BIRTH STORY 1. Perjodohan
Anne tidak pernah mengiyakan secara gamplang mengenai pernikahan ini. Perempuan itu hanya menuruti permintaan sang ayah demi sebuah harga…
BIRTH STORY 1. Perjodohan

Anne tidak pernah mengiyakan secara gamplang mengenai pernikahan ini. Perempuan itu hanya menuruti permintaan sang ayah demi sebuah harga yang harus dibayar. Cita-citanya.
"Kamu bisa lanjut kuliah dan kerja di Jepang sesuai yang kamu mau, tapi nikah dulu."
Tanpa sempat mengiyakan, tiba-tiba Anne sudah berada di hari pernikahannya. Berdiri di altar menghadap suaminya. Iya, suami! Anne sudah sah menikah dengan anak sahabat papanya.
Tian. Laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Anne tidak mengenalnya, tetapi mereka sudah sah menjadi suami istri. Sudah berada di dalam satu kamar hotel yang sama, yang sudah dihias seperti kamar pengantin yang berbulan madu.
Ah! Ini tidak benar. Anne ingin melakukan apa pun yang seharusnya dilakukan pengantin baru. Tidak membuka kado, tidak menghitung isi amplop, tidak pula ... malam pertama.
Sayangnya, itu semua menguap bersamaan kesadaran Anne dan Tian yang sama-sama menurun. Keduanya tiba-tiba seperti saling tertarik satu sama lain, bukan karena cinta tapi karena ada sesuatu yang harus dilampiaskan dan hanya bisa membantu satu sama lain.
"Ada yang masukin obat perangsang ke minuman kita tadi," kata Tian.
Anne tidak menjawab, sejujurnya malas berkomunikasi dengan Tian tapi tubuhnya berkata lain. Malah Anne duluan yang memulai, perempuan itu yang menarik tubuh kekar Tian dengan kedua tangan, membanting diri ke kasur disusul tubuh Tian di atasnya.
Anne juga yang pertama kali menyentuh bibir Tian dengan bibirnya, memainkan lidah Tian dengan lidahnya, baru setelah itu Tian tidak mau kalah dengan mulai meremas buah dada istrinya. Berakhir melakukan hal yang sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan pengantin baru, malam pertama.
Melalui malam pertama yang panas berdua bukan berarti Tian dan Anne saling menerima sebagai suami istri. Itu adalah pertama dan terakhir kali mereka melakukannya, bahkan setelah berpindah ke Jepang, mereka tidak melakukannya lagi. Mereka hidup bukan seperti suami istri, lebih mirip dua orang yang menyewa satu rumah bersama demi menghemat biaya hidup. Tidak banyak bicara satu sama lain, kamar terpisah, Anne kuliah sementara itu Tian bekerja. Tian memang sudah lama bekerja di negara ini, kemarin pulang ke kampung halaman hanya untuk menuruti permintaan sang ibu yang aneh. Memberinya beban baru di negara orang seperti ini. Untungnya Anne tipe perempuan mandiri yang bisa melakukan semuanya sendiri, mereka hanya perlu berbagi tempat tinggal, selebihnya tidak saling kenal.
Hingga suatu pagi, Anne menghentikan langkah Tian yang akan berangkat bekerja. Membuat laki-laki tersebut menaikkan alisnya. "Kenapa?"
"Aku hamil," kata Anne menyodorkan alat tes kehamilan yang menunjukkan tanda positif.
Tian menerimanya, melihat sekilas lalu mengangguk. "Oke. Cuti kuliah!"
"Nggak bisa gitu dong!" protes Anne. Ia baru saja memulai semester baru.
"Oke. Selesaikan semester ini, setelahnya ambil cuti," kata Tian lagi, memberikan keringanan.
Anne tidak bisa membantah lagi karena ini lebih baik dibandingkan harus cuti dari sekarang. Pun, Anne sudah tidak bisa membalas ucapan Tian karena morning sickness menyerang. Anne kira, Tian sudah berlalu keluar apartemen dan berangkat bekerja, ternyata laki-laki itu menyusulnya, membantu mengurut tengkuk hingga memberinya air lemon untuk meredakan mual.
"Jangan ke kampus kalau masih ngerasa sakit," kata Tian sebelum benar-benar keluar dari apartemen. Melanjutkan tujuan utamanya yang tertunda untuk bekerja.
