Make him safe
cr: pinterest
Make him safe

cr: pinterest
Warning! ini narasi panjang banget, siapin tisu kalau ga sanggup, happy reading 🥀
Malam mulai turun di Ashwillow Estate, suara para pekerja perlahan menghilang satu per satu, hanya suara kayu terbakar dari perapian kecil yang tersisa di udara dingin yang ada di ruang tengah yang baru setengah jadi.
Matthew duduk diam di tangga belakang estate, tngannya masih penuh debu, kemejanya masih kotor karena membantu para pekerja seharian, wajahnya juga tampak kelelahan. ia pun duduk di kursi taman belakang yang tersedia, mungkin itu buatan para pekerja yang baru saja di buat.
Dan dari tadi, isi kepalanya cuma penuh satu hal: kenapa Vianelle bisa hidup seperti ini? baru pertama kalinya ia datang ke kediaman seorang yang statusnya bangsawan tetapi kediamannya seperti rakyat.
Langkah kaki berat terdengar mendekat, Severian datang membawa dua gelas air putih dan memberikannya kepada Matthew,
ia masih pakai kemejanya yang kotor, tangannya lecet saat memperbaiki bingkai jendela tadi.
Hening cukup lama.
Matthew yang pertama bicara namun dengan suara yang sangat pelan.
“…kak.”
Severian tidak menjawab. ia hanya menatap halaman estate yang gelap.
Matthew menggigit bibir kecil. Lalu akhirnya bertanya, “Kenapa tempat ini bisa jadi seperti ini?”
Severian diam.
Matthew menoleh cepat, merasa kakaknya tidak mau menjawab pertanyaannya.
“Aku serius.”
Tatapannya mulai bergetar marah. ia kembali berucap, “Dia itu pasangan keluarga kerajaan.”
“Dia pangeran.” lanjutnya.
Suara nafas Matthew pun terdengar terburu-buru.
“Kenapa tidak ada yang peduli kalau dia tinggal di tempat seperti ini?!” Ujarnya kencang, mengundang Arthur yang sedang berjalan santai langsung berlari ketempat mereka.
Severian masih diam.
Dan justru itu bikin Matthew makin emosional. Arthur pun kembali berjalan pelan, tidak seharusnya dia mendengar perbincangan saudara tiri ini, namun karena Severian yang menyadari kehadirannya dan tidak mengusirnya dia pun menyandarkan tubuhnya di dinding luar estate yang ada di dekat mereka.
“Apa ayah tahu?”
Tidak ada jawaban dari Severian.
“Apa Queen tahu?”
Severian akhirnya menghela napas panjang.
“…semua orang tahu.” balasnya singkat.
Matthew langsung membeku. Angin malam terasa jauh lebih dingin tiba-tiba. ia memeluk dirinya sendiri. kemudian menoleh kembali ke Severian dengan mimik wajahnya yang terkejut.
“…apa?”
Severian menatap lurus ke depan. Tatapannya sangat kosong.
“Ashwillow diberikan sebagai ‘hadiah pernikahan.’”
Matthew langsung ketawa kecil, tapi suaranya hancur.
“…ini hadiah?”
“Itu cara halus mereka membuang seseorang.”
Matthew langsung berdiri, tangannya mengenggam dan memposisikan dirinya berhadapan dengan kakak tirinya.
“Mereka MENIKAHKAN dia dengan keluarga kerajaan lalu membiarkan dia tinggal di reruntuhan?!” ujarnya nyaring.
“MATTHEW!” tegur Severian dengan menatapnya dengan tajam.
“NO!”
Napas Matthew mulai bergetar.
“Tidak ada selimut layak.”
“Tidak ada pakaian musim dingin.”
“Kamarnya bahkan lebih dingin dari ruang penyimpanan istana.” ucapnya sekaligus.
Dan yang membuat Matthew semakin sesak adalah, “Dan semua orang tahu?!” fakta memahitkan.
Severian akhirnya menutup mata sebentar. rasanga sangat lelah.
