← Back to list

Mengapa Perempuan Kaya Raya Cenderung Melakukan Operasi Kosmetik demi Tetap Merasa Cantik?

Sementara laki-laki kaya raya tak mengikuti jalan serupa

Ringgo in Komunitas Blogger M · 2026-06-03 23:41 · 181 claps · 6.6 min read paywalled
#komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia #sosial #perilaku #bahasa
Open on Medium ↗

FRAGMEN BAHASA

Mengapa Perempuan Kaya Raya Cenderung Melakukan Operasi Kosmetik demi Tetap Merasa Cantik?

Sementara laki-laki kaya raya tak mengikuti jalan serupa

Foto oleh Izzy Park di Unsplash.

Foto oleh Izzy Park di Unsplash.

Belum jadi anggota Medium? Klik di sini untuk lanjut membaca secara cuma-cuma. 🔑🔓

Bibir yang lebih berisi, hidung yang lebih mancung, atau kerutan dahi yang tak tampak lagi merupakan beberapa perubahan penampilan yang diidam-idamkan sejumlah perempuan. Kita bisa dengan mudah mendapati yang seperti ini di televisi dan media sosial kita. Yang paling lazim barangkali dari kalangan penyanyi, pemain sinetron, pembawa acara, anggota DPR, hingga sosialita.

Semakin murahnya biaya dan semakin mudahnya akses ke operasi kosmetik membuat praktik yang awalnya hanya lumrah di kalangan perempuan kaya raya ini sekarang juga biasa di kalangan menengah. Kalau kamu bekerja di perkantoran Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, bukan tak mungkin manajermu atau bahkan rekan kerjamu juga melakukan praktik operasi kosmetik.

Uniknya, ini tak begitu lazim di kalangan laki-laki, termasuk laki-laki yang kaya raya. Benar bahwa ada satu-dua yang melakukannya, tetapi ada jauh lebih banyak laki-laki yang mampu secara finansial memilih untuk tetap bertahan dengan dahi keriput, hidung tak mancung, dan rambut tipis menuju botak. Wajahnya memang sehat, bersih, dan berseri, tetapi itu semua tak disempurnakan mengikuti standar kecantikan kalangan perempuan yang sehari-harinya sama-sama bergelimang harta dan kemewahan.

Sebelum jauh, saya harus menafikan bahwa esai ini saya tulis bukan untuk menghakimi pilihan perempuan atas tubuhnya sendiri. Sebagai laki-laki, saya pribadi menghormati apa pun yang membuat perempuan merasa bahagia, terlebih lagi ketika keputusan itu memang dilakukan secara sadar dan menggunakan sumber daya yang dia miliki.

Esai ini juga tak membahas dari sisi moral dan agama. Esai ini hanya mencoba memotret fenomena linguistik yang ada secara deskriptif, yakni mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki sering kali membicarakan kecantikan dengan keunikan pemahaman yang berbeda.

Wacana di televisi dan media sosial kita

Di televisi dan media sosial kita, wajah dengan operasi kosmetik cukup sering tersaji seperti pencapaian pribadi: sebelum dan sesudah, rasa percaya diri yang meningkat, hingga komentar-komentar penuh pujian dari warganet. Fenomena ini bisa kita pahami sebagai bagian dari pembentukan identitas melalui **wacana**.

Ungkapan seperti “versi terbaik diriku” atau “aku makin percaya diri” tak hanya menggambarkan perubahan fisik, tetapi juga membangun makna tentang apa yang dianggap cantik. Bagi banyak perempuan, tindakan semacam ini menjadi cara untuk merasa lebih nyaman dengan tubuh sendiri, memperoleh pengakuan sosial, dan mendekatkan diri pada standar kecantikan yang beredar luas dalam ruang-ruang digital.