Tidak biasanya Anne menurut pada Tian, kali ini bumil itu stay di apartemen karena merasa tidak memungkinkan untuk keluar. Tanpa keduanya sadari, mulai ada komunikasi yang terjalin secara perlahan dikarenakan kehamilan Anne.
Tian tidak secuek biasanya. Jika dulu keluar kamar hanya untuk makan dan minum, kini Tian lebih sering di luar kamar seperti memastikan kalau Anne baik-baik saja. Tian akan dengan cepat masuk ke kamar Anne begitu mendengar istrinya muntah-muntah. Tian juga rajin makan di rumah bersama Anne. Mereka yang biasa membeli makanan di luar untuk diri masing-masing, kini Tian mau masak demi menjamin kebersihan makanan yang dikonsumsi Anne. Anne juga mengurangi makan sembarangan karena merasa bertanggung jawab atas tubuh lain di dalam tubuhnya.
Perkembangan itu naik pesat seiring bertambahnya usia kandungan Anne. Mereka sudah seperti suami istri sungguhan yang rajin check up kandungan setiap bulan berdua, mendaftar kelas yoga ibu hamil, dan mengikuti seminar parenting.
Hingga tak terasa, kandungan Anne sudah memasuki minggu ke-40. Anne merasakan kontraksi pertamanya ketika tengah membuat minuman lemon yang menjadi kesukaannya sejak pertama kali Tian berikan dulu.
"Aku mulai kontraksi," kata Anne menelepon Tian. Anne ingat kalau Tian selalu meminta dihubungi atas segala hal yang dirasakannya, termasuk ngidam aneh-aneh di trimester pertama.
"Aku pulang sekarang."
Anne menggunakan waktunya untuk berjalan mondar-mandir sembari tangannya menyangga pinggang yang sudah seperti akan patah karena menyangga beban berat di dalam perutnya. Anne masih santai karena kontraksinya masih satu kali ia rasakan. Masih banyak waktu hingga ia masuk ke fase persalinan aktif.
Tian datang bersama midwife yang akan membantu persalinan Anne. Persalinan itu akan dilakukan di apartemen berdasarkan kesepakatan yang sudah didiskusikan sebelumnya.
"Masih pembukaan dua," ucap midwife yang sedang melepas sarung tangan lateks untuk dibuang ke tempat sampah.
Anne mengangguk, mengulurkan tangannya pada Tian guna meminta berdiri. Anne tidak mau hanya berbaring saja dalam menunggu pembukaan, sebab itu akan menjadi sangat lama. Dengan bantuan Tian, Anne turun dari tempat tidur, berjalan mengelilingi kamar, keluar sebentar ke ruang televisi, ke dapur juga, lalu mengulanginya lagi. Repeat.
Tian membantu mengulurkan tangannya sebagai pegangan Anne. Sesekali membiarkan perempuan itu berjalan sendiri ketika Anne memintanya. Perempuan itu memang sudah disetel selalu ingin mandiri, meski sudah ada Tian yang siap pasang badan.
"Minum dulu," kata Tian menyodorkan botol berujung sedotan pada sang istri yang tengah menyangga tubuhnya menggunakan kedua tangan yang diletakkan di meja. Kepala Anne mendongak, akan menerima menggunakan tangan tapi Tian lebih dulu menyodorkan ujung sedotan ke depan mulutnya.
"Biarin aku bantu kamu," kata Tian.
Anne mengangguk, menerima bantuan dari Tian. Laki-laki itu juga membantunya untuk melakukan gerakan-gerakan yoga guna mempercepat proses pembukaan juga merilekskan tubuhnya.
Dari pembukaan dua naik ke pembukaan empat setelah Anne menyelesaikan beberapa gerakan yoga. Kini, Anne kembali berjalan lebih pelan dari sebelumnya karena merasa ada yang mengganjal di bagian bawah perut, kepala bayi sudah turun.
Tian kembali duduk memperhatikan Anne dari sofa, akan menghampiri dan membantu ketika tubuh perempuan itu limbung dan akan terjatuh. Tian ingin terus ada di dekat Anne, akan tetapi seperti tidak mendapatkan sambutan dari sang istri. Perempuan muda yang sebentar lagi akan melahirkan anak hasil malam pertama itu selalu ingin melakukan semuanya sendiri, padahal Tian juga ingin dilibatkan. Yang akan lahir bukan hanya anak Anne saja kan? Anak Tian juga kan?
"Aku bantuin," kata Tian begitu Anne sedang berusaha melakukan gerakan jongkok dan berdiri sendiri dengan menopang kedua tangan pada paha.
