Daonuea Project #1: The Red Room
Tak ada jalan keluar dari sini.
Daonuea Project #1: The Red Room
Tak ada jalan keluar dari sini.

Seisi ruangan itu merah. Setiap sisinya — tembok, lantai, dan langit-langit seluruhnya berwarna merah tanpa sedikitpun corak. Juga tak ada satupun barang yang dapat menciptakan siluet disana. Ruangan itu kosong melompong dan sama sekali tak bercelah. Tak ada pintu, tak ada jendela, tak ada perabotan. Ruangan itu seperti kotak kosong menyesakkan yang habis direndam semalaman dalam ember sirup stroberi.
Sea memandang seluruh sisi ruangan dengan linglung. Mengerjap beberapa kali, ia berusaha memastikan bahwa warna merah yang memenuhi indra penglihatnya bukanlah ilusi pasca bangun tidur belaka. Kepala Sea dipenuhi pertanyaan setelah kesadarannya setengah terkumpul. Namun, satu pertanyaan yang paling mengganggunya adalah, dimana ia? Ia mengangkat kedua tangan berbalut piyama yang ia ingat betul ia kenakan tepat sebelum tidur pukul sebelas malam tadi. Tangan yang sering dipuji para fans karena selalu tampak seputih porselen itu kini teredam dalam warna merah ruangan ini. Sea mendongak, berusaha mencari lampu atau sumber cahaya merah yang membuat ruangan ini tampak seperti satu sisi kaca mata 3D di bioskop. Nihil. Sea tak bisa menemukan apapun dalam ruangan itu. Warna merah itu seolah ada disana begitu saja dan membuat segala hal di dalamnya memiliki warna serupa.
Sea mencoba bangkit berdiri. Tubuhnya terasa berat, ia bisa merasakan pegal menjalari setiap titik krusial dalam tubuhnya. Kaki, tangan, pundak, dan butuh beberapa detik sebelum Sea merasakan telinganya juga berdenging dan seketika membuat sisi kanan kepalanya nyeri. Sea mendesis, refleks memegangi kepala. Denging di telinganya perlahan menghilang, membawa pergi rasa nyeri sesaat yang mendera kepalanya. Setelah rasa sakit itu pergi, Sea mematung. Telinganya hening. Terlalu hening hingga rasanya sangat aneh. Sea mencoba membuka mulut, menyuarakan apa saja yang telinganya bisa dengar. Panik seketika menjalari kepala Sea ketika tak ada sedikitpun suara yang dapat ia dengar sekeras apapun ia merasa telah berteriak. Belum habis keterkejutannya, Sea mencicit saat cahaya merah di ruangan itu perlahan berkedip seperti lampu yang diutak-atik tombol switch-nya.
Sea beringsut mundur dari duduk, merapat ke tembok karena kedipan cahaya disana semakin terasa intimidatif. Sea ketakutan. Namun daripada itu, ia juga bingung. Ia sama sekali tidak tahu dimana ia berada atau apa yang menyebabkan ia berada di tempat ini. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia tidur di kamar asrama-nya selepas berlatih. Kenapa ia bisa bangun disini? Adrenalin Sea semakin berpacu saat kedipan cahaya di ruangan itu jadi semakin cepat dan menyilaukan. Sea melemas, Cahaya merah yang berkedip-kedip dengan cepat ini membuatnya pusing. Ia mencoba meraba tembok dan lantai yang bisa dijangkaunya, mencari jalan keluar. Nihil. Ruangan ini benar-benar tak bercelah. Sea mulai panik, menggedor tembok di belakangnya sembari berteriak. Tak ada suara yang keluar. Sea merasa tangannya ngilu dan sakit karena menggedor tembok itu sekuat tenaga, tapi sama sekali tak ada suara yang keluar.
Cahaya di ruangan itu semakin cepat berkedip. Denging di telinga Sea kembali, kali ini dibarengi dengan nyeri yang menyerang seluruh kepalanya hingga ke dalam. Sea terhuyung, bersandar terduduk pada tembok sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti dipukuli sesuatu dengan keras tanpa jeda. Sea menjerit, berteriak, meminta apapun yang membuatnya seperti ini berhenti membunuhnya perlahan-lahan. Sakit. Sakit sekali. Rasa sakit yang seolah ingin menyedot seluruh kesadarannya tanpa sisa itu membuat Sea meraung dan mencakar-cakar lantai seperti kesetanan. Denging di telinganya sangat menyakitkan. Begitu kuat dan tak berjeda hingga rasanya Sea seperti bisa mendengar seseorang berusaha berbicara padanya melalui dengingan itu. Tanpa sadar, Sea sudah kembali menghadap tembok, membenturkan kepalanya ke tembok yang teredam warna merah itu sekeras yang ia bisa. Seluruh rasa sakit baru yang timbul dari benturan kepalanya dengan tembok itu masih tak bisa mengalahkan denging menyakitkan dan nyeri gila-gilaan yang menyerang.
Sea tak bisa berhenti. Tembok di hadapannya mulai berubah warna menjadi merah pekat. Denging itu masih menguasainya. Sea memaki, memohon, menangis, ingin menyudahi siksaan yang diterima telinga dan kepalanya. Ia membenturkan kepalanya semakin keras, merasakan warna merah di tembok itu semakin pekat dibarengi dengan cairan berwarna serupa yang mulai membasahi wajahnya.
“Hentikan! Kumohon hentikan!”
“Bunuh saja aku! Biarkan aku mati! Jangan menyiksaku seperti ini, aku mohon!”