Uniknya, dari sudut pandang sebagian laki-laki, fenomena ini sering terasa asing. Tak sedikit laki-laki yang justru memaknai perubahan alami seperti kerutan, penuaan kulit, atau tampilan wajah yang tak muda lagi sebagai sesuatu yang “indah secara manusiawi”. Perubahan semacam ini bisa kita kaitkan dengan pemaknaannya tentang pengalaman hidup, kedewasaan, dan autentisitas.

Dalam konteks ini, kecantikan tak selalu terletak pada kesempurnaan visual, melainkan pada jejak waktu yang membuat seseorang tampak semakin matang sekaligus tetap autentik. Tubuh, dalam kacamata laki-laki, bisa dimaknai sebagai sarana menyimpan kisah perjalanan hidup seseorang. Termasuk dalam baik dan buruknya rupa, serta rasa bahagia dan sengsara sebagai pemiliknya.

Kecantikan sebagai tanda

Tubuh bisa kita pahami sebagai **tanda*, yang terdiri atas [signifier (penanda) dan signified* (petanda)](https://en.wikipedia.org/wiki/Signified_and_signifier). Bibir yang lebih berisi, hidung yang lebih mancung, atau kerutan dahi yang tak tampak lagi bukan sekadar konstruksi biologis. Semua itu bisa jadi penanda yang masyarakat kita asosiasikan dengan makna tertentu: “muda”, “sehat”, “sukses”, atau “menarik”.

Perspektif perempuan dan laki-laki tentang tanda ini bisa berbeda. Banyak perempuan hidup dalam lingkungan sosial yang menjadikan wajah sebagai “teks sosial” yang terus dibaca orang lain. Sedikit ketidaksempurnaan bisa dianggap sebagai kekurangan yang perlu diperbaiki. Oleh karenanya, operasi kosmetik tak harus selalu kita pahami sebagai penolakan terhadap diri sendiri, melainkan sebagai proses “mengedit tanda” agar pesan sosial yang diterima orang lain menjadi paripurna.

Sementara itu, laki-laki justru membaca tanda dengan cara berbeda. Kerutan atau penuaan merupakan tanda asli dari pengalaman hidup manusia itu sendiri. Dan keaslian tanda yang diubah terlalu drastis bisa dianggap menghilangkan “narasi manusia” yang tertulis pada wajahnya.

Perbedaan perspektif ini menunjukkan bahwa kecantikan bukanlah entitas objektif. Ia adalah hasil negosiasi makna dalam masyarakat. Wajah akhirnya bukan lagi sekadar wajah. Ia menjadi tanda sosial yang dibebani harapan, status, dan identitas.

Orientasi sosial dalam bahasa

Dalam kajian sosiolinguistik, terdapat gagasan bahwa laki-laki dan perempuan sering menggunakan bahasa dengan orientasi sosial yang berbeda. Tak jarang, komunikasi perempuan berorientasi pada membangun koneksi, sedangkan komunikasi laki-laki cenderung berorientasi pada posisi.

Konsep ini membantu menjelaskan mengapa standar kecantikan lebih intens dirasakan perempuan. Dalam banyak komunitas sosial, perempuan lebih sering berada dalam budaya evaluasi visual yang terus berlangsung dalam percakapan sehari-hari. Pokok komentarnya tak jauh-jauh dari soal wajah, kulit, rambut, hingga berat badan. Bahkan pujian sederhana seperti “ih, kamu makin cantik deh” secara tak langsung menegaskan bahwa penampilan adalah aspek penting dari nilai sosial perempuan.

Istilah seperti “glow up” ikut menambah tekanan yang ada, menunjukkan bagaimana kecantikan diperlakukan layaknya proyek peningkatan diri. Tak hanya keseluruhan tubuh, tampilan wajah pun jadi sesuatu yang bisa (dan dalam konteks ini: perlu) untuk “dioptimalkan”. Salah satunya melalui operasi kosmetik.