“…aku juga baru tahu.” suara Severian terdengar pasrah.
Matthew langsung diam.
Hening panjang jatuh di antara mereka.
Lalu Severian berkata pelan, “Saat pertama kali datang ke sini…”
Tatapannya jatuh ke jendela kamar Vianelle di lantai atas, Masih ada cahaya kecil di sana dan ada bayangan pasangannya sedang berbicara kepada Mr. Boo pelayang pribadinya.
“…para pelayan minta maaf karena rumah ini berantakan, dan dia terlihat biasa saja seolah hal ini sudah biasa.”
Matthew langsung menahan napas, karena itu terlalu menyakitkan.
Severian tertawa kecil. Tapi kosong.
“Dia bahkan tidak marah.”
“Tidak mengeluh.”
“Tidak meminta apa pun.”
Tatapan Severian perlahan berubah, ada kemarahan di sana, marah yang ditahan terlalu lama.
“Seolah-olah dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.” lanjutnya dengan nada yang lebih pasrah.
Severian pun duduk di bangku bekas Matthew duduk tadi. ia menghela nafas panjang lagi, hari-hari nya disini cukup lelah.
Matthew perlahan duduk lagi di sebelah Severian, matanya mulai panas.
“…kak.”
Severian menunduk pelan.
Tangannya mengepal.
“Aku terlambat menyadarinya.”
“Dan sekarang setiap kali aku melihat tempat ini…”
Tatapannya jatuh pada dinding estate yang retak. Perapian kecil. Jendela tua.
“…aku cuma bisa berpikir berapa lama dia hidup sendirian di sini.” ucapnya.
Matthew akhirnya benar-benar mengerti malam itu, kenapa Severian ikut mengangkat kayu, kenapa dia memperbaiki jendela sendiri, kenapa dia bekerja sampai tangannya lecet.
Karena Severian tidak sedang memperbaiki bangunan. Dia sedang mencoba memperbaiki hidup seseorang.
“Kalau begitu bawa dia pergi dari sini.” ucap Matthew tiba-tiba, Arthur terkejut mendengar ucapan Matthew, ia tau pangeran seusia nya itu memang kadang ceplas-ceplos, tapi ia tidak tau bahwa kadang pangeran itu juga sedikit ceroboh.
Angin malam makin dingin. Api obor di setiap sisi halaman bergerak kecil tertiup angin.
Matthew masih duduk diam, tapi sekarang rahangnya mengeras, matanya merah.
Dan Severian tahu persis tatapan itu, Matthew marah. Sangat marah.
“Selama ini dia hidup seperti itu… sendirian.”
Severian tidak menjawab.
Karena itu kalimat yang berulang kali berputar di kepalanya.
Matthew tertawa kecil. Tapi nadanya pahit. ia pun tersenyum pahit, menatap langit yang berisi bintang-bintang.
“Luar biasa.” ucapnya. tangannya mengepal kuat.
“Kerajaan ini benar-benar luar biasa.”
“Mereka menyebutnya beauty of Anruin.”
“Permata House of Yoon.”
“Omega tercantik di selatan.” ucapnya beriringan lagi.
“Tapi tidak ada satu pun yang memastikan dia hidup dengan layak?!” suaranya naik satu oktaf.
Hal ini adalah kebiasaan Matthew ketika sedang kecewa, ia akan terus melontarkan kalimat-kalimat yang membuatnya kecewa dengan lantang.
Matthew berdiri lagi, ia melangkah cepat dan gelisah.
“Ayah benar-benar keterlaluan.”
“Matthew.” panggil Severian.
“NO, SEV!.”
Panggilan kecil Severian ketika mereka masih anak-anak, dan kini tak sengaja terlontarkan Matthew dengan rasa penuh amarah.
Matthew menoleh cepat. ia tatap Severian.
Matanya benar-benar marah sekarang.
“Kalau kau tidak datang ke sini…”
“Berapa lama lagi dia akan hidup seperti itu?”
