Dari Utang ke Nol
#992: Jejak Panjang Angka dalam Peradaban
Saintek
Dari Utang ke Nol
#992: Jejak Panjang Angka dalam Peradaban
Ilustrasi: Lia Bekyan/Unsplash
Manusia merasa perlu mengembangkan tulisan untuk mencatat hasil panen, pajak, dan … utang. Di Mesopotamia, sekitar lima ribu tahun lalu, bangsa Sumeria membuat tablet tanah liat berisi jumlah gandum dan ternak yang dipinjamkan atau dipungut. Sebelum ada tulisan penuh, mereka bahkan memakai token kecil dari tanah liat sebagai tanda transaksi.
🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.
Dari fungsi praktis itu, angka berkembang di berbagai belahan dunia. Rakyat Mesir Kuno memakai hieroglif untuk menghitung panen dan pajak, penduduk Babilonia menekan tanda pada tanah liat untuk menyusun perhitungan berbasis 60, dan bangsa Maya merancang titik, garis, serta lambang cangkang sebagai nol. Semua peradaban menemukan cara khas untuk menata bilangan.
Perjalanan angka tidak tunggal, melainkan paralel. Di satu sisi, bangsa Romawi memakai huruf untuk mencatat angka tanpa mengenal nol. Di sisi lain, masyarakat Inka yang tidak memiliki tulisan mengikat simpul pada tali quipu untuk mencatat jumlah jagung atau tentara. Setiap sistem lahir dari kebutuhan, lingkungan, dan teknologi yang tersedia.
Cara kita menulis angka hari ini tidak lahir seketika. Ia merupakan hasil perjalanan panjang dari India, diadopsi matematikawan Arab, lalu menyebar ke Eropa bersama arus perdagangan. Sambil melepas lelah sehabis pulang kantor, saya menikmati penjelasan tentang sejarah angka itu di video “*Where Did Our Numbers Come From?*” dari RobWords, salah satu kanal YouTube favorit saya.
[embed]
Keunggulan sistem Hindu–Arab terletak pada kesederhanaan. Hanya dengan sepuluh lambang, ditambah nol sebagai penanda ketiadaan, kita bisa menulis bilangan sebesar apa pun. Bandingkan dengan Romawi yang harus menyusun rangkaian huruf panjang atau Mesir yang mengulang lambang berkali-kali. Efisiensi ini membuat sistem nilai tempat jauh lebih unggul.
Aspek budaya juga mendapat sorotan dalam video RobWords. Orang Tiongkok mengenal gestur khusus untuk enam hingga sepuluh dengan satu tangan. Sementara itu, masyarakat India menghitung lima jari berulang sambil menandai kelipatan di tangan lain. Keunikan tersebut menegaskan bahwa angka berakar pada tradisi, bukan hanya pada hitungan rasional.
Angka modern adalah warisan kolektif umat manusia. Ia lahir dari kebutuhan praktis, disaring oleh percobaan berabad-abad, lalu dimenangkan oleh sistem yang paling efisien. Dari utang di ladang gandum hingga rumus fisika kuantum, jejaknya menunjukkan bahwa matematika tidak pernah jauh dari kehidupan. Bagaimana cara kita menghitung dengan jari—mulai dari jempol atau telunjuk—menjadi jejak kecil dari sejarah panjang itu.
Kenangan
Tahun lalu, saya memberikan pelatihan penulisan wara (copywriting) bagi 30 pegawai Subdit PSIE, DJPb Kemenkeu, yang mengelola contact center HAI-DJPb. Sejak awal saya diberi tahu bahwa sebagian peserta mungkin tampak tidak menyimak karena harus tetap melayani telepon, chat, media sosial, dan surel. Pengalaman itu membuka mata bahwa layanan pelanggan memang tidak bisa dijeda.
Dua tahun lalu, saya menulis tentang Mas Puthut EA yang berbagi kisah perjalanan kepenulisannya dalam gelar wicara Kinara. Sejak remaja ia rajin menulis, lalu menembus Kompas pada 1999 dan terus berkarya dalam fiksi maupun nonfiksi. Puthut mendirikan Mojok.co serta menghasilkan banyak esai dan buku. Ia menekankan pentingnya membaca dan menyelesaikan tulisan serta merasa menulis melatih menstrukturkan pikiran.
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- 0cebc12c47d3
- slug
- dari-utang-ke-nol-0cebc12c47d3
- url
- https://medium.com/@ivanlanin/dari-utang-ke-nol-0cebc12c47d3
- canonical_url
- https://medium.com/@ivanlanin/dari-utang-ke-nol-0cebc12c47d3
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 13:29:15