← Back to list

Kampanye Desa Sehat: 50 Hari KKN UGM Menyatu dengan Warga Ngabean

Menengok kembali ke perjalanan 50 hari penuh bersama warga di Padukuhan Ngabean, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, saya dan…

Sophie louisa · 2025-08-17 15:17 · 0 claps · 5.4 min read
#kkn-ugm-2025 #kkn-ugm #tempel #margorejo #sleman
Open on Medium ↗

Kampanye Desa Sehat: 50 Hari KKN UGM Menyatu dengan Warga Ngabean

Menengok kembali ke perjalanan 50 hari penuh bersama warga di Padukuhan Ngabean, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, saya dan rekan-rekan KKN-PPM Universitas Gadjah Mada, kami menjalani program KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2025. Sebuah pengalaman lintas-disiplin yang tidak hanya menempatkan mahasiswa di tengah masyarakat, tetapi juga menguji bagaimana ilmu yang dipelajari di kampus bisa berpadu dengan realitas sehari-hari.

Selama lima puluh hari itu, satu kata kunci yang terus mengemuka dalam setiap kegiatan adalah kesejahteraan. Namun, yang kami maksud bukan sebatas kesejahteraan fisik, melainkan juga rasa aman dalam keluarga, ketangguhan anak muda menghadapi tantangan, serta lingkungan sosial yang mendukung tumbuhnya harapan. Sejak awal, masyarakat Ngabean menyambut kami dengan hangat: dari segelas teh manis yang selalu tersaji di ruang tamu warga, hingga tawa riang anak-anak SD Margorejo yang mengikuti edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Momen sederhana itu mengingatkan kami bahwa kampanye mengenai gaya hidup sehat tidak bisa berhenti pada praktik permukaan, seperti cuci tangan atau menjaga kebersihan lingkungan. Lebih dari itu, ia harus menyentuh cara anak-anak memahami kebiasaan sehat, membangun kesadaran sejak dini, dan menanamkan pola pikir yang kelak berpengaruh pada kesejahteraan fisik maupun psikologis mereka. Dengan begitu, edukasi kesehatan tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan diri, rasa percaya diri, serta kemampuan mereka untuk menjaga diri dan orang lain di masa depan.

PHBS hingga Bahaya Judi Online

Salah satu momen paling berkesan bagi saya adalah ketika mendampingi 80 siswa kelas 4–5 SD Margorejo. Dengan semangat, mereka mempelajari langkah-langkah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Bagi anak-anak, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas cuci tangan atau menjaga kebersihan, melainkan kesempatan untuk memahami bahwa kebiasaan kecil bisa melindungi diri, menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuat mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan sehari-hari. Dari tawa polos hingga pertanyaan sederhana yang mereka lontarkan, saya belajar bahwa edukasi kesehatan selalu punya sisi psikologis yaitu membangun kesadaran sejak dini bahwa diri mereka berharga dan layak dijaga.

Tak kalah serius, psikoedukasi untuk pemuda karang taruna tentang bahaya judi online menjadi ruang diskusi yang membuka mata. Beberapa peserta mengaku sering melihat iklan slot dan promosi permainan daring di media sosial. Dari sana, percakapan berkembang tentang bagaimana godaan itu bisa menjerat siapa saja, membuat orang kehilangan kontrol, dan bahkan merusak hubungan sosial maupun keluarga.

Lebih jauh, kami juga membahas dampak psikologisnya: bagaimana rasa penasaran bisa berkembang menjadi kecanduan, bagaimana kegagalan dalam permainan bisa menimbulkan frustasi, dan bagaimana dorongan untuk “balik modal” justru memperkuat lingkaran stres dan kehilangan kendali. Di titik tertentu, judi online tidak hanya menguras uang, tetapi juga energi mental, harga diri, dan kepercayaan diri seseorang.

Diskusi tidak hanya berhenti pada bahaya, tetapi juga menyinggung bagaimana anak muda bisa saling menjaga, menguatkan, dan mencari alternatif kegiatan positif agar tidak mudah tergoda. Dengan cara ini, psikoedukasi bukan hanya memberi informasi, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang betapa rapuhnya batas antara hiburan dan kebiasaan berisiko, serta bagaimana kesadaran psikologis bisa menjadi tameng pertama untuk melindungi diri.

Bagi saya pribadi, sesi ini menegaskan bahwa isu-isu yang sering dianggap abstrak atau hanya “masalah kota” justru sangat nyata bagi masyarakat desa. Melalui dialog terbuka, para pemuda bisa melihat bahwa menjaga kesehatan psikologis tidak kalah penting dari menjaga tubuh tetap bugar. Edukasi semacam ini membuktikan bahwa kampanye kesehatan tidak berhenti pada aspek fisik, tetapi juga menyentuh ranah mental, perilaku, dan hubungan sosial yang membentuk kualitas hidup masyarakat.

Belajar dari Warga, Bukan Hanya Mengajar

Kampanye Desa Sehat juga menyentuh ibu-ibu PKK dengan topik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Diskusi berjalan hangat, namun juga penuh perasaan. Saya belajar bahwa banyak ibu sebenarnya sudah peka terhadap tanda-tanda KDRT, mulai dari perubahan sikap pasangan hingga kontrol yang berlebihan dalam rumah tangga. Tetapi, hampir semua mengaku jarang ada ruang aman untuk membicarakannya secara terbuka. Momen itu menunjukkan betapa pentingnya menciptakan wadah dialog yang tidak menghakimi, di mana pengalaman dan keresahan bisa dibagikan tanpa rasa takut. Dari sisi psikologis, isu KDRT bukan hanya soal luka fisik, tetapi juga trauma emosional yang bisa diwariskan antar generasi.