Karena Tian menawarkan diri, Anne memindahkan tangannya ke lengan sang suami, menumpukan berat badannya pada Tian. Ini terasa lebih ringan sebab tidak menahan berat badannya sendirian.
Dari yang awalnya membantu menopang berat badan Anne, Tian mulai membantu berjalan lagi, memijat punggung dan pinggang Anne saat perempuan itu mengeluhkan pegal di bagian itu. Kini, Tian sudah mulai menerima sambutan, Anne sudah mau menggenggam tangannya ketika kontraksi, mau menempelkan kepalanya pada dadanya juga ketika menahan ringisan. Sampai saat ini pembukaan Anne sudah di angka tujuh. Sudah semakin dekat.
"Kerasa banget turunnya," keluh Anne berhenti bergerak dan mulai menekan kepalanya di dada Tian.
Kalau sudah seperti itu, Tian mulai mengusap-usap punggung Anne, berusaha memberikan sedikit ketenangan. "Mau baring?"
"Sebentar!" Anne semakin meremas lengan Tian kuat-kuat sembari mengerang begitu merasakan sesuatu akan keluar dari lubangnya. "Eungh ... Ah!"
Prak.
Ketuban Anne pecah dan mengucur deras di sela kakinya. Tubuh Anne terjingkat karena ada rasa menyengat di bagian bawah perutnya. "Ah! Huh ... huh ...."
"Mau berbaring?" tanya midwife yang kini sedang mengelap kaki Anne dan menaruh kain di atas air ketuban yang menggenang.
Anne menggelengkan kepala. "Berdiri."
"Mau berdiri saja? Boleh. Cek pembukaan dulu yaa." Midwife itu mulai mengenakan sarung tangan, mengecek lagi meski Anne terus meringis tanpa henti.
"Cepetan! Udah mau dorong!" protes Anne yang sudah tidak tahan menahan dorongan dari dalam perutnya begitu ketuban sudah pecah.
"Sebentar yaa. Tahan sebentar, jangan mengejan dulu!"
"Udah nggak tahan, Huh ... mau ngejan! Eungh ...." Anne mengejan untuk pertama kalinya karena sudah tidak bisa menahannya lagi. Gravitasi benar-benar membantu membuat gerakan kepala bayi lebih cepat turun dan terasa ingin segera mendobrak jalan lahirnya.
"Sudah. Sudah pembukaan lengkap, sudah boleh mendorong. tarik napas dalam-dalam, hembuskan, tarik napas lagi, tahan, lalu ... dorong!"
Dengan berpegangan pada kedua lengan besar Tian, Anne memercayakan tubuhnya ditopang oleh laki-laki tersebut, Anne mengikuti intruksi. Mendorong sesuai hitungan, tidak asal-asalan seperti sebelumnya.
"Euungh! eunggh Huh ... huh ... eeennnnngh! Uh, hah." Anne mengatur napasnya setelah melakukan dua kali dorongan panjang untuk satu kontraksi.
"Bagus. Dorongnya pinter, terus begitu yaa," ujar sang midwife yang kini berjongkok di depan Anne.
Anne mendorong lagi begitu kontraksi datang. Mencengkeram lengan Tian lebih kuat karena rasa sakitnya juga meningkat. Mulas sekali.
Tian pun sudah pasrah, membiarkan dirinya diapakan saja oleh Anne. Sebab, itu yang ia mau sejak tadi, dirinya dilibatkan dalam proses kelahiran bayi dalam kandungan Anne.
"Euunngg ahk! Eungg ....."
"Iyaa, bagus. Terus begitu, tubuhnya sedikit diturunin waktu ngejan," intruksi midwife sembari mengusap pinggang Anne dengan gerakan melingkar.
"Mules banget uuugh!" keluh Anne di sela-sela ejanannya sembari menurunkan tubuh, membuatnya semakin bertumpu pada Tian yang tidak berkata apa-apa sejak tadi.
"Bisa. Yuk! Kepalanya udah mulai turun, berasa?"
Anne mengangguk cukup brutal karena ia memang merasakan gerakan turun dari bayinya. Pergerakan yang cukup kasar, seperti ingin mendobrak jalur lahirnya saat itu juga. "Di ujung," katanya.
"Eungh! Eungh! Eunghhh!"
"Mulai keliatan rambutnya, dorong terus!"
"Hah ... hah ... panas! Eungh!" Lagi, Anne mengejan entah yang keberapa. Yang pasti, semakin mengejan, Anne merasakan semakin sakit, meski sama saja semakin dekat pula untuk bisa bertemu buah hatinya.
