← Back to list

Kenapa Belanjaan Dapur Makin Mahal Padahal Katanya Inflasi Turun

Kamu berdiri di kasir minggu lalu, lihat total belanja bulanan, lalu mengerutkan dahi. Isi keranjangmu kira-kira sama dengan bulan lalu…

Money Effect Indonesia · 2026-06-30 05:37 · 3 claps · 4.7 min read
#keuangan-pribadi #inflasi #personal-finance #literasi-keuangan #money
Open on Medium ↗
Wiki topics: PFI · Personal Finance ECO · Economy · General

Kenapa Belanjaan Dapur Makin Mahal Padahal Katanya Inflasi Turun

Kamu berdiri di kasir minggu lalu, lihat total belanja bulanan, lalu mengerutkan dahi. Isi keranjangmu kira-kira sama dengan bulan lalu: beras, telur, ayam, minyak goreng, cabai. Tapi angkanya naik lagi. Padahal baru kemarin kamu baca berita yang bilang inflasi “terkendali”. Kalau perasaan itu familiar, kamu tidak salah hitung, dan kamu tidak sedang berlebihan.

Aku mengalami hal yang sama. Aku termasuk orang yang lumayan rajin mencatat belanja bulanan di aplikasi. Selama beberapa bulan awal tahun ini, totalnya cenderung adem, naik tipis-tipis, sesuai dengan berita yang bilang inflasi sedang melandai. Lalu bulan lalu, angka di catatanku melonjak lagi tanpa aku menambah barang baru apa pun. Di titik itu aku berhenti percaya pada satu angka headline, dan mulai membongkar isinya. Ternyata jawabannya ada di tempat yang paling sering kamu sentuh: rak bahan pokok.

Angka yang “Adem” di Berita, Dompet yang Panas di Rumah

Mari kita mulai dari angka yang dipakai semua berita. Inflasi tahunan Indonesia per Mei 2026 tercatat 3,08%. Sebulan sebelumnya, April, angkanya masih 2,42%. Artinya dalam satu bulan, laju kenaikan harga secara umum justru naik, bukan turun.

Coba kita terjemahkan ke dompet. Inflasi 3,08% berarti barang dan jasa yang setahun lalu kamu beli dengan Rp 1.000.000, sekarang butuh sekitar Rp 1.030.800 untuk barang yang sama persis. Kelihatan kecil? Masalahnya, gajimu kemungkinan besar tidak ikut naik 3,08% dalam setahun. Jadi secara diam-diam, daya beli gajimu menyusut, dan kamu menutupnya dengan mengurangi jatah lain.

Coba pakai angka yang lebih nyata. Misalkan anggaran belanja dapurmu Rp 2.500.000 sebulan, angka yang wajar untuk keluarga kecil di kota. Dengan inflasi kelompok makanan 4,94% setahun, untuk membeli isi keranjang yang sama persis kamu butuh sekitar Rp 2.623.500, atau tambahan Rp 123.500 setiap bulan. Setahun, itu hampir Rp 1,5 juta yang menguap hanya untuk berdiri di tempat yang sama. Bukan untuk makan lebih enak, hanya untuk makan yang sama seperti tahun lalu.

Tapi ada yang lebih menyebalkan dari sekadar angka naik. Yang naik bukan barang yang jarang kamu beli. Yang naik justru isi piringmu setiap hari. Di sinilah jarak antara “berita” dan “dompet” itu lahir. Berita bicara rata-rata. Dompetmu bicara rak dapur.

Satu Angka Itu Sebenarnya Tiga Angka

Ini bagian yang jarang dijelaskan media populer, dan justru di sinilah kuncinya. Angka inflasi headline yang kamu baca itu bukan satu benda. Dia gabungan dari tiga lapisan yang bergerak dengan kecepatan berbeda.

Lapisan pertama, komponen inti atau core inflation. Ini inflasi “bersih”: harga barang dan jasa yang relatif stabil, di luar pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah. Per Mei 2026, core ada di sekitar 2,59%. Tenang, jinak. Ini angka yang paling sering dipakai untuk bilang inflasi “terkendali”.

Lapisan kedua, harga bergejolak atau volatile food. Ini yang bikin kaget. Komponen ini tercatat 6,24% secara tahunan di Mei 2026, lebih dari dua kali lipat core. Isinya persis yang kamu beli rutin: beras, daging ayam, cabai merah, cabai rawit, bawang merah. Kalau kamu gabungkan satu lapisan jinak dengan satu lapisan yang panas, lalu kamu rata-ratakan, hasilnya kelihatan “sedang-sedang saja”. Itulah headline 3,08%.

Lapisan ketiga, harga yang diatur pemerintah, seperti BBM nonsubsidi dan tarif. Ini juga sempat menambah tekanan lewat ongkos transportasi dan logistik, yang ujungnya nempel lagi ke harga pangan di pasar.

Sekarang lihat satu angka yang paling nyambung ke struk belanjamu. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara keseluruhan naik 4,94% secara tahunan, dan dia penyumbang terbesar inflasi Mei dengan kontribusi 1,43% dari total 3,08%. Artinya hampir separuh inflasi yang kamu rasakan bulan lalu datang dari satu kelompok: yang kamu makan. Jadi bukan perasaanmu yang lebay. Matematikanya memang menempatkan beban terbesar di meja makanmu.