Sementara itu, di SMP Negeri 1 Tempel, kami mengajak siswa kelas 9 berdialog tentang pernikahan dini. Topik ini sengaja diangkat karena masih banyak remaja di desa yang terpapar wacana menikah muda, baik dari lingkungan sekitar maupun media sosial, sehingga penting memberi ruang untuk mereka berpikir kritis. Suasana diskusi berlangsung cair dengan adanya canda tawa terdengar ketika mereka ditanya soal “cinta” atau bayangan masa depan, bahkan ada yang saling menggoda temannya. Namun dibalik itu, mereka tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.Saat kami membahas resiko menikah terlalu cepat, seperti berhentinya kesempatan sekolah atau terbatasnya ruang untuk mengembangkan diri, banyak siswa menimpali dengan pandangan mereka sendiri. Ada yang menyebut takut tidak bisa melanjutkan pendidikan, ada pula yang menegaskan ingin tetap fokus pada cita-cita sebelum berumah tangga. Bagi saya, justru kombinasi antara obrolan ringan dan keseriusan mereka membuat diskusi ini hidup sekaligus relevan. Remaja ternyata mampu memahami isu besar seperti pernikahan dini, asalkan diberi ruang aman untuk berbicara dengan cara mereka sendiri dengan canda, dengan tawa, tapi juga dengan pemikiran yang matang.

Dari sana saya sadar, program ini bukan hanya soal kami mahasiswa “mengajari” warga, melainkan justru kesempatan untuk belajar dari pengalaman mereka. Warga punya pengetahuan, nilai, dan cara pandang yang tidak kalah penting dari teori yang kami bawa. Saya melihat bagaimana konsep keluarga, masa depan, dan keamanan psikologis dipahami serta diperjuangkan dalam realitas sehari-hari mereka. Interaksi ini mengingatkan bahwa kesehatan sosial dan psikologis bukanlah sesuatu yang bisa ditentukan sepihak, melainkan hasil dari dialog antara pengalaman lokal dan pengetahuan akademik yang kami bawa.

Menutup dengan Harapan

Perjalanan KKN di Ngabean membuat saya memahami bahwa perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar atau spektakuler. Sering kali, ia justru berawal dari hal-hal sederhana: poster yang ditempel di dinding kelas, diskusi singkat yang memancing tanya-jawab, atau percakapan ringan antarwarga yang kemudian melahirkan kesadaran baru. Dari ibu-ibu PKK yang berani berbagi pengalaman, hingga anak-anak SD yang bersemangat menunjukkan kebiasaan kecil mereka, semua itu membuktikan bahwa langkah kecil bisa menjadi pemantik perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya pribadi, Kampanye Desa Sehat hanyalah satu bagian kecil dari rangkaian program KKN, tetapi dampaknya terasa mendalam. Ia bukan sekadar kegiatan formal, melainkan ruang perjumpaan di mana mahasiswa dan warga saling bertukar pengalaman, nilai, dan cara pandang. Dari situ saya belajar bahwa kesejahteraan bukan hanya tentang kesehatan fisik, tetapi juga keamanan keluarga, kekuatan komunitas, dan harapan generasi muda.

Di titik inilah saya melihat betapa pentingnya edukasi psikologis. Banyak isu yang kami bawa, mulai dari judi online, pernikahan dini, hingga KDRT, bukan hanya soal perilaku atau kebiasaan, tetapi menyentuh sisi mental, emosi, dan relasi sosial masyarakat. Tanpa pemahaman psikologis, pesan-pesan edukasi mudah dianggap sebatas “nasihat” atau aturan moral. Namun ketika pendekatan psikologis dipakai, warga bisa melihat kaitan langsung dengan perasaan mereka, dengan dinamika keluarga, dan dengan masa depan anak-anak mereka. Edukasi psikologis, bagi saya, menjadi jembatan yang membuat pengetahuan lebih relevan dan menyentuh kehidupan nyata.

Kesejahteraan adalah hak semua orang, dan upaya menjaganya tidak bisa dilakukan sendirian. Ia menuntut kolaborasi, saling percaya, dan kemauan untuk terus membuka ruang dialog. Bagi saya, inilah warisan terpenting dari KKN di Ngabean: pemahaman bahwa kebersamaan adalah fondasi yang membuat perubahan, sekecil apa pun, dapat bertahan dan tumbuh.

  • Sophie Louisa — Subunit 2 KKN Tempel

메타데이터
post_id
0e4683acdddf
slug
kampanye-desa-sehat-50-hari-kkn-ugm-menyatu-dengan-warga-ngabean-0e4683acdddf
url
https://medium.com/@sophielouisa/kampanye-desa-sehat-50-hari-kkn-ugm-menyatu-dengan-warga-ngabean-0e4683acdddf
canonical_url
https://medium.com/@sophielouisa/kampanye-desa-sehat-50-hari-kkn-ugm-menyatu-dengan-warga-ngabean-0e4683acdddf
author_url
https://medium.com/@sophielouisa
status
ok
fetched_at
2026-07-18 04:24:10