← Back to list

Kenangan Hangat dari Ayah

Ayah, izinkan aku menulis beberapa kenangan yang Aku ingat saat bersamamu Ayah. Maukah Ayah membacanya?

Pouent Huiees · 2026-01-09 08:49 · 0 claps · 3.0 min read
#kenangan #hangat #dari-ayah
Open on Medium ↗

Kenangan Hangat dari Ayah

Ayah, izinkan aku menulis beberapa kenangan yang Aku ingat saat bersamamu Ayah. Maukah Ayah membacanya?

Aku selalu dipanggil oleh Ayahku dengan sebutan “Pelawan Ayah” namun, aku selalu merasa geli saat Ayahku memanggilku seperti itu tetapi sekarang aku merindukan panggilan itu.

Panggilan yang nyeleneh tapi cukup membuat merasa rindu.

Saat aku masih menduduki bangku SMA, aku selalu diantar jemput olehnya. Ayahku selalu menjemputku menggunakan motor mio merah, memakai jaket yang warnanya sudah memudar, dan tak lupa helm doraemon yang telah menjadi icon papahku saat mengantar jemputku.

“Yah, Kakak berangkat sekolah dulu ya.” Ucapku sembari mencium punggung tangannya yang hangat. Kini tangan hangat itu telah hilang di bawa pergi oleh semesta.

“Iya sayang, semangat ya sekolahnya sing rajin.” Ucapnya dengan penuh kehangatan. Aku selalu dimintai untuk mendekat kearahnya untuk diberikan kecupan hangat di kening, tak lupa mendoakan anaknya agar diberi kelancaran dalam menuntut ilmu dan berakhir meniupkannya di ubun-ubun kepalaku.

“Hangat”

Kini, Ayah sudah tidak bisa melakukannya lagi ya untukku?

Aku rindu, Yah.

Aku selalu diberikan kebebasan untuk berkumpul dengan teman-temanku, namun aku harus mematuhi jam pulang yang diberikannya untukku. Terkadang, aku melanggarnya.

Setiap aku melakukan banyak kesalahan. Tidak pernah sekalipun Ayahku membentak maupun memukulku. Beliau hanya mencemarahi ku dengan nada yang sangat lembut dan menenangkan.

Sejak saat itu, aku berusaha mematuhi segala ucapannya.

Setiap hari pembagian raport, selalu Ayah yang datang untuk mengambilnya jarang sekali ibuku yang datang.

Ayah selalu memuji dengan hasil raportku, “Kakak hebat, sekarang Kakak sudah ada kemajuan. Ayah bangga.” Aku tersenyum puas saat mendengarnya.

Sekarang Ayah sudah tidak mau memujiku lagi ya?

Ahh.. Aku sekarang merasa gelisah karena sudah tidak ada lagi pujian darimu Ayah.

Apa kalian pernah merasa malu karena hanya diri kalian sendiri yang belum melunasi anggaran sekolahmu? Aku pernah. Lalu, apa kalian pernah merasa kesal kepada orang tua kalian terutama ayah kalian? Aku pernah.

Namun, semua rasa kesal dan malu dalam sekejap menghilang dan digantikan dengan perasaan menyesal.

“Kak, maafin Ayah..” cukup dengan pesan yang Ayah kirimkan sudah membuatku menangis dalam diam, dan berulang kali aku ucapkan permintaan maaf. Tetapi, Ayah tidak mendengarnya.

Aku tidak akan pernah melupakannya,

aku akan selalu mengingatnya sampai akhir nanti.

“Ayah, tolong maafkan kakak…”

Ayah, mengapa engkau tidak ingin ikut hadir dalam acara wisuda SMA ku? Sedangkan aku sangat ingin Ayah hadir juga, namun aku enggan untuk meminta.

Tapi Ayah, Ayah sudah menggantinya dengan memotret ku dan Ibuku. Foto terakhir kami berdua yang Ayah potret sebelum pergi untuk selamanya. Aku masih menyimpannya kok, Ayah.