Sea mengeja apapun yang bisa ia ucapkan tanpa bisa mendengar suaranya sendiri. Denging itu semakin kencang, cahaya di ruangan itu berkedip semakin gila, dan ketika Sea hampir menghancurkan kepalanya sendiri dengan menghantamkannya ke tembok sekali lagi, seluruh rasa sakit itu sirna begitu saja.
Sea temenung di tempatnya berdiri. Rasa sakit di dalam kepalanya menghilang, berganti dengan nyeri luar biasa yang ia rasakan di dahi. Nyeri yang lebih manusiawi. Sea memandang tembok di hadapannya. Tembok yang dipenuhi oleh darah dari kepalanya itu membuat Sea bergetar di tengah kebingungan dan ketakutan. Tangannya perlahan bergerak meraba dahi. Dahi indah yang selalu dipuji fans sebagai ‘jidat tampan sang visual’ itu kini entah bagaimana bentuknya. Sea melihat tangannya sendiri dan nyaris menangis histeris saat melihat warna merah segar yang menutupi seluruh permukaan tangannya.
Di tengah rasa sakit dan panik itu, Sea merasa sesuatu baru saja muncul di belakangnya. Pemuda itu menoleh dan mendapati sisi seberang ruangan itu kini memiliki pintu.
Pintu. Sebuah jalan keluar. Secercah harapan timbul di benak Sea. Neraka misterius ini sudah berakhir. Ia bisa pergi dari ruangan aneh ini. Sea berjalan tertatih menuju seberang. Pintu kaca itu terasa sangat familier, namun Sea tidak dapat mengingat dengan pasti dimana ia menjumpai pintu seperti itu. Selain itu, ia terlalu bersemangat untuk segera melarikan diri hingga tak lagi memikirkan apapun.
Sea berjalan terseok secepat yang bisa ia lakukan, memaksa kakinya untuk berlari menuju pintu itu meski kejadian barusan membuatnya nyaris tak memiliki tenaga untuk berdiri. Belum sempat mencapai setengah bagian ruangan, Sea merasakan kedua kakinya memberat secara bersamaan seperti dibelenggu. Sea tak ingin hal itu menjadikan alasannya gagal untuk melepaskan diri, maka dengan setiap langkah yang terasa begitu melelahkan dan tetes demi tetes darah yang mengalir dari kepalanya, ia berusaha mencapai pintu di seberang ruangan.
Bak sebuah ilusi di film fantasi penyihir, tembok di sisi kanan dan kiri Sea mendadak berubah menjadi cermin, persis seperti cermin ruang latihan dimana ia dan seluruh anggota timnya berlatih nyaris setiap malam. Di dalam cermin itu pula terpantul lengkap bayangan ruang latihan dengan lemari dan barang-barang lain yang sama sekali tak ada di ruangan itu. Sea berusaha menghiraukan keanehan itu meski ketakutan mulai membuatnya ingin menangis putus asa. Namun, sebuah suara yang akhirnya memasuki telinga membuatnya seketika mematung.
“Sea,”
Setelah seluruh siksaan itu, Sea akhirnya bisa kembali mendengarkan suara. Suara yang memanggil namanya. Sea menoleh ke sisi kiri ruangan tempat suara itu berasal, memastikan bahwa suara itu benar-benar memanggilnya dan berharap bisa mengeluarkannya dari sini.
Pemandangan cermin yang sangat familier itu pun tampak di depan mata, disertai dengan pantulan bayangan seseorang yang selama tiga tahun belakangan ini ia hafal dengan baik. Zayn. Teman satu tim yang menjadi teman sekamarnya itu berdiri di sana, menggantikan pantulan bayangan Sea yang sama sekali tak ada seolah ia adalah hantu.
“Zayn…,” Sea bingung. Ia tidak tahu ia harus merasa lega atau justru ketakutan. Zayn yang tersenyum dari dalam cermin sama sekali tak membuatnya berpikir ia bisa melepaskan diri dari mimpi buruk ini. “Zayn, kumohon lepaskan aku. Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini, kumohon tolong aku,” Sea menangis putus asa, nyaris terduduk di depan bayangan sang teman yang menatap tanpa reaksi. Senyum di pantulan bayangan Zayn tak berubah. Tepat sebelum Sea merangkak ketakutan menuju pintu, ia menjerit histeris ketika mendapati Zayn di dalam cermin itu meledak seperti bom, memuncratkan berliter-liter cairan merah ke seluruh penjuru ruangan, memencarkan setiap bagian tubuhnya yang tak lagi berbentuk entah kemana.
“ZAYN!”
Tubuh Sea kuyup oleh darah sang kawan yang terciprat. Pandangannya seketika kabur. Sayup-sayup, ia bisa mendengar suara Zayn entah dari mana berulang kali meneriakkan namanya dengan nada tidak senang. Dan ketika suara itu menjadi semakin dekat, Sea membuka mata lebar-lebar, menyadari bahwa ia telah bangun di kamar asrama dengan tubuh basah kuyup. Sea menoleh ke sisi kiri tempat tidurnya, mendapati Zayn dengan piyama anak ayam berdiri di sana sambil memegang gayung kuning yang masih terlihat basah.
“Bangun, atau kali ini kau kusiram pakai kuah tomyum?!”
메타데이터
- post_id
- 0ff5b7dc8a3c
- slug
- blood-coated-cube-0ff5b7dc8a3c
- url
- https://medium.com/@dragonsarentfly/blood-coated-cube-0ff5b7dc8a3c
- canonical_url
- https://medium.com/@dragonsarentfly/blood-coated-cube-0ff5b7dc8a3c
- author_url
- https://medium.com/@dragonsarentfly
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13