Disinflasi April Itu Cuma Jeda, Bukan Tren

Selama beberapa bulan, narasi besarnya adalah “disinflasi”, istilah keren untuk laju inflasi yang melambat. Harga masih naik, tapi naiknya makin pelan. Itu kabar baik, dan itu nyata di April.

Lalu Mei datang dan membalik arah. Headline naik dari 2,42% ke 3,08% dalam sebulan. Pendorongnya bukan hanya pangan. Emas perhiasan ikut melonjak dan menambah tekanan, didorong harga emas global yang tinggi. Tapi yang menyentuh pembaca sehari-hari tetap pangan, karena emas bisa kamu tunda beli, sedangkan beras dan minyak tidak.

Kenapa pangan bisa berbalik naik secepat itu? Karena harga pangan punya pemicu yang berbeda dari inflasi inti. Dia sensitif ke musim panen, gangguan pasokan, cuaca, dan biaya distribusi. Satu rantai pasok tersendat, harga di pasar bisa lompat dalam hitungan minggu. Itu sebabnya komponen ini disebut “bergejolak”. Dia tidak sabar menunggu tren makro yang rapi.

Buat kamu yang ikut mengikuti data, ada momen menarik yang sedang berlangsung. Data inflasi Juni 2026 akan dirilis BPS pada 1 Juli, persis setelah artikel ini kamu baca. Angka itu yang akan memberi tahu kita: apakah lonjakan Mei cuma anomali sebulan, atau awal tren reakselerasi yang akan terus menggerus dompet di paruh kedua tahun ini. Kamu sekarang tahu harus melihat ke mana: bukan cuma headline, tapi baris harga bergejolak.

“Tapi Kan Core Masih Rendah?” Betul, dan Itu Justru Masalahnya

Mungkin kamu, atau temanmu yang lebih melek ekonomi, berkata: core masih 2,59%, jadi tekanannya sementara, nanti juga reda. Argumen itu masuk akal dan tidak salah. Bank sentral memang lebih memperhatikan core karena dia mencerminkan tekanan harga yang lebih permanen.

Tapi ada dua hal yang sering terlewat. Pertama, kamu tidak hidup di angka core. Kamu hidup di harga bergejolak, karena itu yang kamu beli tiap hari. Bagi anggaran rumah tangga, inflasi pangan 6,24% jauh lebih terasa daripada core 2,59%, apa pun yang dibilang teori.

Kedua, dan ini yang lebih penting untuk keputusan finansialmu: harga pangan yang naik membatasi ruang gerak Bank Indonesia. Selama inflasi total terjaga di kisaran sasaran, BI punya ruang untuk menahan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan, yang biasanya kabar baik buat cicilan. Tapi kalau pangan terus mendorong headline naik, ruang itu menyempit. Bunga acuan yang lebih sulit turun berarti bunga KPR dan cicilanmu cenderung bertahan tinggi, dan bunga deposito tidak ikut terdorong naik secepat itu. Jadi harga cabai di pasar, lewat jalur yang panjang, ikut menentukan beban cicilan rumahmu. Itu bukan kebetulan kecil.

Yang Bisa Kamu Lakukan Sebelum Data Juni Keluar

Kamu tidak bisa mengendalikan harga beras nasional. Tapi kamu bisa mengendalikan timing dan struktur belanjamu, dan itu lumayan.

Pertama, pisahkan belanjamu jadi dua jenis: yang tahan lama dan yang cepat busuk. Untuk barang tahan lama seperti beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok kering, masuk akal untuk stok lebih banyak saat harga sedang turun atau ada promo, karena tren komponen ini sedang naik. Untuk yang cepat busuk seperti cabai dan sayur, jangan menimbun, karena risikonya kamu membuang uang lewat barang yang membusuk. Di sini fleksibel lebih hemat daripada menimbun.

Kedua, jadikan struk belanjamu sebagai data pribadi. Catat total belanja dapur tiga bulan terakhir. Kalau naik konsisten, anggaran dapurmu sudah tidak realistis, dan menyesuaikan pos lain lebih baik dilakukan sekarang daripada saat tabungan mulai bocor diam-diam.

Ketiga, satu pertanyaan untuk kamu jawab sebelum menutup artikel ini. Kalau harga pangan naik 6% setahun sementara penghasilanmu tidak, dari mana selisihnya kamu tutup bulan ini: dari menahan pengeluaran lain, atau dari tabungan yang seharusnya bekerja untukmu? Jawaban jujurmu atas pertanyaan itu jauh lebih penting daripada angka headline mana pun yang besok pagi keluar dari BPS.


메타데이터
post_id
0f8d2b30be54
slug
kenapa-belanjaan-dapur-makin-mahal-padahal-katanya-inflasi-turun-0f8d2b30be54
url
https://medium.com/@moneyeffectid/kenapa-belanjaan-dapur-makin-mahal-padahal-katanya-inflasi-turun-0f8d2b30be54
canonical_url
https://medium.com/@moneyeffectid/kenapa-belanjaan-dapur-makin-mahal-padahal-katanya-inflasi-turun-0f8d2b30be54
author_url
https://medium.com/@moneyeffectid
status
ok
fetched_at
2026-07-15 00:06:11