Suara Matthew terdengar lirih. Suasana kembali hening dan Severian tidak bisa menjawab, karena dia sendiri juga takut memikirkan jawabannya.
Matthew mengusap wajah frustrasi.
“…aku benci tempat ini.”
Tatapannya jatuh ke estate tua di belakang mereka.
“Aku benci semua orang yang membiarkan ini terjadi.”
Lalu perlahan—Matthew berkata sesuatu yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
“…kalau begitu bawa dia pergi dari sini!” masih ngotot dengan sarannya tadi.
Severian langsung menoleh.
Matthew maju satu langkah, dan berucap,
“Bawa Vianelle keluar dari kerajaan ini.”
“Matthew.”
“Aku serius.” napas Matthew mulai tidak stabil.
“Kau punya wilayah sendiri.”
“Kau punya kekuatan militer sendiri.”
“Kalau kerajaan memperlakukannya seperti ini maka tinggalkan saja semuanya!” suara Matthew pecah.
“Bawa dia pergi jauh dari sini.”
“Ke tempat yang bahkan tidak dikenal keluarga kerajaan.”
Severian langsung berdiri, dia menghadap Matthew dan menatapnya balik.
“CUKUP.”
Matthew langsung diam, karena Severian sering membentaknya seperti itu. napas Severian berat. tatapannya tajam. tapi matanya juga terlihat lelah.
“Kau pikir aku tidak pernah memikirkan itu?” ucap Severian
Hening langsung jatuh.
Severian tertawa kecil. Kosong.
“Setiap hari.” Tatapannya jatuh ke tanah.
“Setiap kali aku melihat dia tidur menggigil.”
“Setiap kali dia bilang ‘aku baik-baik saja.’”
“Aku ingin membawa dia pergi.”
Air wajah Severian memperlihatkan bahwa keadaan Vianelle yang sekarang juga membuat keadaan dirinya terluka, status Vianelle adalah pasangannya, pasangan yang akan terus bersamanya sampai akhir hayatnya, dan fakta semua itu ia dapatnya secara terus-terusan juga membuat hatinya semakin sakit.
Matthew perlahan menahan napas.
Severian mengepal tangannya kuat.
“Tapi aku tidak bisa egois.”
“Karena kalau aku pergi sekarang…”
Tatapannya berubah dingin seperti pangeran perang yang semua orang takutkan.
“…mereka akan menghancurkan House of Yoon yang tersisa.”
Matthew langsung membeku.
Dan baru saat itu—dia sadar.
Vianelle bukan hanya seseorang. Dia simbol politik. Simbol perdamaian. Simbol keluarga yang sudah kehilangan hampir semuanya.
Severian menatap estate itu lama.
“Aku tidak bisa menyelamatkan dia dengan menghancurkan hal terakhir yang masih dia miliki.”
Matthew menggigit bibirnya kuat. Marahnya belum hilang. Tapi sekarang berubah jadi sakit.
Severian tidak tinggal di Ashwillow karena kewajiban. Bukan karena politik. Bukan karena belas kasihan.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat Severian mencintai seseorang begitu dalam sampai rela membangun dunia itu kembali dengan tangannya sendiri.
Angin malam masih terasa dingin.
Matthew akhirnya duduk kembali di bangku, sedangkan Severian menikmati hembusan angin malam, kepalanya penuh dan dadanya sesak. Tatapannya masih mengarah ke jendela kamar Vianelle di lantai atas.
Dan tanpa mereka sadari William sudah berdiri tidak jauh dari sana sejak tadi. Diam dan mendengar semuanya.
Matthew baru sadar saat melihat bayangan coat hitam itu mendekat perlahan.
“…kau sudah selesai?”
William mengangguk kecil. Tapi ekspresinya berbeda sekarang, tidak sedingin sebelumnya, ada sesuatu di matanya. rasa khawatir.
Matthew langsung berdiri.
“Kak Vianelle bagaimana?”
William diam beberapa detik. seolah memilih kata-kata agar mereka tidak terkejut.
