← Back to list

sepiring berdua

“gue harus pakai apa buat ketemu sama abel, ya?” Dipikirannya saat ini hanya lah bagaimana cara ia mengatasi kegugupannya saat berjalan…

shion · 2025-04-28 18:07 · 0 claps · 5.0 min read
#soogyu #txt
Open on Medium ↗

sepiring berdua

“gue harus pakai apa buat ketemu sama abel, ya?” Dipikirannya saat ini hanya lah bagaimana cara ia mengatasi kegugupannya saat berjalan disamping teman dekat nya itu. Ia putuskan untuk menggenakan pakaian andalannya, kaus oversize berwarna hitam yang dipadukan dengan straight loose jeans. Sangat simpel tapi tetap membuatnya tetap tampan, aneh sekali tapi abel sama sekali tidak menampakkan rasa ketertarikan nya pada pemuda satu ini.

“ah, gue gugup banget. Padahal cuma jalan-jalan biasa sama dia.” Ponsel nya berdering, terpampang jelas nama adek kecil di layar nya. Panik, ia mengarahkan jarinya ke layar untuk menjawab panggilan itu.

“kamu udah siap belum sih? Panas banget nih aku di halte, kamu janji nya jam berapa kenapa belum dateng-dateng ih boongin aku ya?!” iya, abel dengan celoteh nya itu langsung menyapa telinga theo, namun hal itu tidak membuat theo marah sama sekali dan menganggap itu lucu dan menggemaskan. kapan lagi mendengar abel mengomel?

“aku baru mau jalan, tunggu sebentar ya bel? Tadi aku hhh- ada keperluan bentar sama temen kost.”

“yaudah lah cepet, aku gamau nunggu lama ya. Balik juga nih.”

“EH, jangan gitu dong. Masa aku udah siap-siap malah gak jadi?”

“dihhh, kamu pengen banget ya jalan sama aku yaaa?”

Tut, tiba-tiba sambungan terputus begitu saja. siapa lagi pelaku nya kalau bukan theo? Muka nya sudah sangat merah seperti tomat, dan untungnya ia bisa menyembunyikan itu dengan masker dan helm fullface miliknya. Abel hanya kebingungan menatap layarnya ponsel nya, perasaan data internet nya masih banyak?

Sesampainya di halte, ia mengajak abel untuk segera naik dan melaju ke tempat tujuan mereka, alun-alun kota. Mereka mulai menyusuri jalanan di siang bolong, dimana matahari masih memancarkan sinarnya yang paling terang. Pemuda bersurai hitam mulai menggerutu pelan, theo yang peka akan itu langsung menarik abel untuk berdiri dibelakang dirinya.

“pegangan baju aku kalau gak mau ilang ya, kita cari makan dulu gimana?”

“apaan sih, aku bukan anak kecil ya theo. Boleh, kalau bisa yang murah meriah soalnya lagi tanggal tua.”

Theo tertawa pelan lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling nya, mencari sebuah tempat singgah sementara untuk makan siang. Dilihatnya papan besar menandakan diskon makan siang untuk -pasangan? tidak-tidak, mana mungkin abel mau untuk hal seperti itu. Theo merasakan ada yang menarik kausnya pelan, ia pun segera menolehkan kepalanya.

“kenapa cil?”

“berisik, jangan panggil gue kecil. Itu, ada diskon makan siang tapi buat pasangan. mau gak? sebenernya aku gak mau ya, ini terpaksa aja soalnya lagi berhemat hehe”. Theo terkejut akan pernyataan abel, ia pun langsung mengangguk. “boleh, ayo. should we act like a couple then?”

“ya iya lah, jangan sampai ketauan pegawai sama baper ke aku ya.”

“iya iya kecil, bawel banget sih.”

Dua pemuda itu tanpa berlama-lama langsung menuju ke cafe dan mencari tempat duduk, saling menatap untuk memberikan kode satu sama lain. tanpa mereka sadar, sudah ada pelayan yang mendatangi mereka, menyerahkan sebuah buku menu. “selamat datang di Braga Art Cafe, ada yang bisa kami bantu atau ingin memesan sesuatu?”

Theo tersadar, ia langsung bertanya mengenai event diskon untuk pasangan di cafe ini dan dijawab dengan ramah oleh sang pelayan. “benar kak, untuk pasangan akan mendapatkan diskon untuk hari ini saja. Berlaku untuk semua makanan ya, dan ada bonus one dessert for two people. apakah sudah ditentukan ingin memesan apa?”

Abel menatap theo dengan lekat, kagum akan bagaimana cara theo berbicara dengan sopan kepada orang lain. berbeda sekali dengan dirinya yang kasar dan ceplas-ceplos. Apa iya ia harus berpura-pura menjadi pasangan theo saat ini?

Pemuda bersurai hitam itu langsung membuka buku dan memilih menu yang akan dipesan. “saya mau pesan creamy carbonara pasta sama ice vanilla latte, kamu apa sayang?”

Theo terdiam sebentar sambil mencerna perkataan abel. Apa katanya? sayang? Seperti nya, hati theo sedang tidak baik-baik saja saat ini, abel memanggilnya dengan sebutan sayang. “samain aja kaya kamu, pengen cobain sekali-kali.”

