← Back to list

Apa Alasan Orang Indonesia Lebih Suka Berjalan Kaki Saat Berada di Luar Negeri?

Perilaku dan perencanaan kota yang menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia memilih transportasi bermotor di dalam negeri

Eka Putra Sedana in Komunitas Blogger M · 2026-07-15 06:01 · 51 claps · 3.8 min read paywalled
#transportasi #infrastruktur #perkotaan #bahasa-indonesia #komunitas-blogger-medium
Open on Medium ↗

Apa Alasan Orang Indonesia Lebih Suka Berjalan Kaki Saat Berada di Luar Negeri?

Photo by Pradamas Gifarry on Unsplash

Photo by Pradamas Gifarry on Unsplash

Menelusuri jalanan padat di kota-kota besar dunia seperti Tokyo, Singapura, atau London sering kali mengungkap fenomena perilaku yang menarik di antara sesama pelancong Indonesia. Di negara lain, wisatawan asal Indonesia biasanya dengan lancar bertransformasi menjadi pejalan kaki yang antusias, dengan mudah menempuh lima belas ribu langkah setiap hari tanpa mengeluh.

Namun, ketika pesawat tiba kembali di Jakarta atau Surabaya, semangat berjalan kaki yang ceria itu langsung menghilang. Melintasi area komersial setempat dengan berkendara menekankan sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan: individu yang sama yang berjalan jauh di luar negeri dengan aktif mencari tumpangan bermotor hanya untuk jarak dua ratus meter di jalan.

Perubahan perilaku yang signifikan ini menghasilkan paradoks pejalan kaki yang kompleks yang memerlukan penelitian yang mendalam dan sistematis. Para kritikus sering kali menganggap penghindaran kolektif terhadap berjalan kaki ini hanya sebagai bentuk kemalasan atau preferensi budaya yang mendalam terhadap kenyamanan kendaraan bermotor. Akan tetapi, analisis jurnalistik yang profesional tentang lingkungan perkotaan di negara kita mengungkapkan kenyataan yang jauh lebih rasional dan didorong oleh infrastruktur.

Keputusan untuk tidak berjalan kaki di lingkungan rumah bukanlah tanda kekurangan karakter manusia, tetapi merupakan reaksi langsung terhadap desain perkotaan yang kurang bersahabat, pemecahan sistematik transportasi publik, dan kondisi tropis yang menantang.

Musuh Struktural bagi Pejalan Kaki

Hambatan utama yang menghalangi pertumbuhan budaya berjalan kaki di kota-kota Indonesia adalah kegagalan sistemik pada infrastruktur pejalan kaki yang mendasar. Berjalan kaki di negara asing terasa nyaman karena trotoarnya dirancang sebagai jalur yang berkesinambungan dan aman, yang mengutamakan keselamatan serta martabat pergerakan individu.

Di sisi lain, analisis kondisi fisik trotoar di pusat-pusat kota utama di Indonesia memperlihatkan lanskap yang dicirikan oleh fragmentasi struktural. Pejalan kaki kerap kali menemui lempengan beton yang pecah, risiko kanal drainase yang terbuka, dan variasi ketinggian yang mendadak, yang menjadikan berjalan kaki yang seharusnya mudah berubah menjadi jalur hambatan yang berisiko.

Selain itu, ruang trotoar yang sempit sering kali dikuasai oleh kegiatan perdagangan dan parkir mobil yang tidak resmi. Pejalan kaki sering kali harus meninggalkan jalur yang telah ditetapkan dan masuk ke jalan raya yang padat, berbagi ruang sempit dengan motor dan mobil yang melaju cepat. Paparan yang berkelanjutan terhadap risiko lalu lintas ini menyebabkan tingkat kelelahan mental dan kecemasan yang signifikan bagi siapa pun yang berusaha untuk berjalan. Keputusan untuk menggunakan sepeda motor menjadi strategi bertahan hidup yang penting, bukan hanya sekadar simbol malas.

Photo by Reyhan Aviseno on Unsplash

Photo by Reyhan Aviseno on Unsplash

Ekosistem Transportasi Umum yang Terpecah-pecah

Kesiapan masyarakat Indonesia untuk berjalan kaki dalam jarak jauh di luar negeri sangat berkaitan dengan efektivitas sistem transportasi publik yang ada di negara-negara tersebut. Di kota-kota yang memiliki sistem transportasi umum terbaik, berjalan kaki menjadi cara yang menyenangkan untuk menghubungkan kantor, stasiun kereta bawah tanah, dan rumah.