Tian mengusap kening Anne yang sudah basah oleh keringat, anak-anak rambut pun sampai ikutan menempel di muka. Kalau saja tangannya sedang tidak dijadikan tumpuan, ia akan bantu ikat rambut Anne agar tidak mengganggu. Kelihatannya juga gerah sekali meski pendingin ruangan sudah dinyalakan.
"Sakit," rengek Anne mendongak.
Ini pertama kalinya Anne mengeluh pada Tian secara langsung dengan nada semanja itu. Ah! Dada Tian menghangat di saat yang tidak tepat. "Bisa, kamu pasti bisa. Sedikit lagi," katanya memberikan dukungan secara ucapan untuk pertama kali.
"Nggak bisa, sakit banget," rengek Anne. Perempuan muda itu melewatkan satu kontraksi karena merasa tidak siap dengan proses selanjutnya. Anne tahu, setelah ini adalah crowning dan ring of fire. Fase tersakitnya persalinan.
"Bisa, demi anak kita," kata Tian.
Anak kita? Ini pertama kali juga Tian mengucapkan secara langsung. Biasanya hanya dalam hati.
Anne yang mendengar itu pun seperti mulai mendapatkan kekuatannya kembali. Berdirinya ditegakkan begitu kontraksi lain datang lagi, memindahkan tangannya menjadi mengalung pada leher Tian lalu mulai menurunkan tubuh ketika mendorong. "Eungh! Tian Unghh ...."
"Terus! Jangan berhenti, dahinya mulai kelihatan!"
Anne tahu! Tanpa diberitahu juga Anne bisa merasakannya. Oleh karena itu juga Anne berhenti, sakitnya benar-benar seperti terbakar, seperti ada benda besar yang menekan area bawahnya, memaksa membuka tanpa pernah Anne siap dengan rasa sakitnya.
"Ayok! Dilanjut, sama aku!" bisik Tian. Ia mengusap punggung Anne ke atas dan ke bawah. Dengan posisi Anne yang mengalungkan tangan pada lehernya, Tian bisa mengecup kening Anne meski tanpa izin.
"Aaaah! Eungggh! Sakit banget .... Eungg!" Meski mengeluh, Anne tidak berhenti mengejan sampai-sampai Tian merasakan tubuh Anne gemetar dalam ejanannya kali ini. Tubuh Anne juga semakin merendah, sudah tidak kuat berdiri tegak lagi.
"Astaga! Panas! Eunggh!" Anne menggerak-gerakkan kakinya begitu merasakan sakit yang tidak bisa ditoleransi ketika kepala bayi tengah keluar separuh.
"Tahan! Ngejan lagi, ayok! Pendek-pendek aja, Ngh! Ngh! gitu!" intruksi midwife agar Anne tidak berteriak lagi.
Meski suara-suara yang masuk sudah terasa mendengung, Anne berusaha fokus mendengarkan. Mengejan pelan seperti yang diperintahkan. "Ngh! Ngh! Ngh!"
"Ngh!"
"Ngh!"
"Pinter, teruskan!"
"Ngh! Ngh!" Anne mulai tidak sabaran karena ejanan pelan ini sama saja membuat kepala bayi keluar dengan semakin lambat. Dengan bandel, Anne kembali mengejan panjang, sudah tidak bisa ditahan juga. "eeeeeuuunggggghh ...."
"Pendek-pendek, biar nggak robek, pelan-pelan."
Tidak mendengarkan, Anne semakin merendahkan tubuhnya hingga sekarang dirinya dalam posisi jongkok dengan seluruh tubuh yang gemetar karena Anne memaksa mengejan keras. "Euunggh! Nggak tahan!"
Sang midwife menahan sekitar jalan lahir Anne agar tidak robek sembari memperingati meski sudah tidak bisa dikontrol lagi. Yang bisa dilakukan adalah meminimalisir robekan, apalagi jalan lahir Anne termasuk kaku. Seperti jarang ... dijenguk.
"Euuuungggghh! Tian! Eunggh! KELUAR Nghhh. Aaaaaah!"
Plop!
Tubuh Anne bergetar hebat hingga kemudian bergelinjang begitu kepala bayi berhasil keluar dari lubangnya bersamaan dengan semburan ketuban dan rembesan darah. Anne langsung menjatuhkan lututnya hingga menyentuh lantai yang sudah dialasi. Napasnya memburu, sangat tidak beraturan setelah mengejan tanpa henti.
