Mukjizat, Konspirasi, dan Kecenderungan Manusia terhadap Hal-Hal Luar Biasa: Sebuah Tinjauan Humean
Mukjizat, Konspirasi, dan Kecenderungan Manusia terhadap Hal-Hal Luar Biasa: Sebuah Tinjauan Humean
Mukjizat, teori konspirasi, dan kecenderungan manusia pada yang tidak masuk akal. Sebuah analisis berdasarkan pemikiran David Hume. Artikel dengan judul Mukjizat, Konspirasi, dan Kecenderungan Manusia terhadap Hal-Hal Luar Biasa: Sebuah Tinjauan Humean diterbitkan di Sabda Literasi Palu | Platform Pemikiran Bebas. Baca selengkapnya: https://sabdaliterasi.xyz/artikel/mukjizat-konspirasi-dan-kecenderungan-manusia-terhadap-hal-hal-luar-biasa-sebuah-tinjauan-humean/
Salah satu kontribusi David Hume yang paling terkenal (atau kontroversial) dalam filsafat adalah argumennya tentang mukjizat dalam An Enquiry into Human Understanding (1748). Hume berpendapat bahwa kita tidak pernah memiliki alasan yang cukup untuk mempercayai terjadinya mukjizat. Jika mukjizat didefinisikan sebagai pelanggaran terhadap hukum alam, maka ketika seseorang mengklaim telah menyaksikan mukjizat, untuk mempercayainya, kita harus meyakini bahwa pelanggaran hukum alam lebih mungkin terjadi daripada tidak. Artinya, kita perlu menganggap kesaksian orang tersebut lebih berbobot daripada seluruh pengalaman manusia yang menunjukkan bahwa hukum alam selalu konsisten.
Namun, Hume menekankan bahwa kita tidak pernah berada dalam posisi untuk memperlakukan kesaksian seperti itu lebih berat dibandingkan dengan bukti akumulatif dari pengalaman manusia. Bahkan, jika kita sendiri berpikir telah menyaksikan mukjizat, kemungkinan besar ada penjelasan lain yang lebih masuk akal sesuai dengan hukum alam. Kesimpulannya, Hume berpendapat bahwa kita tidak boleh percaya pada mukjizat.
Keajaiban dan Kecenderungan Manusia pada Hal yang Tidak Masuk Akal
Argumen Hume ini terus memancing perdebatan di kalangan filsuf dan teolog hingga hari ini. Sebagian orang menganggapnya sebagai argumen yang menghancurkan kepercayaan pada agama wahyu, sementara yang lain melihatnya sebagai kegagalan logis. Namun, terlepas dari kontroversi itu, Hume juga mengungkapkan sesuatu yang lebih menarik: kecenderungan manusia untuk mempercayai hal-hal supernatural justru karena klaim-klaim tersebut bersifat tidak masuk akal dan mustahil.
Dalam urusan sehari-hari, menurut Hume, kita biasanya mengandalkan pengalaman kita sebelumnya untuk menilai sesuatu. Jika sesuatu tampak lebih mungkin berdasarkan pengalaman masa lalu, kita cenderung mempercayainya; jika tidak, kita cenderung menolaknya. Namun, pendekatan ini tampaknya terbalik ketika menyangkut klaim yang “benar-benar absurd dan ajaib”. Hume mengamati bahwa ketika mendengar kisah-kisah seperti itu, pikiran kita sering kali justru condong mempercayainya karena ketidakmasukakalannya…..
Baca Selengkap: Artikel ***“Mukjizat, Konspirasi, dan Kecenderungan Manusia terhadap Hal-Hal Luar Biasa: Sebuah Tinjauan Humean” [https://sabdaliterasi.xyz/artikel/mukjizat-konspirasi-dan-kecenderungan-manusia-terhadap-hal-hal-luar-biasa-sebuah-tinjauan-humean/]***
메타데이터
- post_id
- 0dc60ebe8a9d
- slug
- mukjizat-konspirasi-dan-kecenderungan-manusia-terhadap-hal-hal-luar-biasa-sebuah-tinjauan-humean-0dc60ebe8a9d
- url
- https://medium.com/blogpikirankita/mukjizat-konspirasi-dan-kecenderungan-manusia-terhadap-hal-hal-luar-biasa-sebuah-tinjauan-humean-0dc60ebe8a9d
- canonical_url
- https://medium.com/blogpikirankita/mukjizat-konspirasi-dan-kecenderungan-manusia-terhadap-hal-hal-luar-biasa-sebuah-tinjauan-humean-0dc60ebe8a9d
- author_url
- https://medium.com/@fadhelfikri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 18:03:01