10 + 6 = ?
Juni. Bulan keenam. Dan hari itu tanggal sepuluh. “Sepuluh ditambah enam…” Suara si gendut menggantung di udara yang pengap oleh aroma…
10 + 6 = ?
Juni. Bulan keenam. Dan hari itu tanggal sepuluh. “Sepuluh ditambah enam…” Suara si gendut menggantung di udara yang pengap oleh aroma cerutu mahal. Otaknya berputar lambat, seperti mesin tua yang dipaksa bekerja. “Tujuh belas!” serunya kemudian, lantang, memecah keheningan ruang rapat. Angka yang salah itu, seperti biasa, hanya berakhir jadi bahan tertawaan. Sebuah ketidaktepatan yang dirayakan.
Beberapa hari sebelumnya, layar televisi dipenuhi wajah-wajah pejabat korup yang digiring dengan rompi pink dan oranye. Hari itu, ia berpidato di Munas HIPMI dengan retorika kosong tentang masa depan bangsa. Beberapa hari setelahnya, gelombang demonstrasi besar-besaran pecah di Bundaran HI. Namun, seberapa pun carut-marutnya negeri ini, rumah kami — The House of Prawi — masih berdiri kokoh. Setidaknya, itu yang mereka yakini.
Prawiro itu terlalu kaya, bahkan untuk ukuran uang kotor,
bisik mereka di luar sana. Aku sendiri sudah tak bisa lagi membedakan mana yang bersih, mana yang kotor. Semuanya terasa amis jika kau menyandang nama Prawiro. Mereka bilang aku satu-satunya Prawiro yang tersisa dengan sedikit nurani, tapi kemudian mereka menambahkan dengan nada sinis,
Percuma, Elora. Pencuci tetap mencuci. Air cuciannya keruh, tak ada yang jernih.
Aku menghela napas. Orang-orang terlalu mudah membenci ketimpangan, seolah mereka sendiri tidak sedang memuja kapitalisme setiap harinya. Indonesia memilih sistem ini, namun orang-orang miskin itu terus saja meneriakkan eat the rich seolah itu akan mengenyangkan perut mereka.
PR keluarga kami — seorang Gemini pembenci Prabowo yang berulang tahun bulan ini — pernah berbisik,
Pak Bhodro lihat Beno itu kayak Soemitro lihat Prabowo!
Aku cuma bisa membatin: syukur suamiku tak pernah dikirim ke barak militer. Ia akan mati konyol di sana, sebelum sempat menembakkan peluru pertamanya.

Beno & Elora
Beno adalah pengecut yang bersembunyi di balik kekuasaan ayahnya. Ia bahkan tak doyan pedas. Dan karena aku istrinya, aku pun harus “tak doyan” pedas. Pernah suatu hari, sup yang kuhidangkan terlalu banyak lada. Aku masih ingat bagaimana rasa panas itu meledak, bukan di lidahku, tapi di pipiku saat tangannya mendarat. Pandanganku mengabur, lantai marmer yang dingin terasa seperti pelukan yang lebih jujur daripada suamiku sendiri. “Elora, kamu mau bunuh suamimu?!” Suaranya melengking, jauh lebih tajam dari rasa perih di sudut bibirku yang mulai terasa besi. Tentu saja ia tak akan mati hanya karena lada. Aku yang hampir berhenti bernapas.
Setelahnya, dunia selalu menjadi sangat sunyi. Pintu dikunci dari luar. Tirai ditutup rapat. Beno akan menyembunyikanku di balik keheningan yang menyesakkan, seolah berteriak agar aku menelan sendiri rasa asin dari darahku yang mengering. Memarku menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh cermin kamar mandi. Sakitku, menjadi ibadah yang kulakukan sendirian dalam gelap.
Hanya anakku — adiknya, jika aku boleh jujur — yang cukup cerdik untuk menembus isolasi ini. Ia akan mengirim pesan lewat mobil remotnya, menyelinap di bawah celah pintu kamar yang terkunci. “Bunda baik-baik saja?”
Pak Bhodro yang agung membungkamku dengan alasan yang terdengar seperti doa: melindungi. Ia bicara tentang memberi anak kami keluarga yang utuh, yang aman, yang terhormat. Sebuah transaksi dingin di mana keselamatanku adalah harga yang harus dibayar demi menjaga nama baik Prawiro. Aku tak tahu sampai kapan sandiwara ini akan tetap utuh, jika putranya terus-terusan menghajarku setiap kali ia merasa dunianya tidak cukup sempurna. Pak Bhodro hanya akan menolong saat Beno sudah panik melihatku tak lagi bergerak.
PR itu benar.

Beno & Bowo
Beno memang seperti Bowo. Bayangan gelap sejarah yang enggan pergi. Ia adalah penculik, penyekap, penyandera. Temperamental dan arogan.
Dalam segala rasa sakit yang menjorokkan ini, jiwaku selalu kabur mencari Alanna. Bukan anakku, tapi Alanna yang asli. Perempuan yang namanya kucuri untuk menamai darah dagingku sendiri karena aku terlalu pengecut untuk menyimpan namanya hanya di dalam hati. Alanna yang tidak seperti aku. Alanna yang kuat. Alanna sang pemberontak. Alanna yang tidak pernah bersembunyi.
Alanna menghadapi dunia dengan kepala tegak, berani mengakui bahwa ia mencintaiku, mencintai wanita, meski dunia menganggapnya noda. Ia memiliki keberanian untuk memilih jalannya sendiri, sementara aku memilih untuk mengikat leherku ke keluarga keparat ini!
Dulu, kami punya dunia yang tidak mengenal Prawiro. Sekarang, aku hanya bisa mengenang rasa sentuhannya yang lembut di tengah kepungan tangan Beno yang kasar. Alanna bebas. Alanna nyata.
Tidak seperti aku.
메타데이터
- post_id
- 0eef70b43a07
- slug
- 10-6-0eef70b43a07
- url
- https://medium.com/@ellejolond/10-6-0eef70b43a07
- canonical_url
- https://medium.com/@ellejolond/10-6-0eef70b43a07
- author_url
- https://medium.com/@ellejolond
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 07:44:09