← Back to list

Kenapa Kita Bekerja Seharian?

Ada kesenangan menggunakan uang ketika Anda tahu uang itu akan “tumbuh lagi”. Akhir bulan gajian lagi, kan? Mentalitas konsumerisme…

Penulis Lima in Komunitas Blogger M · 2025-06-30 06:16 · 18 claps · 4.6 min read
#bahasa-indonesia #produktivitas #refleksi #komunitas-blogger-medium
Open on Medium ↗

Kenapa Kita Bekerja Seharian?

Ada kesenangan menggunakan uang ketika Anda tahu uang itu akan “tumbuh lagi”. Akhir bulan gajian lagi, kan? Mentalitas konsumerisme terjadi karena gaya hidup kita sudah diatur pihak lain.

Photo by LYCS Architecture on Unsplash

Photo by LYCS Architecture on Unsplash

“Jangan kayak orang susah, akhir bulan juga gajian.” Begitu ucapan teman senior di kantor ketika saya menolak ajakan nongkrong atau belanja sesuatu dengan alasan tidak punya duit. Ucapan itu berhasil menyenangkan saya saat itu.

Pekerja kantoran sering ceroboh dalam mengelola uang. Mereka terlalu terburu-buru mengeluarkan dompet. Ini bukan soal pelit atau bodoh, tapi karena kondisi dan gaya hidup. Orang yang baru bekerja merasa memiliki martabat (lagi) setelah tidak bekerja. Saya memiliki gaji sekarang, saya merasa berhak belanja.

Ada kesenangan menggunakan uang ketika Anda tahu uang itu akan “tumbuh lagi”. Akhir bulan gajian lagi, kan? Mentalitas konsumerisme terjadi karena gaya hidup kita sudah diatur pihak lain.

Semua perusahaan di semua industri memiliki kepentingan pada gaya hidup manusia. Industri menginginkan masyarakat yang ceroboh dalam mengelola uang. Mereka membuat kebiasaan agar orang berbelanja yang tidak penting kapan pun mereka bisa. Mereka ingin kita membeli yang tidak kita butuh, kapan pun kita mau.

Perusahaan-perusahaan besar tidak menghasilkan miliaran rupiah hanya dengan mempromosikan produk mereka, tapi mereka menciptakan budaya baru dalam belanja dan membeli. Orang membeli lebih banyak dari yang mereka butuh. Sisi lain dari belanja adalah Anda mencoba mengusir tidak kepuasan tentang apa pun dengan uang.

Kita membeli barang untuk menghibur diri, untuk mengikuti gaya hidup orang lain, untuk memenuhi visi masa kecil tentang seperti apa kehidupan dewasa dan punya uang itu, untuk mem-posting status kita kepada dunia, dan untuk banyak alasan psikologis lain yang tidak ada hubungannya dengan manfaat produk tersebut. Berapa banyak barang di gudang di rumah Anda setahun terakhir?

Kenapa Seharian?

Photo by Queens on Unsplash

Photo by Queens on Unsplash

Memahami sifat belanja orang yang bekerja bisa dilihat dari sisi lama waktu yang dihabsikan untuk bekerja.

Dulu ketika masih bekerja formal saya tidak pernah memikirkan kenapa saya bekerja seharian . Karena saya tidak mempunya waktu (untuk bertanya).

Manusia bekerja seharian (8 jam sehari, 9 to 5, atau apa pun istilahnya) berawal dari revolusi industri abad ke-19. Ya, kalau dipikir-pikir, baru sekitar 200 tahun kita hidup seperti ini. Sebelum revolusi industri manusia bekerja sesuka hati mereka.

Revolusi industri tidak hanya membentuk kota-kota, tapi juga membentuk jam biologis baru manusia. Kita bangun pukul 7, merasa lesu pukul 2, lalu menginginkan kopi pukul 4. Itu bukan sifat alami manusia, tapi industri yang menyuruh kita melakukan itu.

Manusia zaman dulu hanya mengenal lonceng gereja (church bell) sebagai pengatur waktu sakral; waktunya berdoa, berkumpul, dan sebagainya. Lonceng itu yang menyatukan masyarakat. Setelah revolusi industri, lonceng pabrik (zaman sekarang istilahnya jam masuk kantor) sebagai waktu yang sakral; waktunya bekerja, waktunya pulang, waktu rapat, dan lain-lain. From church bells to factory bells.

Kebiasaan ini melahirkan konsep Pavlovian Labor, yaitu pekerja yang dikondisikan untuk merespons secara otomatis isyarat eksternal — jam, bel, email, pengingat rapat, ritual kantor — tanpa perlu berpikir, memilih, atau bahkan merasakan. Ivan Pavlov seorang ahli fisiologi Rusia yang menemukan pengkondisian klasik awal tahun 1900-an.

Eksperimennya melibatkan anjing: setiap kali ia memberi anjing makan, ia membunyikan bel. Akhirnya, anjing-anjing mulai mengeluarkan air liur ketika mendengar suara bel, bahkan ketika tidak ada makanan yang diberikan.