Pengamatan saya mengenai pola perjalanan harian dalam negeri menunjukkan adanya kesenjangan konektivitas “first-and-last-mile” yang signifikan, yang mengasingkan komunitas-komunitas dari pusat-pusat transportasi utama kita. Saat mengunjungi terminal bus, harus berjalan di tepi jalan arteri cepat yang tidak terlindungi dan tanpa fasilitas penyeberangan pejalan kaki yang aman, membuat sistem transportasi umum menjadi sangat tidak menarik.

Data dari survei mengenai mobilitas perkotaan menunjukkan bahwa komuter siap berjalan kaki hingga lima ratus meter jika jalurnya terhubung, teduh, dan aman.

Akan tetapi, tata ruang urban di negara kita seringkali menunjukkan area pemukiman yang tersebar luas dan secara sengaja terpisah sepenuhnya dari pusat-pusat perdagangan. Pendekatan zonasi yang terpecah ini mengharuskan jarak yang jauh sehingga berjalan kaki hampir menjadi tidak mungkin untuk aktivitas sehari-hari. Tanpa adanya jaringan kendaraan pengumpan sekunder yang terintegrasi untuk mengatasi kesenjangan spasial ini, transportasi pribadi bermotor masih menjadi satu-satunya pilihan yang praktis.

Iklim Mikro dan Kesejahteraan Sosial

Fakta fisik kehidupan di iklim mikro tropis juga berpengaruh besar dalam menentukan pilihan transportasi harian kita. Berjalan di bawah sinar matahari panas di siang hari atau menghadapi hujan tropis yang mendadak tanpa perlindungan kanopi yang bertahan lama atau kanopi struktural segera menjadi melelahkan secara fisik.

Tujuan wisata internasional melakukan investasi besar pada kanopi pohon alami dan arsitektur arcade untuk melindungi pengunjung dari cuaca ekstrem. Kekurangan desain perkotaan yang responsif terhadap iklim di kota-kota kita menjadikan berjalan kaki sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan, panas, dan berkeringat bagi para pekerja kantoran.

Di luar ruang fisik, pola transportasi kita juga secara diam-diam dipengaruhi oleh persepsi sosial yang sudah lama ada mengenai kekayaan dan status. Selama beberapa generasi, memiliki dan menggunakan mobil atau sepeda motor pribadi yang terlihat telah dianggap sebagai simbol signifikan dari peningkatan mobilitas sosial.

Berjalan di tepi jalan kadang-kadang dilihat oleh masyarakat sebagai indikasi kesulitan ekonomi, bukan sebagai opsi gaya hidup yang sehat. Agar mengatasi hambatan psikologis yang telah menetap ini, ruang publik kita perlu dimodifikasi agar berjalan kaki dianggap sebagai pilihan yang prestisius dan kontemporer bagi seluruh masyarakat.

Mengambil Hak untuk Berjalan Kaki

Kontras yang jelas dalam perilaku masyarakat Indonesia di tanah air dan di luar negeri menunjukkan bahwa masyarakat kita telah sepenuhnya siap untuk mengadopsi budaya berjalan kaki yang aktif. Agar potensi ini dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari, perencana kota kita harus berpindah dari desain yang fokus pada kendaraan dan lebih mendahulukan pembangunan yang mengutamakan pejalan kaki.

Penanaman modal dalam penyeberangan yang aman, trotoar yang mudah dilalui, keberadaan pepohonan yang rimbun, serta konektivitas transportasi umum yang lancar akan secara alami mendorong orang untuk berjalan kaki. Dengan merancang kota yang mengutamakan martabat pejalan kaki, Indonesia dapat membangun lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.

Baca Juga: Membedah Denyut Nadi Transportasi Umum di Pulau Dewata


메타데이터
post_id
0eb916c0c874
slug
apa-alasan-orang-indonesia-lebih-suka-berjalan-kaki-saat-berada-di-luar-negeri-0eb916c0c874
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/apa-alasan-orang-indonesia-lebih-suka-berjalan-kaki-saat-berada-di-luar-negeri-0eb916c0c874
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/apa-alasan-orang-indonesia-lebih-suka-berjalan-kaki-saat-berada-di-luar-negeri-0eb916c0c874
author_url
https://medium.com/@danakatra
status
ok
fetched_at
2026-07-16 18:45:13