← Back to list

Orang Baik Itu Suka Dimanfaatkan Orang Lain?

Chapter #336 — Menulis Satu Halaman, 7 Juli 2026

Riza Putranto in Ruang Kontemplasi · 2026-07-07 08:21 · 502 claps · 2.5 min read
#ruang-kontemplasi #refleksi #refleksi-diri #pengembangan-diri #psikologi
Open on Medium ↗

Orang Baik Itu Suka Dimanfaatkan Orang Lain?

Chapter #336 — Menulis Satu Halaman, 7 Juli 2026

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Jangan terlalu baik, engkau akan dimanfaatkan oleh orang lain.

Sering mendengar kalimat tersebut? Kalimat ini terdengar sinis, tetapi banyak orang merasa pernah mengalaminya. Mereka yang selalu membantu justru paling sering dimintai tolong. Mereka yang sulit berkata “tidak” sering mendapat beban paling besar. Saya juga menilai, tidak sedikit orang yang akhirnya merasa lelah karena kebaikannya dianggap sebagai kewajiban, bukan lagi sebagai pemberian.

Namun, apa iya menjadi orang baik adalah masalahnya?

Barangkali yang perlu kita bedakan adalah antara kebaikan dan ketidakmampuan menetapkan batas.

Mari kita coba selami sejenak. Kebaikan adalah pilihan yang sadar untuk memberi manfaat kepada orang lain. Sebaliknya, tidak memiliki batas sering kali muncul karena takut mengecewakan, takut ditolak, atau ingin terus diterima oleh orang lain maupun kelompok tertentu.

Ketika seseorang selalu mengiyakan setiap permintaan, sebagian orang akan menilai bahwa seseorang selalu tersedia.

Always available slowly turns generosity into obligation.

Sesuatu yang awalnya merupakan bentuk pertolongan berubah menjadi ekspektasi. Semakin lama, bantuan tidak lagi dianggap sebagai hadiah, melainkan sebagai sesuatu yang “memang seharusnya” diberikan. Kita mengenal yang namanya “taken for granted”.

Di titik inilah rasa dimanfaatkan mulai muncul.

Nimia bonitas saepe ab aliis abutitur. Kebaikan yang berlebihan sering disalahgunakan oleh orang lain.

Tahukah kamu?

Orang yang paling mudah dimanfaatkan sering kali bukan mereka yang paling lemah, melainkan mereka yang paling bertanggung jawab.

Orang-orang ini yang mampu menyelesaikan pekerjaan, yang dapat dipercaya, dan yang jarang mengeluh. “Lingkungan” pun terus memberikan lebih banyak tugas kepada orang yang sama, sementara mereka yang sering menolak justru memperoleh ruang untuk menjaga dirinya sendiri.

Familiar dengan kejadian di atas?

Saya menilai permasalahannya bukan karena dunia dipenuhi orang jahat. Banyak orang hanya mengikuti pola yang tersedia. Jika seseorang selalu berkata “ya”, kebanyakan orang akan terus meminta. Bukan selalu karena niat buruk, melainkan karena perilaku manusia memang dibentuk oleh kebiasaan dan pengalaman.

Apa yang terus-menerus tersedia akan dianggap sebagai norma. Padahal itu tidak lazim.

Saya juga memegang prinsip bahwa kebaikan yang sehat tidak pernah mengharuskan seseorang mengorbankan dirinya tanpa batas.

Di sisi lain, memang ada sebagian orang yang kurang bisa memahami orang lain hingga orang tersebut “berteriak” bahwa mereka keberatan atau tidak mampu.

Bukan selalu karena mereka tidak peduli, melainkan karena mereka terbiasa memahami dunia melalui apa yang diucapkan secara eksplisit. Selama tidak ada penolakan, mereka menganggap semuanya baik-baik saja.

Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi tidak hanya bergantung pada empati penerima, tetapi juga pada keberanian penyampai pesan. Kita sering berharap orang lain mampu membaca bahasa tubuh, ekspresi wajah, atau nada bicara kita. Padahal, tidak semua orang memiliki sensitivitas emosional yang sama.

Mundus eget benignitate erga alios, sed etiam erga se ipsum.

Dunia membutuhkan kebaikan kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri.

Budaya populer sering menggambarkan bahwa menjadi orang baik kadang kala adalah sebuah kelemahan. Orang yang ramah dianggap mudah dimanfaatkan, terlalu penurut, atau sulit berkembang karena tidak berani bersaing.

Namun, studi Social and Personality Psychology Compass 2010 menunjukkan individu dengan tingkat agreeableness yang tinggi, yaitu pribadi yang hangat, kooperatif, penuh empati, dan senang membantu, cenderung memiliki hubungan pertemanan yang lebih berkualitas, menjadi orang tua yang lebih suportif, menunjukkan kinerja akademik dan profesional yang lebih baik, serta memiliki tingkat kesejahteraan hidup yang lebih tinggi.

Saya memaknainya berarti menjadi baik bukanlah masalah. Yang perlu dijaga adalah bagaimana kebaikan itu dijalankan.

Orang yang agreeable bukan berarti mudah dipengaruhi atau tidak memiliki pendirian. Sebaliknya, ketika kebaikan disertai kemampuan menetapkan batas yang sehat, sifat tersebut justru menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan, kerja sama, dan hubungan yang bertahan lama.

Dengan kata lain, yang membuat seseorang rentan dimanfaatkan bukanlah kebaikannya, melainkan ketika kebaikan itu tidak diimbangi dengan keberanian mengatakan, “sampai di sini.”

fin.-


메타데이터
post_id
0ddd06cc3342
slug
orang-baik-itu-suka-dimanfaatkan-orang-lain-0ddd06cc3342
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/orang-baik-itu-suka-dimanfaatkan-orang-lain-0ddd06cc3342
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/orang-baik-itu-suka-dimanfaatkan-orang-lain-0ddd06cc3342
author_url
https://medium.com/@rizaputranto
status
ok
fetched_at
2026-07-08 18:29:56