Lalu akhirnya ia bertanya pelan, “…kenapa tubuhnya begitu kurus?” tanyanya.
Hening langsung jatuh kembali.
Matthew menoleh ke Severian cepat, karena bahkan dia tidak tahu jawabannya.
Severian perlahan menunduk. “…aku tidak tahu.” Suara itu kecil.
Dan untuk pertama kalinya, Matthew merasa Severian terdengar benar-benar kehilangan.
William mengerutkan alis sedikit.
“Tulang bahunya terlalu terlihat.”
“Pergelangan tangannya juga terlalu ringan.” ucapnya.
Matthew langsung menegang karena William berbicara seperti itu dengan nada seolah seseorang yang paham dan yang memperhatikan detail omega lain.
William menatap mereka berdua pelan.
“Dia juga menggigil meskipun ruangan sudah dipanaskan.” tatapannya perlahan berubah makin serius.
“…omega tidak seharusnya sekurus itu.” ucapnya melanjutkan.
Matthew langsung merasa dadanya jatuh, Severian mengepal tangannya kuat.
“Saat aku pertama kali datang, dia bahkan pingsan setelah berdiri terlalu lama.” Suaranya serak.
William langsung menoleh cepat.
“Apa?”
“Tabib istana bilang tubuhnya lemah karena kelelahan.”
Matthew penasaran, “Dan?”
Severian tertawa kecil. Tapi pahit.
“…mereka bilang itu normal.”
William langsung diam. “…normal?” ia memastikan lagi.
Matthew bisa merasakan perubahan suasana langsung, karena William bukan marah besar, tapi justru terlalu tenang.
Dan itu lebih seram.
William menarik napas pelan.
“Tidak ada yang normal dari tubuh omega yang kekurangan nutrisi.”
Matthew langsung menoleh, “…kekurangan nutrisi?” tanyanya.
William mengangguk kecil.
“Kulitnya pucat.”
“Tubuhnya terlalu ringan.”
“Dan dia mudah gemetar.”
Tatapannya jatuh ke arah lantai atas lagi, menata kamar Vianelle yang lampunya sudah meredup.
“Tubuh omega sangat sensitif terhadap dingin dan stres.”
“Kalau itu berlangsung terlalu lama…”
William tidak melanjutkan karena bahkan memikirkannya saja membuat hatinya berat.
Severian langsung berjalan mendekat, tatapannya tajam.
Panik yang ditahan mati-matian.
“apa maksudmu?”
William menatapnya beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata pelan, “Panggil tabib yang benar-benar kompeten.”
Matthew langsung mengangguk cepat.
“Aku bisa kirim orang ke istana sekarang juga—”
“Bukan tabib istana.”
Matthew langsung diam.
William menatap Severian lurus.
“Cari seseorang yang tidak melihat Vianelle sebagai simbol politik.”
“Cari seseorang yang melihatnya sebagai pasien.”
Ia berdiri cukup lama di halaman Ashwillow Estate. memandang jendela kamar Vianelle yang sudah gelap
Lalu akhirnya ia berkata pelan, “aku mengenal seseorang.”
Matthew langsung menoleh, ia menanti ucapan William selanjutnya, karena ia pikir akan ada harapan untuk kakak iparnya.
William melanjutkan, “Tabib dari wilayah utara, namanya Vance Chwe.”
Tatapannya tenang, tapi serius.
Severian mengernyit kecil karena nama itu tidak asing. sedangkan Matthew langsung shock.
“Vance?!” ujarnya.
William mengangguk kecil. “Dia tabib pribadi keluarga kerajaan Albagard. satu-satunya orang yang benar-benar kupercaya untuk menangani omega.”
Severian langsung berkata tanpa ragu, “Panggil dia.”
William sedikit terdiam karena biasanya keluarga kerajaan sangat hati-hati soal tabib pribadi. Apalagi melibatkan kerajaan lain. Tapi saat melihat ekspresi Severian—William mengerti, pangeran itu sudah terlalu panik untuk peduli soal politik.