Aku pergi ke Jakarta untuk mengikuti Tes Sekolah Kedinasan. Ayahku sangat bersemangat saat mengantarku. Ayah meminta tolong ke Adiknya untuk ikut mengantarkan aku, karena Ayahku tidak mempunyai kendaraan.

“Baca doa dulu ya Kak sebelum masuk ke ruangan, semangat sayang! Ayah akan selalu doakan untuk keberhasilan anak-anak Ayah.” Ayahku memeluk ku dan adikku dengan hangat.

Sebelum pulang, Paman mengajak kami untuk makan di K*C. Kami makan bersama-sama dengan bahagia. Paman dengan sengaja memotret kebersamaan kami. Aku senang.

Paman, bolehkah aku meminta foto itu lagi? Karena foto itu sudah hilang.

Aku sedikit menyesal sudah mengganti HP, sebelum aku mencadangkan sisa-sisa kenangannya.

Selama aku belum mendapat pekerjaan, aku membantu Ayahku berjualan Es Teh di pinggir jalan. Walau sudah aku lakukan semenjak aku masih menduduki bangku kelas 3 SMK.

“Kak, kalau Kakak sudah bekerja. Mau Kakak apakan uangnya?” Tanya Ayahku mendadak. Aku menoleh kearahnya dan menjawab, “Uang itu buat Ayah, Ibu, dan Adek.”

Ayahku tersenyum, “Masya Allah, jangan lupa buat diri Kakak juga ya.” Aku mengangguk paham.

“Ayah, Kakak gak mau Adek mengalami hal yang sama kayak Kakak. Jadi, Kakak usahain buat Adek.” Kataku dengan sedikit gemetar. Lagi dan lagi, Ayahku meminta maaf. “Maafin Ayah, Kak.”

“Kak, titip Ibu dan Adek ya kak.”

Ayah selalu mengucapkan hal yang sama tiap harinya.

Kenapa aku tidak sadar, bahwa itu adalah pesan terakhirnya untukku?

Sayangnya Aku tidak menyadarinya.

Ayah, apa Ayah masih ingat kita pernah pergi ke Jakarta bersama?

Saat Aku dan Ayahku sudah sampai di salah satu Stasiun Kereta Manggarai, aku melirik ke arah samping kiri memastikan Ayahku ada di sampingku. Aku panik karena tidak melihatnya, Aku melihat ke sekelilingku. Aku menghembuskan nafas legaku, karena netra ku sudah melihat Ayah.

“Ayah, jangan hilang…” Pintaku dengan menggenggam tanganya.

Saat sudah tiba di tempat interview, Ayah benar-benar menemaniku, Ayah tidak pergi kemanapun kecuali ke toilet dan shalat.

Kegiatan interview tertunda sementara waktu karena ishoma. Aku dan Ayah pergi ke sebuah Warteg yang dekat dengan lokasi tempat aku interview kerja.

Ternyata, kegiatan makan di Warteg menjadi kegiatan terakhir kalinya antar Aku dan Ayah. Bogor — Jakarta Selatan menjadi rute terakhir dari perjalanan Aku dan Ayahku.

Kapan Ayah bisa mengantar dan menemaniku lagi?

Ayah, aku ingin memberitahumu. Kini Aku sudah bekerja dan gajiku lumayan berkecukupan.

Maukah Ayah memujiku, dan membanggakanku ke orang-orang lagi? Kini yang mengantar dan menjemputku kerja adalah Ibu, Yah.


메타데이터
post_id
0dbb22fb587f
slug
kenangan-hangat-dari-ayah-0dbb22fb587f
url
https://medium.com/@drarisaca9402/kenangan-hangat-dari-ayah-0dbb22fb587f
canonical_url
https://medium.com/@drarisaca9402/kenangan-hangat-dari-ayah-0dbb22fb587f
author_url
https://medium.com/@drarisaca9402
status
ok
fetched_at
2026-07-13 13:42:41