperti apa yang kita miliki untuk anak-anak Indonesia? Data apa yang kita kumpulkan sebelum memutuskan bahwa yang paling mereka butuhkan adalah makan siang?
Ada perbedaan yang halus tapi penting antara dua jenis perhatian.
Yang pertama adalah perhatian yang datang dengan jawaban yang sudah disiapkan. Ia melihat masalah, mencocokkannya dengan solusi yang tersedia, lalu mengeksekusi dengan skala yang sebesar mungkin. Niatnya baik. Efisiensinya bisa diukur. Hasilnya bisa difoto dan dilaporkan.
Yang kedua adalah perhatian yang datang dengan tangan kosong. Ia duduk, mendengar, dan membiarkan apa yang didengarnya mengubah cara ia berpikir tentang solusi. Ia lebih lambat. Lebih sulit diukur. Dan hampir tidak pernah masuk ke dalam press release.
Kobayashi mengajarkan tarbiyah, pendidikan yang membentuk manusia melalui hubungan nyata, pengalaman sehari-hari, dan kepercayaan yang diberikan lebih dulu sebelum diminta. Sementara itu, kalori hanyalah ta’lim: sesuatu yang penting untuk tubuh, tetapi tidak cukup untuk jiwa.
Anak yang kenyang namun tidak pernah didengar bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak layak diperhatikan. Pendidikan sejati bukan hanya soal memberi makan, melainkan juga memberi makna.
Di akhir cerita Totto-chan, Tomoe Gakuen terbakar. Pesawat pengebom datang di masa perang, dan gerbong-gerbong kereta tua yang menjadi sekolah itu hangus habis. Kobayashi berdiri di sana, memandangi api, dan ini yang Tetsuko Kuroyanagi ingat seumur hidupnya, ia tersenyum.
Bukan senyum yang tidak peduli. Bukan senyum orang yang sudah menyerah.
Senyum orang yang tahu bahwa yang ia bangun tidak ada di dalam gerbong itu.
Nilai yang dibangun Kobayashi tidak berhenti di gerbong kereta itu. Ia hidup di dalam Totto-chan, yang tumbuh menjadi perempuan dengan keyakinan bahwa dirinya berharga bukan karena sempurna, tetapi karena pernah ada seseorang yang rela duduk berjam-jam hanya untuk mendengarkannya.
Nilai itu juga tertanam pada setiap anak Tomoe, yang mungkin untuk pertama kalinya merasakan bahwa keunikan mereka bukanlah cacat yang harus disembunyikan, melainkan bagian dari diri yang layak dihargai.
Api bisa membakar gerbong. Ia tidak bisa membakar rasa percaya yang sudah berakar.
Saya tidak sedang berargumen bahwa Rp 335 triliun seharusnya dialokasikan untuk hal lain. Mungkin iya, mungkin tidak, itu percakapan yang lebih panjang dan lebih rumit dari yang bisa saya selesaikan di sini.
Yang ingin saya katakan adalah ini:
Kebijakan yang lahir dari mendengar akan terasa berbeda dari kebijakan yang lahir dari asumsi, meski anggarannya sama besar, meski niatnya sama baik. Yang satu tumbuh dari dalam ke luar. Yang satu lagi dipasang dari luar ke dalam. Dan anak-anak, dengan kepekaan mereka yang jujur, biasanya bisa merasakan perbedaan itu.
Kobayashi tidak berhasil karena punya gerbong kereta yang unik atau kurikulum yang berbeda. Ia berhasil karena anak-anak yang datang kepadanya merasakan satu hal sederhana namun mendalam: mereka benar-benar diperhatikan.
Bagi anak-anak, perhatian itu lebih berharga daripada fasilitas atau metode. Mereka tahu, meski sulit dijelaskan dengan kata-kata, bahwa ada seseorang yang sungguh peduli pada keberadaan mereka.
Bukan sebagai penerima manfaat. Bukan sebagai angka dalam laporan. Sebagai manusia yang utuh, yang membawa fitrah-nya masing-masing dan yang layak mendapat seseorang yang mau duduk cukup lama untuk menemukannya.
Empat jam. Itu yang Kobayashi berikan kepada satu anak.
Kita punya Rp 335 triliun untuk jutaan anak.
Pertanyaannya bukan apakah uang itu cukup.
Pertanyaannya adalah: sudahkah kita duduk cukup lama untuk tahu apa yang sebenarnya harus kita lakukan dengannya?
Tags: pendidikan kebijakan publik APBN 2026 MBG Totto-chan Indonesia refleksi
메타데이터
- post_id
- 0ce302c618bb
- slug
- kita-belum-duduk-empat-jam-0ce302c618bb
- url
- https://medium.com/@agro_writes/kita-belum-duduk-empat-jam-0ce302c618bb
- canonical_url
- https://medium.com/@agro_writes/kita-belum-duduk-empat-jam-0ce302c618bb
- author_url
- https://medium.com/@agro_writes
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 08:54:12