← Back to list

Kodrat Laki-Laki Seumur Hidup: Bekerja

tuntutan hidup atau keterpaksaan…

nalin.dry diandra · 2025-07-25 07:48 · 0 claps · 2.4 min read
#laki-laki #kodrat #beban
Open on Medium ↗

Kodrat Laki-Laki Seumur Hidup: Bekerja

tuntutan hidup atau keterpaksaan…

source: pinterest

source: pinterest

“Laki-laki itu harus kuat.” “Tugasmu menafkahi, bukan mengeluh.” “Jangan manja, kamu ‘kan laki-laki.”

Begitulah dunia membentuk laki-laki. Sejak kecil mereka diajarkan untuk menjadi kokoh, tahan banting, dan bisa diandalkan. Bahkan sebelum tahu caranya mencintai diri sendiri, mereka sudah dibebani tanggung jawab untuk menjaga orang lain. Seolah sejak pertama kali membuka mata, hidup mereka sudah ditulis dalam satu kata: bekerja.

Bukan sekadar aktivitas harian, tapi identitas. Laki-laki yang bekerja dianggap berhasil. Yang sibuk dianggap tangguh. Yang lelah dibilang wajar. Yang mengeluh dicap cengeng. Bahkan ketika tubuh dan jiwanya nyaris tumbang, dunia hanya menatap dingin dan berkata: “Itu sudah kodratmu.”

Tapi… benarkah bekerja adalah kodrat laki-laki? Atau sebenarnya ini hanya sisa warisan sistem yang terlalu lama membungkam sisi manusiawi mereka?

Dari luar, semuanya terlihat biasa saja. Jam kerja panjang, tanggung jawab tak habis-habis, tapi tetap berdiri. Tetap memberi. Tetap dianggap kuat. Padahal, siapa yang tahu isi hati mereka? Siapa yang peduli bahwa di balik punggung tegap itu ada beban yang beratnya tidak terlihat?

Laki-laki juga manusia. Mereka punya hari-hari ketika mereka ingin berkata, “Aku capek.” Tapi tidak bisa. Karena dunia tidak mengizinkan. Bahkan rumah pun kadang tidak memberi ruang. Tempat yang seharusnya menjadi tempat pulang, sering kali menjadi tempat di mana ekspektasi makin menumpuk.

Mungkin kamu pernah melihat ayahmu pulang larut malam. Duduk diam di teras, rokok masih menyala, mata menatap jauh. Bukan karena tak punya impian, tapi karena semua impian itu sudah dikorbankan demi satu hal: bertahan. Demi anak-anaknya bisa sekolah. Demi dapur tetap mengepul. Demi tagihan tidak menumpuk.

Mereka tidak sempat bertanya, “Apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hidup ini?”

Karena sejak awal, hidup mereka bukan milik sendiri. Tapi milik semua orang yang menggantungkan harapan padanya.

Dalam banyak budaya, kejantanan laki-laki diukur lewat dompet. Siapa yang paling banyak memberi, dia yang paling dihormati. Siapa yang menganggur, siap menerima pandangan sinis — seolah kehilangan pekerjaan berarti kehilangan harga diri.

Padahal… bukan semua jalan hidup itu mulus. Bukan semua laki-laki berangkat dari titik yang sama. Ada yang lahir di keluarga berkecukupan. Ada yang harus bekerja sejak kecil. Ada yang tidak sempat sekolah. Ada yang ingin istirahat tapi tak punya pilihan.

Dan siapa bilang hanya mereka yang ingin sukses? Perempuan juga bekerja. Perempuan juga berjuang. Tapi ketika satu gender dibebani sepanjang hidupnya untuk selalu jadi penopang, maka di situlah kita menciptakan luka sosial — yang sering tak terlihat, tapi sangat dalam.

Laki-laki juga manusia.

Mereka berhak bingung, gagal, ragu, merasa kecil, atau bahkan ingin menyerah. Mereka berhak tidak ingin jadi pahlawan tiap waktu. Mereka punya batas. Tapi seringkali, yang mereka miliki cuma satu pilihan: lanjut, atau dianggap gagal.

Pertanyaannya: sampai kapan? Sampai rambut memutih? Sampai tubuh menyerah? Sampai mereka merasa tak lagi berguna karena tidak lagi produktif?

Aku menulis ini sebagai perempuan. Yang tumbuh dikelilingi laki-laki yang tak pernah mengeluh. Yang selalu terlihat bisa. Tapi diam-diam menyimpan banyak luka yang tak sempat diucapkan. Aku menulis ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk mengajak kita semua berhenti sejenak — dan berpikir ulang.

Sudah saatnya kita ubah narasi. Bahwa bekerja seumur hidup bukan kodrat. Bahwa memberi nafkah bukan beban satu pihak. Bahwa menjadi laki-laki tidak harus berarti menahan segalanya sendirian.

Karena di balik pundak yang lelah itu, ada hati yang juga ingin dimengerti. Ada manusia yang juga ingin hidup — bukan sekadar bertahan.

Bandar Lampung 25 Juli 2025 aku.


메타데이터
post_id
0e9eeb0fae23
slug
kodrat-laki-laki-seumur-hidup-bekerja-0e9eeb0fae23
url
https://medium.com/@diandraprimurdianalindry/kodrat-laki-laki-seumur-hidup-bekerja-0e9eeb0fae23
canonical_url
https://medium.com/@diandraprimurdianalindry/kodrat-laki-laki-seumur-hidup-bekerja-0e9eeb0fae23
author_url
https://medium.com/@diandraprimurdianalindry
status
ok
fetched_at
2026-07-18 18:07:28