William langsung menoleh ke pelayannya.
“Kau kembali ke Albagard, katakan pada Vance bahwa ini permintaan ku langsung.”
Pelayan itu langsung membungkuk.
Tatapan William perlahan berubah dingin, “Dan katakan, jika dia menolak datang maka aku sendiri yang akan menyeretnya ke sini.” lanjutnya.
Hening kecil.
Matthew sampai bengong dan ASTAGA—dia makin merasakan jantungnya menjadi aneh.
Sudah tiga hari, udara semakin dingin, kemungkinan musim salju akan tiba, Ashwillow Estate jauh lebih hidup sekarang, Perapian mulai hangat, jendela baru sudah dipasang dan untuk pertama kalinya estate itu terasa seperti tempat tinggal manusia.
Tapi suasananya tetap tegang, karena Vianelle terus demam sejak malam sebelumnya.
Severian bahkan hampir tidak tidur.
Matthew tahu itu dari mata kakaknya yang merah, pakaian yang masih sama sejak kemarin dan fakta kalau Severian bahkan tidak meninggalkan kamar Vianelle.
Suara langkah kuda akhirnya terdengar dari depan estate.
Arthur langsung membuka pintu, seorang pria tinggi dengan coat abu gelap masuk sambil menghela napas panjang.
“aku menempuh perjalanan tiga hari tanpa tidur.” oceh sang tabib.
Tatapannya langsung jatuh ke William yang menyambutnya juga.
“Kalau pasienmu ternyata cuma flu biasa, aku akan meracuni tehnya.”
William bahkan tidak berkedip, ia balas, “Kalau kau terlambat satu hari lagi, aku yang akan meracunimu duluan.”
Matthew langsung terkejut, percakapan ini bukan seperti seorang tabib kepada pangeran, tetap seperti sesama teman yang sudah akrab lama.
“Wow. Kalian benar-benar berteman.” ucap Matthew.
Vance mengusap wajah capeknya.
“Mana pasiennya?”
Ruangan Vianelle hangat sekarang tapi tubuh omega itu masih terlihat terlalu kecil di atas tempat tidur, Vance mendekat perlahan, tatapannya langsung berubah serius.
Dia memeriksa: suhu tubuh, pernapasan, denyut nadi, bahkan bekas luka kecil di tangan Vianelle.
Dan semakin lama—ekspresinya makin jelek.
Matthew mulai panik. “…seburuk itu?” gumamnya.
Vance tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke Severian.
“Sudah berapa lama dia tinggal di estate ini?”
Severian perlahan menjawab, “sejak kecil.”
Vance langsung diam, lalu berkata, “Dan tidak ada yang memperhatikan kondisinya?”
Hening.
Matthew menunduk, karena sekarang pertanyaan itu terasa seperti tamparan.
Vance akhirnya berdiri pelan, untuk pertama kalinya—mereka melihat kemarahan di wajah tabib itu.
“…gila.”
William langsung menegang, karena Vance jarang bicara seperti itu.
“Tubuh omega tidak seharusnya dipaksa hidup dalam suhu sedingin ini selama bertahun-tahun.”
“Kurang nutrisi.”
“Kurang istirahat.”
“Terlalu banyak stres.”
Tatapan Vance jatuh lagi pada Vianelle yang tidur di atas ranjang.
“Tubuhnya bertahan terlalu lama sendirian.”
Severian langsung mengepal tangannya.
“Jelaskan lebih jelas kepada ku.”
Vance menatapnya lamaLalu akhirnya berkata pelan, “Tubuh Vianelle berhenti berkembang dengan baik sejak lama, your highness.”
Matthew langsung membeku. “…apa?”
Vance menarik napas pelan.
“Omega membutuhkan lingkungan stabil. Kehangatan. Nutrisi. Dan rasa aman. Kalau tidak tubuh mereka perlahan mulai menghancurkan diri sendiri.”