Laki-laki pada umumnya cenderung dibesarkan dengan narasi berbeda. Mereka lebih jarang dinilai secara sosial berdasarkan detail wajah. Karena itu, sebagian pria bisa lebih mudah menerima penuaan alami sebagai sesuatu yang biasa. Sangat sangat biasa. Dari sudut pandang laki-laki, usaha mengubah wajah secara signifikan melalui operasi kosmetik malah terasa berlebihan karena mereka memang tak menghadapi tekanan sosial yang sama dengan perempuan.

Hal ini memperlihatkan bahwa perbedaan perspektif bukan semata-mata persoalan biologis, melainkan pengalaman sosial yang dibentuk oleh bahasa. Perempuan dan laki-laki hidup dalam ekosistem kata-kata yang berbeda, sehingga keduanya memaknai tubuh dengan cara yang berbeda pula.

Media dan produksi makna

Pada era digital, bahasa kecantikan tak lagi dibangun oleh keluarga atau lingkungan sekitar kita saja, tetapi juga oleh algoritma. Media sosial menghadirkan ribuan wajah perempuan setiap hari, lalu secara perlahan membentuk semacam **dialek visual** yang muncul di mana-mana: kulit yang cerah, hidung yang mancung, pipi yang ramping, rahang yang tegas, dan wajah yang simetris.

Dialek visual yang lantas berterima tadi begitu dekat dengan konsep **ideologi bahasa, yakni keyakinan sosial tentang bentuk bahasa yang dianggap ideal. Dalam konteks modern kita, kecantikan bekerja seperti [dialek yang paling bergengsi](https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_prestige_dialects)** dalam linguistika. Sebagaimana beberapa dialek dianggap lebih “berkelas”, beberapa bentuk wajah juga dianggap lebih “bergengsi”, lebih “berkelas”, lebih “keren”, dan lebih mudah diterima secara sosial.

Akibatnya, perempuan sering mengalami tekanan untuk mendekati bentuk ideal tersebut. Ketika seseorang melihat wajah-wajah dengan detail-detail ideal yang serupa secara terus-menerus di media sosial, hal tersebut lama-kelamaan terasa normal dan menjadi standar. Bahkan keputusan menjalani operasi kosmetik bisa muncul bukan karena kebencian terhadap bentuk wajah sendiri, tetapi karena adanya proses adaptasi terhadap standar visual yang terus direproduksi berulang kali.

Di sisi lain, sejumlah laki-laki justru merasa dunia digital membuat wajah menjadi terlalu seragam. Mereka melihat hilangnya kekhasan individual yang ada pada senyum unik yang membentuk kerutan pada bagian bawah mata, hidung khas etnis tertentu, atau tanda-tanda penuaan alami yang sebenarnya membuat seorang perempuan tampak begitu manusiawi.

Menariknya, kedua perspektif yang bertentangan ini sejatinya sama-sama lahir dari relasi sosial. Perempuan mungkin melihat operasi kosmetik sebagai bentuk kemerdekaan dan pemberdayaan atas tubuhnya, sementara laki-laki barangkali melihat kecantikan alami sebagai bentuk kejujuran identitas. Tak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Keduanya hanyalah hasil konstruksi budaya yang memang berlainan.

Ketika “menua” punya nilai bahasa

Barangkali kamu pernah mendapati seseorang, kemungkinan besar seorang laki-laki, yang mengomentari perubahan bentuk hidung, bibir, atau bagian wajah lain dari seorang selebritas perempuan dengan ungkapan “lah, ini mah cantikan sebelum oplas”, “padahal cantikan kalo muka yang biasa aja”, atau dengan ungkapan-ungkapan serupa.

Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan bahwa penuaan tak diposisikan sebagai kerusakan, melainkan sebagai proses estetis. Dalam pragmatika, makna dari suatu ungkapan sangat dipengaruhi nilai budaya di baliknya. Ketika seseorang mengatakan bahwa kerutan wajah itu indah, dia sedang mengubah kerangka makna tentang usia.