Robek. Anne tahu itu karena ia merasakannya, pun begitu menunduk, ada darah yang menetes.
"Nggak apa-apa. Nggak tahan sama sakitnya ya?" kata midwife yang dibandingkan memarahi, lebih memilih memberikan dukungan.
Anne mengangguk. "Nggak kuat banget. Dateng lagi .... ngh!"
Anne sudah tidak mau dan tidak bisa berdiri lagi. Dengan posisi ini, Tian ikut berlutut di depannya. Tengah mengusap pelipis dan lehernya yang berkeringat hebat. "Kamu hebat, lanjutin yaa. Sebentar lagi."
Tanpa Tian ucapkan pun Anne memang mau melanjutkan mengejan. Tidak bisa ditahan juga.
"Kali ini diusahakan lebih perlahan ya, agar robeknya tidak semakin lebar," kata midwife sibuk membersihkan kepala bayi dan mengganti kain yang sudah kotor dengan air ketuban dan darah.
Entah Anne sanggup atau tidak, ia tidak mengangguk atau pun menggeleng. Hanya menundukkan kepala karena ingin melihat bagaimana tubuh bayinya keluar meski tidak bisa terlihat dengan jelas. Anne mengikuti kontraksinya, mendorong dengan perlahan.
"Ngh!"
"Ngh!"
"Nggak bisa kalo pelan, ngh!" protes Anne setelah beberapa kali ejanan tidak berhasil mengeluarkan tubuh bayinya.
"Bisa. Bisa. Dibimbing sama aku yaa. Kita lakuin sama-sama," kata Tian. Laki-laki itu memeluk Anne, mengatur napas bersama lalu menuntun Anne untuk mendorong lebih perlahan. Tian juga takut kalau robekan Anne terlalu lebar, mereka di rumah, bukan di rumah sakit.
"Ngh! Ngh! bahunyaaa ...." Anne merasakan pergerakan bahu anaknya, membuatnya ingin langsung mendorong keras yang kali ini ternyata bisa dikendalikan oleh Tian. Anne menurut pada Tian.
"Pelan."
"Nggh! Ini pelan, ngh!"
"Pinter, lagi!"
"Ngh!"
"Ngh!"
"Agak panjang, mau keluar!" nego Anne. Tangannya mencengkeram punggung Tian, pelampiasan karena tidak boleh mengejan keras-keras.
"Boleh, tapi pelan," balas Tian.
Anne mengejan lebih lama dan panjang, merasakan bahu kanan keluar disusul bahu kiri. Anne menjerit, perih sekali. Seperti didobrak dua kali dengan gerakan yang lambat. Gemetarnya sampai terasa sekali di badan Tian "AHHH!"
"ENNGGHH!" Anna mengejan untuk terakhir kali berjengit, mengeluarkan badan sang bayi, berteriak, ambruk, lalu hening.
Blush!
Tubuh bayi tergelincir ke tangan midwife. Diletakkan di atas handuk di lantai untuk dibersihkan. Tangisannya kuat, mengisi setiap sudut ruangan, menggantikan teriakan Anne yang sekarang dibantu duduk bersandar oleh Tian. Tian memangku Anne yang masih mengatur napas.
"Selamat, bayi kalian laki-laki." Anne dan Tian saling bertatapan, tersenyum satu sama lain untuk pertama kali.
"Kita rawat sama-sama yaa," bisik Tian.
Anne mengangguk, sembari menunggu tubuhnya ditangani, terutama bagian yang robek itu, ia mengobrol dengan Tian. "Kamu mau?"
"Tentu aja mau. Itu kan anak aku juga."
"Anak kita," ralat Anne.
Tian terkekeh, "Iya, anak kita."
Setelahnya Tian melumat bibir Anne, awalnya hanya mencium karena memberikan ucapan terima kasih atas perjuangan hebat istrinya, tapi berujung lumatan yang sudah berperasaan, yang sudah ada rasa cintanya.
.
.
.
메타데이터
- post_id
- 0cfcfb11b99d
- slug
- birth-story-1-perjodohan-0cfcfb11b99d
- url
- https://medium.com/@BluPink004/birth-story-1-perjodohan-0cfcfb11b99d
- canonical_url
- https://medium.com/@BluPink004/birth-story-1-perjodohan-0cfcfb11b99d
- author_url
- https://medium.com/@BluPink004
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-31 18:08:18