Tatapannya berubah dingin. Ruangan langsung sunyi total, Matthew merasa mual, William perlahan menutup matanya, dan Severian bahkan tidak bergerak.
Karena untuk pertama kalinya—mereka sadar, Vianelle tidak hanya hidup kesepian, dia juga hidup dalam keadaan sakit selama bertahun-tahun.
Vance kembali bicara pelan.
“Dia sering pusing?”
Severian mengangguk kecil.
“Sulit tidur?”
“…iya.” balas Severian.
“Tubuh dingin bahkan saat cuaca hangat?”
William perlahan mengepal tangannya, karena tadi dia sendiri merasakan tangan Vianelle yang sedingin es.
Vance akhirnya berkata pelan, “kalau kalian terlambat sedikit lagi, tubuhnya mungkin mulai gagal mempertahankan dirinya sendiri.”
Matthew langsung berdiri, “MEREKA MEMBIARKAN INI TERJADI?!” Suara Matthew pecah total.
William langsung memalingkan wajah, rahangnya mengeras, sangat marah.
Dan Severian justru terlalu diam.
Tatapannya hanya tertuju pada Vianelle yang tertidur lemah di atas ranjang. Karena sekarang semua rasa bersalah itu berubah jadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Marah.
Marah pada kerajaan.
Marah pada keluarganya.
Marah pada dirinya sendiri.
Karena orang yang perlahan ia coba cintai ternyata perlahan hancur, sementara semua orang berpura-pura itu normal.
Vance akhirnya memecah keheningan, ia bertanya, “Siapa yang mengurusnya selama ini?”
Arthur yang menunggu di depan kamar Vianelle menampakkan dirinya.
“Yang mengurusnya sejak kecil kepala pelayan estate, kemudian saat prince Vianelle remaja kepala pelayan menyuruh anaknya Mr.Boo yang saat itu seusia prince beda 1 tahun lebih muda sebagai pelayan pribadinya, kemudian di estate ini hanya sisa tiga pelayan lama yang, rata-rata para pelayan juga tidak di beri latar belakang pendidikan yang bagus, sir.” jelas Arthur.
“Panggil mereka.” ucap Vance.
Tak lama kemudian, Mr. Boo datang bersama empat pelayan lainnya, mereka semua sudah tua hanya Mr. Boo yang seusia mereka sekarang, pakaian mereka pun sederhana, wajah mereka pun pucat saat melihat suasana ruangan.
Mr. Boo membungkuk dalam, “Your highness…” panggilnya saat melihat Vianelle terbaring lemah di atas ranjang.
Vance langsung bicara tanpa basa-basi, “sudah berapa lama kondisi prince Vianelle seperti ini?” Tanyanya.
Ketiga pelayan itu menatap kepala pelayan dan Mr. Boo dengan rasa takut dan ragu.
“sejak lama, sir.” ucap kepala pelayan.
Matthew langsung menoleh cepat.
“Apa maksudmu sejak lama?” tanyanya.
Para pelayan langsung menunduk makin dalam.
“Yang mulia kecil memang tidak pernah kuat sejak remaja. Dulu beliau sering demam saat musim dingin, sering pingsan setelah beraktivitas dan sulit makan.” ucap kepala pelayan lagi.
Matthew langsung mundur satu langkah, ia pun bertanya, “tidak ada yang melapor ke istana?”
Hening menghampiri mereka, dan keheningan itu sendiri sudah jadi jawaban.
Mr. Boo menutup matanya.
“Kami pernah mencoba, tapi tabib istana selalu berkata kondisi omega memang lebih lemah, kami para beta dan tidak mengerti pendidikan soal itu makanya kami menurut, mereka juga bilang selama your highness masih bisa berjalan dan berbicara… maka beliau baik-baik saja.” jelas Mr. Boo yang membuat semua orang di kamar Vianelle membeku.
Matthew menangis, benar-benar pecah.
“Bagaimana bisa kalian bilang dia baik-baik saja?!”
Suaranya bergetar parah.
