← Back to list

Pinjol Jadi Jaring Pengaman Generasi Muda Bertahan Hidup

Hampir separuh populasi di Indonesia merupakan generasi muda. Mereka adalah generasi milenial (kelahiran 1981–1996) dan generasi Z…

imron mustofa · 2026-06-13 15:05 · 0 claps · 2.7 min read
#pinjol #milenial #gen-z #fintech
Open on Medium ↗
Wiki topics: FIN · Fintech & Banking

Pinjol Jadi Jaring Pengaman Generasi Muda Bertahan Hidup

Hampir separuh populasi di Indonesia merupakan generasi muda. Mereka adalah generasi milenial (kelahiran 1981–1996) dan generasi Z (kelahiran 1997–2012), yang masing-masing mencapai proporsi 24,34% dan 24,93% dari total jumlah penduduk. Artinya, 49,27% penduduk Indonesia merupakan generasi muda atau kelompok produktif (data BPS).

Secara kuantitatif, hal ini merupakan sinyal positif untuk mendukung program pembangunan nasional dan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Bagaimana tidak, dua generasi tersebut merupakan generasi yang paling melek terhadap teknologi dan digital, jauh lebih baik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Sehingga, harapan besar ada di pundak mereka, untuk membawa Indonesia sebagai negara yang tangguh, mandiri, dan inklusif di tengah penetrasi teknologi (dan AI).

Namun realitanya, banyak di antara mereka yang justru kesulitan dalam bertahan dalam kondisi ekonomi terkini. Mulai dari tingginya pengangguran di kalangan muda, PHK massal hingga minimnya literasi keuangan disertai desakan ekonomi yang membuat mereka terjebak pada pinjaman online.

Survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa ternyata Generasi Z dan Milenial menjadi generasi paling banyak mengakses layanan jasa pinjaman online (pinjol) pada 2025 dan 2026.

Ada kecenderungan peningkatan pemanfaatan pinjol generasi milenial, yakni dari 45.2% pada 2025 menjadi 45.6% pada 2026. Sementara generasi Z ada sedikit penurunan namun masih tinggi, yakni 41.5% pada 2025, turun menjadi 35.7% pada 2026.

Saat ditanya mengenai peruntukan dana, baik Gen Z maupun milenial umumnya menggunakan pinjol untuk kebutuhan mendesak, seperti biaya kesehatan dan terdesak utang. Mereka juga menggunakan pinjol untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda sangat rentan secara ekonomi. Pinjol digunakan bukan untuk kebutuhan sekunder atau tersier, tetapi benar-benar kebutuhan primer. Benar-benar untuk bertahan hidup!

Generasi muda menjadi kelompok usia yang paling tidak stabil secara ekonomi. Mereka membutuhkan layanan akses keuangan yang mudah dan tanpa agunan agar dapat tetap bertahan hidup di tengah upah mereka yang secara peningkatan jauh tertinggal dari laju inflasi. Belum lagi bagi mereka yang menjadi sandwich generation -menopang hidupnya, keluarganya dan juga orang tuanya.

Jika dilihat berdasarkan pendapatan, ternyata orang-orang yang menggunakan jasa pinjol juga mereka yang termasuk kelompok upah menengah ke bawah. Setidaknya, ada peningkatan persentase kelompok menengah ke bawah mengakses pinjol dari tahun sebelumnya.

Pada rentang pendapatan Rp1–2,5 juta perbulan, ada 24.7% pada 2026, meningkat dari sebelumnya yang hanya 17.5%.

Sementara itu, untuk orang dengan pendapatan Rp2,5–5 juta perbulan, ada peningkatan secara signifikan pada tahun ini. Yakni mencapai 53.5% pada 2026, naik hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya 16.9%.

Menjadi Generasi Gagal Bayar

Tingginya tren pemanfaatan jasa pinjol kalangan muda untuk kebutuhan mendesak dan membeli kebutuhan sehari-hari menampakkan bahwa generasi ini menjadikan pinjol sebagai jaring pengaman yang mudah diakses.

Jasa keuangan ini juga tampaknya menjadi alternatif bagi pekerja berupah rendah untuk menyambung hidup. Apalagi setelah semakin menjamurnya layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater yang semakin variatif dan mudah diakses.

Namun, jaring pengaman ini juga ternyata tidak cukup untuk menopang kebutuhan ekonomi generasi muda. Karena, setelah ditelusuri, mereka juga banyak yang tidak bisa mencicil atau mengembalikan pinjaman online. Alias, mereka kini justru menjadi generasi gagal bayar.

INDEF melihat fenomena generasi muda terjerat pinjol dan pada akhirnya gagal bayar sebagai masalah struktural. Menurutnya, indeks inklusi keuangan Indonesia hanya 75%. Sementara kepemilikan rekening umur 15+ baru sekitar 56%.

Akibatnya, banyak generasi muda yang kesulitan mendapat akses kredit formal. Apalagi dengan adanya pendapatan yang labil dan ketiadaan/minimnya riwayat kredit.

Di sisi lain, fenomena gagal bayar pinjol juga muncul lantaran dana tersebut digunakan untuk konsumsi harian, lifestyle dan cicilan barang konsumtif.

Ekonomi Senior INDEF Tauhid Ahmad menyebut bahwa fenomena ini bukan pertanda baik bagi masa depan generasi muda. Menurutnya, alih-alih digunakan untuk konsumsi harian, penggunaan dana pinjol lebih baik digunakan ke arah produktif.

Namun, hal ini menyisakan pertanyaan. Jika untuk keperluan dasar (konsumsi harian) saja generasi muda banyak yang masih membutuhkan pinjol bahkan banyak di antara mereka gagal bayar. Maka, bagaimana mungkin generasi muda mampu memanfaatkan jasa keuangan ini untuk dialokasikan pada hal-hal produktif semacam wirausaha atau membangun sebuah bisnis?


메타데이터
post_id
0fa10bda5ad8
slug
pinjol-jadi-jaring-pengaman-generasi-muda-bertahan-hidup-0fa10bda5ad8
url
https://medium.com/@imronmustofa/pinjol-jadi-jaring-pengaman-generasi-muda-bertahan-hidup-0fa10bda5ad8
canonical_url
https://medium.com/@imronmustofa/pinjol-jadi-jaring-pengaman-generasi-muda-bertahan-hidup-0fa10bda5ad8
author_url
https://medium.com/@imronmustofa
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13