“baik, saya ulangi lagi untuk pesanannya. Dua creamy carbonara dengan dua vanilla latte, apa ada tambahan lagi?” kedua pemuda itu menggelengkan kepala, menandakan tidak ada lagi tambahan makanan yang ingin dipesan.

“jika tidak ada, mohon ditunggu untuk pesanan anda, terimakasih.”

Keduanya larut dalam kegiatan masing masing, bosan menunggu pesanannya datang, abel mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa pelayan menatap ke arah pasangan yang sedang berkunjung, seperti nya mereka sedang melakukan pengecekan. Ide cemerlang ia dapatkan, dengan tiba-tiba abel menggenggam tangan theo lalu mengarahkannya ke pipi mulusnya. Yang digenggam pun kaget. “ada satu pelayan dipojok yang ngawasin kita, just act like a couple right now. please”

“ketat banget, mau makan tenang aja susah ya”.

“you don’t like it when i act like this right now?” tanya abel dengan suara yang sangat pelan.

“shut up and do whatever you like, abel. i like when you do it to me, to be honest”

“gegayaan makan tenang, kita kan cuma ngincer diskon nya.” Di elusnya pipi abel dengan pelan, benar-benar mulus seperti mochi. Tiba-tiba datanglah pelayan dengan sebuah nampan makanan, menyajikan nya di meja theo dan abel.

“maaf mengganggu kegiatan kalian, pesanan nya sudah jadi. Selamat menikmati kak!”

Keduanya saling menatap, memberikan kode sekali lagi untuk saling menyuapi agar terlihat romantis di mata orang. “aaa, ayo kakak sayang buka mulutnyaa.” Tangan abel bergerak untuk menyuapi theo, disertai dengan senyuman nya yang paling manis. Jangan ditanya, muka theo saat ini sudah sangat merah sembari menanggapi perlakuan abel kepadanya.

“bel, udah dong, aku malu banget nih.”

Abel hanya tertawa pelan melihat tingkah theo yang malu-malu itu, ide licik mulai bermunculan di pikiran abel. Sedikit ia majukan tubuhnya, mendekatkan tangannya untuk mengusap bibir theo yang belepotan akan cream pasta yang tadi ia makan. “makannya belepotan banget sih sayang, dilihatin orang loh kamu tadi. Kaya bayi aja deh kamu.”

“abellll, udah dong aku belum selesai makan udah kamu gangguin terus”

Dengan cepat theo menghabiskan pasta miliknya, takut akan diganggu kembali oleh pemuda didepannya ini. Begitu pun dengan abel yang sudah menyelesaikan makan siangnya, ia menunjuk ke arah photo booth pasangan di dekat pintu masuk dan menoleh ke arah theo. “sayang, mau foto disana. Boleh?” theo mengarahkan pandangannya ke arah photobooth dan langsung menangkap kode dari teman nya itu.

“boleh, yuk sayang. kita bayar dulu kekasir ya.”

Abel dan theo saling menggandeng tangan sembari berjalan ke arah photobooth yang dimaksud, sang pelayan datang untuk menjelaskan bahwa jika mereka berfoto disini akan mendapatkan dua buah polaroid. Keduanya setuju, dan saling merencanakan pose apa yang akan mereka gunakan saat berfoto. “bebas aja deh, kamu mau heart sign gak bel?”

“sure, aku ikut kamu aja deh.”

Sesi foto dimulai, pose pertama dimana mereka berdua melakukan heart sign. Pose kedua, pose yang sangat amat mengejutkan theo. Abel mencium pipi nya sembari melingkarkan kedua tangan ke lehernya, ia harus tetap tersenyum sambil menahan rasa malu dan gugup. Ini sangat tiba-tiba sekali, pasti abel bisa mendengar detak jantungnya. “wah, romantis sekali. Akan saya cetak, mohon ditunggu.”

“abel … tadi kamu ngapain?”

astaga, pasti muka dia sudah semerah tomat sekarang. berdiri mematung dihadapan abel sembari menutup wajah dengan tangannya.

“cium pipi kamu? kenapa emangnya, gak boleh?”

“yaaa, boleh tapi aku malu. Polaroid cium pipi nya boleh gak aku bawa?” abel mengangguk sambil tersenyum, memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak dilihat oleh theo. sang pelayan pun kembali sembari menyerahkan dua buah foto polaroid, diberikannya satu kepada theo sebagai hadiah kenang-kenangan. Tidak ada yang tahu, akan jadi kenangan atau wisata di masa depan?

Mereka menghabiskan sisa waktu hari ini dengan berjalan-jalan sembari mengobrol tentang keseharian mereka di kampus, abel pun tidak berhenti tersenyum ketika menceritakan sesuatu yang membuat nya senang. Semua orang memang benar, abel adalah pemilik dari senyum termanis yang pernah ia lihat. Dan juga, hari ini adalah hari yang sangat theo sukai di dalam hidupnya.


메타데이터
post_id
0ef281e775d2
slug
sepiring-berdua-0ef281e775d2
url
https://medium.com/@mirukuramen/sepiring-berdua-0ef281e775d2
canonical_url
https://medium.com/@mirukuramen/sepiring-berdua-0ef281e775d2
author_url
https://medium.com/@mirukuramen
status
ok
fetched_at
2026-07-20 03:48:18