“Kakak ipar tinggal di tempat dingin seperti ini, bahkan dia hampir tidak punya pakaian hangat! dia sakit selama bertahun-tahun!!!” ujar Matthew meluapkan emosinya.
“…kami tahu.” ucap salah satu pelayan wanita tua.
“Tapi yang mulia kecil tidak pernah ingin membuat masalah, beliau selalu berkata baik-baik saja pada kondisinya.”
Matthew menegang, itu membuat dirinya hancur karena sekarang ia sadar kakak iparnya tidak bilang itu karena benar-benar baik, tetapi karena tidak ada yang pernah datang saat dia meminta tolong.
Pangeran bungsu itu langsung menutup wajahnya, tangisnya pecah total sekarang, dan William sejak tadi diam akhirnya mendekat pelan, ia tidak pandai menenangkan orang, tidak pandai juga berkata manis, tapi saat melihat Matthew menangis seperti itu hatinya ikut sakit.
William menarik Matthew mendekat, ia membiarkan Matthew duduk di salah satu kursi disana dan membiarkan pangeran bungsu itu memeluk pinggangnya, ia juga mengusap bahu Matthew pelan.
“Bernapas dulu.” ucapnya.
Matthew menggelengkan kepala, “ini gila, benar-benar gila!”
William menatapnya lama, untuk pertama kalinya sang pelayan pribadinya melihat tuannya bertatapan lembut seperti ini.
“aku tahu.” padahal sebenarnya William sendiri juga marah.
“Tubuhnya bisa di pulihkan.” ucap Vance memecahkan suasana, Severian langsung menoleh cepat.
“Kita mulai perlahan dari fisiknya, Your Highness berikan dia nutrisi yang baik, ruangannya harus selalu hangat dan jangan biarkan dia terlalu stress. yang paling penting, omega membutuhkan rasa aman untuk benar-benar pulih.” ucapnya kepada Severian.
Ruangan langsung sunyi, karena mereka tahu Vianelle tidak pernah punya itu.
Vance berjalan mendekat kerarah Severian yang duduk di sebelah Vianelle.
“Kalau kondirinya memburuk lagi, tubuhnya bisa berhenti bertahan.”
Kalimat itu membuat Matthew langsung menangis lagi, William menggenggam bahunya lebih erat, sedangkan Severian masih diam, terlalu diam.
Tatapannya tertuju lada Vianelle, pada wajah omeganya yang pucat, pada tangan dingin yang sekarang ia genggam pelan.
Lalu akhirnya Severian berbicara, suaranya rendah dan hampir pecah.
“Apa dia pernah menangis?”
Semua orang langsung diam, Mr. Boo perlahan menunduk, matanya mulai merah.
“Tidak di depan kami, your highness.” ucapnya.
Itu langsung menghancurkan Severian, ia merasa degup jantungnya tidak stabil, karena artinya bahkan saat hancur Vianelle tetap berusaha terlihat baik-baik saja sendirian.
Severian perlahan menundukkan kepalanya, tangannya menggenggam jemari Vianelle makin erat, dan untuk pertama kalinya Matthew melihat kakaknya benar-benar terlihat takut. Takut kehilangan seseorang.
Dia masih duduk di sisi ranjang Vianelle, tangannya tidak pernah lepas dari jemari Omega itu, seolah takut melepaskannya sedikit saja Vianelle akan kembali sendirian lagi.
Lampu minyak kecil di ruangan memantulkan cahaya hangat ke wajah cupat Vianelle, ia baru sadar sesuatu.
Kamar ini terlalu kosong, luas dan kosong, tidak ada rak buku, meja belajar, tinta, catatan kerajaan. padahal Vianelle adalah seorang pangeran.
“Mana buku-bukunya?” tanyanya.
Semua orang terdiam. Matthew menoleh cepat, melepas pelukannya dari pinggang Wiliam.
“Kak kau sudah tinggal disini berapa minggu tapi kau baru sadar?” tanya Matthew.