Ini menunjukkan bahwa hewan (dan kemudian, manusia) dapat dilatih untuk merespons secara otomatis terhadap rangsangan netral — melalui asosiasi.

Hubungan Bekerja dengan Belanja

Para pekerja awal zaman revolusi industri dituntut bekerja selama 14 hingga 16 jam sehari. Bekerja selama 8 jam sehari itu sebuah peningkatan karena kemanusiaan. Maka, dibuatlah 8 jam. Istilah delapan jam sehari itu tidak ada hubungannya dengan riset atau sains, tapi dipilih karena dianggap mudah, sederhana, dan gampang diingat.

“8 hours for work, 8 hours for rest, 8 hours for what we will.” (8 jam bekerja, 8 jam istirahat, 8 jam melakukan apa yang kita mau.” Begitu ide awalnya.

Ketika bekerja kantoran dulu, saya sering sekali melakukan kegiatan yang tak berhubungan dengan pekerjaan. Mungkin banyak karyawan seperti itu. Saya bisa saja pulang setelah pekerjaan saya selesai, tapi peraturan kantor tidak mengakui itu. Saya harus menunggu jam bekerja selesai.

Bekerja delapan jam sehari terbukti melebihi kemampuan produktif alami rata-rata manusia. Studi mengatakan ‘deep work’ yang dilakukan manusia hanya 4–5 jam sehari. Di waktu inilah seseorang bisa fokus, kreatif, dan produktif.

Tapi kan masih ada rapat, membaca penugasan, membuka email, dan kegiatan lain yang berhubungan pekerjaan. Saya mengerti tambahan pekerjaan yang membantu kognitif itu, meski tidak menyita waktu 4 jam, apalagi di era informasi ketika rapat bisa di mana saja.

Bekerja 8 jam sehari bukan karena banyaknya pekerjaan, bukan karena tugas-tugas administrasi, tapi karena sistem dunia kerja mengatakan begitu. Sistem ini lebih mementingkan visibilitas ketimbang hasil. Bos lebih suka karyawannya hadir di kantor ketimbang karyawannya yang produktif. Sistem lebih suka aturan ketimbang wawasan.

Baiklah, bekerja 8 jam sudah diputuskan oleh sistem, Anda harus ikut aturan, tapi masih ada 16 jam. Kurangi 8 jam untuk istirahat, masih ada 8 jam yang tadi disebut untuk waktu ‘kita melakukan apa pun yang kita mau’. Ke mana perginya yang 8 jam itu? Inilah harga yang harus dibayar akibat kemajuan teknologi.

Ketika kecil, orang tua saya yang pegawai negeri sudah berada di rumah sekitar pukul 6. Setelah saat bekerja, saya tidak pernah tiba di rumah setelah pukul 7 malam. Artinya, 8 jam sisanya dipakai untuk perjalanan pulang pergi bekerja, dan berbagai kegiatan lain yang sering kali tidak berhubungan dengan ‘melakukan apa pun yang kita mau.”

Bekerja seharian membuat orang senang berbelanja. Semakin lama bekerja semakin sedikit waktu luang. Apa pun yang sifatnya terbatas memiliki nilai yang tinggi. Waktu luang yang terbatas berarti Anda harus membayar lebih banyak untuk kenyamanan, kepuasan, dan kelegaan lain. Hal itu membuat Anda terus menonton TV dan iklan. Waktu yang sedikit dipakai mencari kepuasan yang baru saja ditayangkan iklan di TV.

Sadar atau tidak, kita telah dituntun ke dalam budaya yang direkayasa untuk membuat kita lelah, haus akan kesenangan, bersedia membayar banyak untuk kenyamanan dan hiburan. Yang mengerikan, Anda dibuat agak tidak puas dengan hidup Anda sehingga terus menginginkan hal-hal yang tidak Anda miliki. Kita membeli karena selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan semakin mengerikan di era media sosial.

Ekonomi kapitalis dibangun dengan cara yang sangat diperhitungkan berdasarkan kepuasan, kecanduan, dan pengeluaran yang tidak perlu. Kita menghabiskan uang untuk menghibur diri, memberi penghargaan kepada diri, merayakan, memperbaiki masalah, meningkatkan status, dan menghilangkan kebosanan.

Budaya kerja delapan jam sehari adalah alat paling ampuh dunia bisnis untuk membuat orang tetap dalam kondisi tidak puas. Jawaban untuk setiap masalah hanya satu: membeli sesuatu.

Lain waktu, jika ada teman kantor mengajak jalan atau nongkrong, Anda menolak karena tidak punya, lalu dia mengatakan akhir bulan kan gajian lagi, pahamilah bahwa itu bukan soal uang; tapi soal tidak puas. Kita semua dibuat tidak puas.


메타데이터
post_id
0cfd1abdc1b7
slug
kenapa-kita-bekerja-seharian-0cfd1abdc1b7
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/kenapa-kita-bekerja-seharian-0cfd1abdc1b7
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/kenapa-kita-bekerja-seharian-0cfd1abdc1b7
author_url
https://medium.com/@5limabuku
status
ok
fetched_at
2026-07-19 05:40:23