Di Antara Syukur dan Lelah
Matahari pagi menyinari lereng gunung dengan hangat. Cahayanya masuk melalui jendela sebuah rumah, menerangi ruang tengah yang sederhana…
Di Antara Syukur dan Lelah
Matahari pagi menyinari lereng gunung dengan hangat. Cahayanya masuk melalui jendela sebuah rumah, menerangi ruang tengah yang sederhana dan tenang. Dari kejauhan terdengar samar alunan lagu dari radio milik para pekerja kebun yang sedang memanen hasil perkebunan. Udara terasa sejuk, suasana begitu damai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan hari itu. Namun ketenangan di luar berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dalam. Kepala terasa riuh. Dada terasa sesak. Pandangan tertuju pada beberapa foto yang terpajang di lemari di ujung ruangan. Foto-foto yang menggambarkan sesuatu yang tampak begitu sederhana, tetapi terasa begitu jauh: keluarga yang utuh dan bahagia. Tiga generasi yang masih lengkap. Orang tua yang menikmati masa tuanya dengan tenang. Anak-anak yang telah mandiri dan membangun keluarga mereka sendiri. Cucu-cucu yang tumbuh menjadi sumber tawa dan keceriaan. Melihatnya menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Iri. Dan lelah. Kadang muncul pertanyaan yang tidak pernah benar-benar menemukan jawaban. Mengapa Tuhan tampak begitu selektif dalam membagikan kehidupan yang terasa cukup dan penuh? Mengapa sebagian orang memiliki tempat untuk pulang, sosok untuk bersandar, dan beban yang terbagi, sementara sebagian lainnya harus belajar menjadi penopang bagi dirinya sendiri? Rasanya seperti hidup sengaja dipersulit dengan diambilnya sosok penjaga. Sosok yang seharusnya menjadi tempat bertanya ketika arah mulai kabur. Tempat mengeluh ketika tenaga mulai habis. Tempat berlindung ketika dunia terasa terlalu besar untuk dihadapi sendirian. Lalu bagaimana caranya tetap bersyukur ketika hidup terasa seperti rangkaian tanggung jawab yang tidak pernah selesai? Bagaimana caranya merasa tenang ketika setiap langkah terasa seperti kemungkinan untuk jatuh? Bagaimana caranya merasa bahagia ketika hampir semua hal harus dihadapi sendiri? Yang lebih menyebalkan lagi, mungkin aku juga seorang pengecut. Tidak cukup berani untuk meninggalkan semuanya dan lari dari tanggung jawab. Namun juga tidak cukup berani untuk melangkah maju tanpa rasa takut. Jadi aku berdiri di tengah-tengah. Lelah untuk bertahan. Takut untuk menyerah. Dan setiap hari, aku hanya mencoba menjalani satu hari lagi, sambil berharap suatu saat semua ini akan terasa lebih ringan daripada hari ini.
메타데이터
- post_id
- 0e9db35e38e6
- slug
- di-antara-syukur-dan-lelah-0e9db35e38e6
- url
- https://medium.com/@iftita16/di-antara-syukur-dan-lelah-0e9db35e38e6
- canonical_url
- https://medium.com/@iftita16/di-antara-syukur-dan-lelah-0e9db35e38e6
- author_url
- https://medium.com/@iftita16
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 11:40:08