Severian acuh, dia terus berbicara, “Seorang pangeran seharusnyapunya ruangan belajar, pelajaran politik, sejarah kerajaan, etika bangsawan, gurunya mana?”
Tatapannya jatuh pada Mr. Boo.
“Tidak pernah ada guru yang datang ke estate ini, your highness.” ucapnya.
Matthew terkejut, “apa?”
“Awalnya ada janji dari istana, tapi setelah beberapa bulan mereka berhenti mengirim siapapun.” lanjutnya.
William mengepal tangannya dan Matthew terlihat benar-benar tidak percaya.
“Tidak mungkin, dia anggota kerjaan, bagaimana mungkin mereka tidak mengirim guru?!” ujar Matthew yang kembali kesal.
Salah satu pelayan perempuan tua mulai menangis lagi.
“Your highness kecil biasanya belajar sendiri dari buku lama mendiang ibunya, tapi sebagian besar buku itu rusak karena lembab.”
Matthew kembali terkejut.
“Prince Vianelle tidak pernah mendapatkan pendidikan kerajaan dengan baik, dia tidak mengerti etika kerajaan your highness, makanya saya memohon maaf jika Prince Vianelle mengatakan sesuatu yang menurut kalian tidak memiliki etika.” ucap Mr. Boo sambil menundukkan tubuhnya.
Hening kembali menghantam ruangan, William memalingkan wajahnya cepat, rahangnya mengeras parah.
ini bukan hanya seorang pengabaian, ini penghancuran perlahan-lahan.
“Bagaimana dengan membaca?” tanya Severian perlahan.
Mr. Boo langsung diam. itu membuat semua orang panik.
“Mr. Boo.” Suara Matthew gemetar.
“Apa maksud dari diam itu?” tanya Severian.
Salah satu pelayan menangis, “your highness kecil bisa membaca kata sederhana, ttapi beliau kesulitan membaca teks kerajaan, kami disini juga buta huruf, tidak ada yang bisa mengajarkannya.”
Matthew membeku total, William menutup matanya, rasanya sangat perih dihati.
Sedangkan Severian, untuk pertama kalinya air matan jatuh di wajahnya.
Sunyi.
Tidak ada suara.
Hanya satu tetes air mata yang jatuh pelan ke tangan Vianelle.
Matthew memandang kakaknya, Severian tidak pernah menangis. Tidak bahkan saat perang. Tidak saat terluka. Tidak bahkan saat hampir mati. Tapi sekarang, dia menangis karena seseorang yang selama ini menderita sendirian.
Ia menundukkan kepalanya saat ini, tangannya gemetar kecil saat mengenggam jemari Vianelle.
“Dia sendirian selama ini.” suaranya pecah.
“Selama aku disini, aku bahkan tidak mengetahuinya.”
Matthew ikut menangis lagi dan William yang biasanya tenang pun terlihat matanya sudah merah, karena tidak adil, semuanya terasa terlalu tidak adil.
Hal yang paling menyakitkan bahwa omega itu tumbuh menjadi seseorang yang lembut.
Severian menghapus air matanya. Tatapannya jatuh kembali pada Vianelle, sangat lembut.
“Aku akan mengubah tempat ini, bukan hanya bangunnya, tapi arti dari rumah itu sendiri.” ucapnya.
Tangannya membelai jemari dingin Vianelle.
“Aku akan membuat tempat ini hangat, aku akan memenuhi tempat ini dengan buku, dengan cahaya, dengan orang-orang yang peduli padanya.”
Suara Severian nyaris pecah lagi.
“Dan mulai sekarang, dia tidak akan merasa sendirian lagi.”
메타데이터
- post_id
- 0f186fa558f9
- slug
- make-him-safe-0f186fa558f9
- url
- https://medium.com/@scarsshadow1708/make-him-safe-0f186fa558f9
- canonical_url
- https://medium.com/@scarsshadow1708/make-him-safe-0f186fa558f9
- author_url
- https://medium.com/@scarsshadow1708
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 21:25:18