Angin
“Beliau sedang galau.”
Angin

“Beliau sedang galau.”
Pesan dari sahabatku membuat tawa pelan menghiasi angin malam yang cukup dingin. Tapi seukuranku, angin ini malah membawa gerah dari dalam kulit yang pada dasarnya terlahir dari bara api. Mungkin.
Singkatnya. Tubuh ini mudah kepanasan.
Padahal angin disini cukup kencang, sayang sekali.
Kuketik jawaban dari pesan tadi, “Beraninya beliau galau ketika seseorang jelas sedang ga lau akan dirinya?”
Bisa dibilang dia ini pria yang kusukai. Manusia yang kulihat dari layar handphone karena tidak memiliki alasan untuk bertemu secara langsung, mungkin kita bisa bertemu — namun kecuali sahabatku yang merupakan teman lamanya datang kemari untuk sekedar silaturahmi.
Siapapun yang mengetahui orang itu pasti menanyakan hal yang sama, “Kenapa kamu menyukainya?”
Ya karena itu dia.
“Kenapa diantara banyaknya orang harus dia?”
Ya karena, itu dia.
“Padahal orang yang deket sama kamu banyak loh.”
Ya karena itu, dia.
“Padahal dia dingin banget.”
Ya, karena itu dia.
Mereka menanyakan hal yang bahkan akupun tidak bisa memikirkan alasannya.
Manusia ini tiba-tiba saja menarik mataku.
Sangat menarik sampai-sampai aku hanya bisa memikirkannya saja selama tiga tahun fase kelabilan remaja ke dewasa.
Padahal aku ini orang yang tidak normal.
Seperti yang sudah kukatakan kepada ‘seseorang’, aku ini tak punya perasaan. Drama konyol ditengah per ‘elakan mencari sebuah pelampiasan fana, aku ini hanya gadis biasa yang tak punya sense akan cinta.
Bagiku cinta itu hanya permen kapas yang meleleh ketika terkena air.
Karena cinta dari seseorang yang berkobar-kobar seperti tidak akan padam di awal pertemuan, suatu saat bisa saja luntur dan berubah.
Jadi memimpikan untuk dicintai adalah fana.
Tapi tetap saja aku suka dia.
Menyukai adalah hal berbeda.
Yang kusukai adalah caranya berjalan, ekspresinya, mata sayu hitam … ah mungkin kecokelatan? tak sempat kuperhatikan karena kesibukan menyembunyikan salah tingkah sialan ini.
Familiar yang kurasakan ini bisa saja karena mata sayu itu. Mirip dengan Izekiel Alphaeus, kesukaanku dalam satu komik. Atau bukan?
Pokoknya dia itu manusia yang kurasa sudah kukenal sangat lama.
Padahal kami bahkan belum lama bertemu, bahkan komunikasi ‘pun hanya sekali dua kali.
Caranya bicara sampai gerak-gerik, terlalu seperti fiksi.
Aku merasa sudah mengenalinya sangat lama.
Hanya saja ingatan kami dihapus.
Rasa gugup ini membuat tubuh yang mudah kepanasan, menjadi dingin dalam tahap tak wajar. Temperatur bertabrakan menghasilkan konsekuensi tidak adil.
Terlebih ketik berhadapan.
Padahal ekspresi sampai tindakanku biasa saja. Anehnya tubuh ini memainkan peran yang tak terduga.
“Awal lihat kamu, kupikir ‘ah, sepertinya asik orang ini kalau kujadikan teman’.” Hal itu keluar tanpa diminta. Menarik perhatian yang seharusnya tak perlu.
Aku bisa mendengar cacian dari sahabatku dibelakang sana walau hanya lewat tatapan.
Jelas saja mereka memaki karena kata ‘teman’ terus terucap diujung lidahku layaknya tempelat siap copy.
“He~ begitu, ya?”
Jawabannya tidak memuaskan.
“Iya.” Tapi dia memang sudah begini.
Memasang tembok yang sangat tinggi.
Kupeluk diriku sendiri dibawah suasana dingin ditengah tembok berujungkan lahar. Manusia mana yang berdiri diatas bunga matahari tanpa memetik kuaci? Hanya sekedar menginjak dan lewat untuk berseluncur pada daun.
Kusimak beberapa komentar.
“Kenapa tidak dekati saja?”
Tidak bisa.
“Kalau begitu terus bakal diambil orang loh.”
Lebih baik.
“Berhenti saja. Tidak bakal menoleh ke kamu itu orang.”
Sepakat.
“Sebenarnya dia suka orang lain.”
Wah selamat, ya.
Sekarang bersisa diri ini yang berbenah, menatapnya dari layar handphone setelah basah kuyub ditengah hujan badai — benar-benar menaikkan mood.
Cinta dari orang sepertinya pasti hany akan tertuju pada gadis seindah bunga Chrysan.
Aku sadar diri menjadi kaktus diposisi itu.
Setelah menanamkan lagi segala kemustahilan, statement “setidaknya dia bahagia.”
Dia malah menjabat tanganku.
Aku pun kembali goyah.
Yang kusukai adalah kekocakkan yang muncul alami dari dalam diriya walaupun sebenarnya itu lumrah.
Diawal pertemuan kami dia jelas bahkan tak melirikku sama sekali — namun akhir-akhir ini terkadang kusadari beliau terkadang mencari perhatian. Apakah benar atau diriku lah yang sedang besar kepala? Padahal sudah kubilang bahwa cinta darinya itu hanya akan ditujukan kepada sang Chrysan.
Ini menjadi reminder untukku untuk menghilangkan segala harapan.
Aku ini sudah intropeksi diri, jika memulai maka aku akan kecanduan sampai tuhan sendiri yang turun tangan.
Jadi …
Tuan yang hanya bisa kulihat lewat layar hanphone …
Terimakasih karena sudah memikat mata seorang penulis fanatik pelari dari kenyataan.
Sekarang waktunya kembali mengurus diri sendiri.
Karena angin disini tidak cukup dingin, aku memutuskan untuk meninggalkan tempat.
메타데이터
- post_id
- 0d7dd61e421f
- slug
- angin-0d7dd61e421f
- url
- https://medium.com/@Lasya_/angin-0d7dd61e421f
- canonical_url
- https://medium.com/@Lasya_/angin-0d7dd61e421f
- author_url
- https://medium.com/@Lasya_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36