Laki-laki tampaknya lebih mudah menerima konsep ini karena mereka tak selalu dituntut mempertahankan wajah muda sepanjang waktu. Dalam budaya populer kita, laki-laki paruh baya dengan kerutan wajah mungkin disebut “dewasa” atau bahkan “berkarisma”, sementara perempuan yang serupa lebih sering menghadapi tekanan untuk tetap tampak “awet muda”. Ada asimetri di sana.

Karena itu, saat laki-laki mengatakan bahwa mereka menyukai kecantikan alami, pernyataan tersebut boleh-jadi terdengar membingungkan bagi perempuan yang sejak lama hidup di bawah bayang-bayang standar visual yang begitu ketat. Perempuan mungkin akan berpikir: “Kalau natural memang cukup, lantas mengapa dunia terus menilai penampilan perempuan dengan begitu keras?”

Di titik ini, kita bisa mengarifi bahwa diskusi soal operasi kosmetik sebenarnya bukan soal kecantikan semata. Ini adalah pertemuan dua sistem makna yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Yang satu lahir dari tekanan sosial untuk tampil ideal, sementara yang satu lagi lahir dari romantisasi terhadap keaslian dan proses penuaan.

Memahami fenomena tanpa perlu menghakimi persona

Dari fenomena perempuan kaya raya yang cenderung melakukan operasi kosmetik demi tetap merasa cantik dan laki-laki kaya raya yang tak mengikuti jalan serupa, kita bisa belajar bahwa pemaknaan akan kecantikan memang tak pernah benar-benar netral.

Kecantikan selalu dipengaruhi bahasa, budaya, media, pengalaman hidup, dan cara masyarakat memandang tubuh manusia. Apa yang dianggap indah oleh satu kelompok bisa terasa janggal bagi kelompok lain, bukan karena salah, tetapi karena kelompok-kelompok tersebut tumbuh dalam sistem makna yang berbeda.

Perempuan mungkin menemukan kebahagiaan melalui perubahan wajah yang membuat mereka lebih percaya diri. Laki-laki mungkin lebih memilih wajah yang menua secara alami karena melihatnya sebagai narasi kehidupan itu sendiri. Saya kira, kedua pandangan ini bisa hidup berdampingan tanpa harus saling merendahkan.

Karena barangkali, kedewasaan sosial akan mudah berkembang ketika kita tak terus-menerus memaksakan definisi “cantik” versi kita sendiri, dan berkenan memahami bahwa setiap orang sedang bernegosiasi dengan tubuh, memaknai jalannya waktu, dan menghadapi tekanan sosialnya masing-masing.

Terima kasih telah membaca sejauh ini. Jika menyukainya, mungkin kamu juga akan menyukai tulisan-tulisan saya tentang **buku, [film dan musik](https://ringgo.medium.com/list/music-0d42ebfd8fc4), [linguistika](https://ringgo.medium.com/list/linguistics-b96094909652), [refleksi diri](https://ringgo.medium.com/list/reflections-85ee21d6f0ec), dan yang [lainnya](https://ringgo.medium.com/list/others-cf2bebaa976a)**.

Foto oleh Izzy Park di Unsplash.

Foto oleh Izzy Park di Unsplash.


메타데이터
post_id
0f1b969c936e
slug
mengapa-perempuan-kaya-raya-cenderung-melakukan-operasi-kosmetik-demi-tetap-merasa-cantik-0f1b969c936e
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/mengapa-perempuan-kaya-raya-cenderung-melakukan-operasi-kosmetik-demi-tetap-merasa-cantik-0f1b969c936e
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/mengapa-perempuan-kaya-raya-cenderung-melakukan-operasi-kosmetik-demi-tetap-merasa-cantik-0f1b969c936e
author_url
https://medium.com/@ringgo
status
ok
fetched_at
2026-06-11 21:11:36