Pérsib Bandung!
Tidak bisa saya bayangkan, saya seorang anak keturunan jawa tulen yang sempat bermigrasi ke Jawa Barat (Kota Tasikmalaya) hanya untuk…
Pérsib Bandung!
Tidak bisa saya bayangkan, saya seorang anak keturunan jawa tulen yang sempat bermigrasi ke Jawa Barat (Kota Tasikmalaya) hanya untuk melanjutkan hidup bisa terikat kontrak seumur hidup yaitu kontrak menjadi pendukung tim Persib Bandung. Bahkan bukan terikat kontrak, tetapi memang saya sudah ditakdirkan oleh tuhan untuk mencintai klub ini sampai akhir hayat.
Semua dimulai di Tahun 2009, dimana saya pertama kali menginjakan kaki di Priangan Timur di umur 6 Tahun.
Sejak kecil saya memang sudah suka sepakbola, seperti laki-laki pada umumnya saya saat kecil sering bermain bola di lapangan TK saya, bahkan jika di lapangan tidak bisa saya bermain bola di lorong kelas TK saya. Sebetulnya saya di masa lalu tidak tahu mengapa saya mencintai klub Persib Bandung, mungkin pada awalnya saya rasa “jika saya tinggal di Tasikmalaya pastinya harus dukung klub yang didukung mayoritas warga Tasikmalaya yaitu, Persib Bandung” ditambah memang tetangga-tetangga juga pendukung Persib Bandung karena tetangga saya kerap kali berisik malam-malam karena menonton pertandingan Persib Bandung di televisi.
Semakin bertambah usia semakin bertambah juga kecintaan saya dengan Persib Bandung. Kenapa bisa ya? Apakah karena dipaksakan?
Beranjak ke usia yang lebih dewasa, saya semakin merasa terikat dengan Persib Bandung, yang awalnya hanya menonton 1–2 pertandingan saja sampai pada akhirnya saya menonton pertandingan Persib Bandung setiap minggu, dan setiap ada acara televisi ulasan sepakbola yang selalu saya cari adalah berita tentang Persib Bandung. Hal ini ditambah dengan faktor lingkungan pertemanan saya yang memaksa saya untuk terus update tentang Persib Bandung agar tetap memiliki “teman”, karena tidak dapat dipungkiri bahwasannya 80% pembicaraan anak cowo di Tasikmalaya adalah:
“Pérsib kamari maén na asa goreng euy”
“Kamari Pérsib asa teu puguh striker na”
“Pérsib jigana moal juara tahun ieu”
“eh iraha deui pérsib maén?”
Hal ini membuat saya memang “terpaksa” untuk selalu update tentang Persib Bandung agar saya bisa di terima pertemanan sekolah saya di Tasikmalaya. Meskipun pada awalnya saya melakukan secara “terpaksa”, tetapi lama-kelamaan rasa cinta itu timbul perlahan-lahan. Titik saya menyadari saya telah mencintai klub ini adalah dimana ketika saya menonton secara langsung tim Persib Bandung yang sedang melakukan pertandingan uji coba di Kota Ciamis (salah satu kota di wilayah Priangan Timur, 1 jam dari Kota Tasikmalaya), saat itu saya rela menonton di pinggir lapangan (betul-betul di pinggir garis out lapangan sepakbola) dan saya merasakan kebahagiaan ketika saya menonton pemain Persib Bandung yang biasa saya tonton di televisi. Hal itu merupakan kenangan yang tidak dapat saya lupakan dalam hidup saya. Hal yang paling membahagiakan ketika saya mendukung Persib Bandung adalah ketika Persib Bandung juara liga Indonesia di tahun 2014, dimana saya saat itu merasakan adrenaline ketika menonton adu penalti antara Persib Bandung dengan Persipura Jayapura, adapun setelah tahun tersebut Persib Bandung memasuki “masa kegelapan” ketika Persib Bandung tidak pernah berprestasi kembali dan lebih sering bongkar pasang pemain dan pelatih hingga juara kembali pada tahun 2023.
Persib Bandung mengajarkan saya “jika memang sudah cinta, semakin besar rasa ingin melupakan justru akan semakin besar rasa ingin kembali lagi”
Setelah 12 tahun perjalanan saya di Kota Tasikmalaya, saya harus melanjutkan perjalanan saya berlanjut di Pulau Sumatra untuk melanjutkan kuliah. Pada fase ini, saya secara sadar mulai melupakan Persib Bandung, saya mulai jarang menonton pertandingan Persib Bandung karena mungkin kesibukan atau hanya sekedar malas saja (padahal biasanya saya selalu meluangkan waktu untuk menonton Persib Bandung). Mungkin awalnya saya biasa saja, tetapi lama-kelamaan saya merasa ada yang “kurang” di hidup saya. Ketika saya merasa “kurang” kebetulan terlintas di timeline Instagram saya akun Persib Bandung yang saat itu juara liga Indonesia. Didalam benak saya mulai berfikir:
“Apa nonton Persib lagi ya?”
“Keknya seru sih ngikutin Persib lagi”
“Plis Persib kali ini main di Asia yang bagus ya”
Hal itu semakin meyakinkan saya untuk pada akhirnya kembali untuk rutin mendukung Persib Bandung. Pada akhirnya saat ini saya kembali rutin menonton pertandingan Persib Bandung (bahkan saya rela untuk menolak ajakan teman-teman saya jika ajakan tersebut bertabrakan dengan pertandingan Persib Bandung), selain itu saya juga mulai membeli jersey asli Persib Bandung (walaupun yang paling murah) sebagai bentuk dukungan finansial dari saya untuk Persib Bandung.
Seperti dalam lagu elvis Presley “But i can’t help falling in love with you”
Persib Bandung mengajarkan pada saya bahwasannya kecintaan yang nyata tidak timbul dalam waktu 1–2 bulan saja, kecintaan tersebut timbul dalam waktu bertahun-tahun dan harus mengalami naik-turun dalam perjalanannya. Selain itu, cinta yang murni dapat menimbulkan keterikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kondisi apapun dan tak lekang oleh waktu.
Sib, We will still behind you!
메타데이터
- post_id
- 0fc11ebfcc52
- slug
- pérsib-bandung-0fc11ebfcc52
- url
- https://medium.com/@novanwahyuramadhan2303/p%C3%A9rsib-bandung-0fc11ebfcc52
- canonical_url
- https://medium.com/@novanwahyuramadhan2303/p%C3%A9rsib-bandung-0fc11ebfcc52
- author_url
- https://medium.com/@novanwahyuramadhan2303
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-09 00:30:16