“Cinta yang Diam di Perpustakaan Senja”
Kami bertemu di baris buku-buku tua. Ia memilih buku puisi, aku berpura-pura mencari novel. Tangan kami bertemu di halaman yang sama.
“Cinta yang Diam di Perpustakaan Senja”
Kami bertemu di baris buku-buku tua. Ia memilih buku puisi, aku berpura-pura mencari novel. Tangan kami bertemu di halaman yang sama.
Namanya Takdir. Tapi aku tak pernah tahu namanya yang sebenarnya.
Kami membaca bersama, dalam diam. Kadang hanya selembar senyum atau tatapan samar di balik bingkai kacamata. Hari-hari berlalu dalam senyap penuh rasa.
Lalu suatu sore, ia tak datang. Dan seterusnya, rak itu kosong. Buku puisi itu pun tak pernah tersentuh lagi.
Tapi aku masih datang, duduk di bangku lama. “Karena cinta- kadang hanya ingin hadir, meski tak pernah bersuara.” — Sri Yusmustika Kasim Tangka
메타데이터
- post_id
- 0e4f78add9f1
- slug
- cinta-yang-diam-di-perpustakaan-senja-0e4f78add9f1
- url
- https://medium.com/@netrasenja1/cinta-yang-diam-di-perpustakaan-senja-0e4f78add9f1
- canonical_url
- https://medium.com/@netrasenja1/cinta-yang-diam-di-perpustakaan-senja-0e4f78add9f1
- author_url
- https://medium.com/@netrasenja1
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-05 04:20:26