COD iPad
Liora dengan gelisah merapatkan cardigannya, sesekali melirik layar ponsel yang menampilkan chatroom terakhirnya dengan penjual iPad…
COD iPad
Liora dengan gelisah merapatkan cardigannya, sesekali melirik layar ponsel yang menampilkan chatroom terakhirnya dengan penjual iPad misterius yang ia temukan di Linkonpedia. Sebagai overthinker akut, kepala Liora mulai dipenuhi dengan skenario buruk yang bisa terjadi.
Gimana kalau ini beneran penipu yang kedoknya COD? Gimana kalau iPadnya HDC? My angpao😭😭😭
“Kak Cardigan Merah?”
Dua suara yang bersamaan mengejutkan Liora. Liora hampir menjatuhkan ponselnya dari tangannya. Liora menatap 2 orang tersebut, mereka memiliki wajah yang sangat mirip dan memakai pakaian kasual yang rapih. Mereka berdua tersenyum lebar dengan mimik wajah jahil yang tidak bisa ditutupi.
“Gue Luke,” kata yang sebelah kiri.
“Gue Kieran,” lanjut yang sebelah kanan.
“Dan kami berdua” ucap mereka bersamaan, “…bukan penculik.”
Liora otomatis mundur selangkah, menatap dua makhluk ini dengan curiga. “Kalian asistennya kaka yang jual iPad?”
“Wah bossman sudah punya panggilan imut tersendiri yah, Luke,” Kieran terkekeh, memberi isyarat dengan tangannya agar Liora mengikuti mereka. “Bos sudah menunggu di dalam. Tenang saja, area VIP restoran ini sangat aman kalau kamu mau teriak minta tolong.”
Liora menelan ludah sambil sedikit berdebar dalam hatinya. Kata-kata ‘VIP’ dan ‘Bos’ sama sekali tidak cocok dengan transaksi iPad bekas seharga 500 ribu rupiah. Tetapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takut dan ia benar-benar butuh iPad untuk kuliah (sebetulnya untuk scrolling tiktok) ia akhirnya maju untuk mengekori si kembar masuk ke dalam restoran itu.
Suasana restoran begitu sunyi, berbanding terbalik dengan kebisingan jalanan di luar. Luke dan Kieran membimbing Liora menuju sebuah meja di sudut ruangan yang semi tertutup oleh kaca buram sebagai partisi.
“Silakan, ka,” Luke membukakan jalan dengan gestur sopan yang lebay.
Saat Liora melangkah masuk, napas Liora seolah tertahan selama beberapa detik.
Di ujung meja, duduk seorang pria dengan postur tubuh tegap dan bahu lebar yang terbalut kemeja hitam dengan kancing atas yang sengaja dibiarkan terbuka. Rambutnya yang berwarna perak tampak sedikit berantakan namun tertata sempurna. Tatapan matanya yang tajam dan berwarna merah gelap langsung terkunci pada Liora begitu gadis itu masuk.
Serem banget kayak mau makan aku, eh?
Pria itu sedang menyesap minumannya dengan ketenangan yang mengintimidasi. Di atas meja di depannya, terdapat sebuah kardus putih berlogo Apple yang masih tampak sangat mulus, seperti brand new.
“Duduk,” suara pria itu berat, dalam, dan memiliki getaran yang seksi yang membuat bulu kuduk Liora merinding, bukan karena takut, tetapi karena hal lain yang tidak bisa dijelaskan.
Liora duduk di kursi seberang pria itu dengan canggung. Dibawah meja, ia meremas ujung cardigan merahnya. “Ini betul kaka yang jual iPad underprice, kan ya?” tanyanya dengan ragu.
Sylus meletakkan gelas minumannya perlahan. Sudut bibirnya terangkat, seperti smirk. “Jadi, kamu pembeli skeptis yang menuduh sayapenculik dan penipu?”
“Maaf kalau kakak tersinggung. Habisnya, siapa yang bakal percaya ada orang jual iPad Pro seharga lima ratus ribu?” gumam Liora, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya agar tidak terlihat ciut. “Lagian 500 ribu aja kurang buat beli chargernya doang, kak. Saya trauma punya riwayat ketipu soalnya.”
Sylus melipat tangan di dada sembari memperhatikan gerak-gerik Liora yang terlihat gelisah. “Alasan yang masuk akal. Tapi saya rasa, ketakutanmu sedikit berlebihan untuk seseorang yang berani datang sendirian ke sarang ‘penculik’. Aslinya kamu penasaran juga, kan?”
Mata Liora membelalak sedikit, tetapi ia tetap menjaga imagenya dengan baik. “Ga sih ka, biasa aja. Jangan kepedean.”
Sylus justru terkekeh pelan mendengar hal itu. Suara tawa rendahnya terdengar sangat seksi, membuat pipi Liora mendadak terasa panas (sedikit pikiran liar kemana mana, hehe).
Sylus memajukan tubuhnya, menumpu sikunya di atas meja dan menatap Liora dari jarak yang lebih dekat. “Kamu sudah telanjur masuk ke sini.”
Sekali lagi, Liora menahan napas, matanya membelalak sedikit.
“Santai saja, Sweetheart,” sela Sylus, matanya berkilat jenaka saat melihat reaksi panik Liora. Ia menggeser kotak iPad di atas meja ke arah Liora.
Deymn, stop buat merinding.
“Periksalah. Aku tidak suka dituduh menjual barang tiruan.”
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Liora membuka kotak tersebut. Di dalamnya ada sebuah iPad Pro yang benar-benar mulus, tanpa goresan sedikit pun. Ia mencoba menekan tombol power, dan layar yang jernih langsung terpampang jelas. Semuanya asli. Layarnya lancar, responsif, dan bahkan memiliki storage yang paling besar.
Liora mendongak, kembali menatap Sylus dengan tatapan tidak percaya. “Ini benar-benar asli. Pasti ini barang sitaan pejabat korupsi, ya? Tapi kok cuma lima ratus ribu?”
“Uang bukan masalah bagi saya,” jawab Sylus santai, seolah pembicaraan tentang ratusan ribu rupiah ini adalah hal paling tidak penting di dunia (dunianya). “Saya hanya sedang membersihkan laci, menemukan barang yang tidak saya pakai, dan 2 orang kembar disana bilang ada platform untuk menjual barang bekas.”
“Emangnya ga rugi?”
“Lalu? Kamu mau membayar lebih?” Sylus menaikkan sebelah alisnya.
Liora langsung memeluk kotak iPad itu erat-erat ke dadanya, seolah takut Sylus akan berubah pikiran. “Tidak, hehe.”
Dengan cepat, Liora merogoh tasnya dan mengeluarkan dompetnya. Ia menarik 5 lembar uang kertas berwarna merah, yang sudah agak lecek karena terlalu lama disimpan. Ia menyusun 5 lembar uang tersebut di atas meja dengan rapi.
Sylus memandangi tumpukan uang lecek berwarna merah itu, lalu memandang Liora dengan tatapan geli yang tak bisa ia sembunyikan. Bagi seorang pemimpin seperti Sylus yang biasa bertransaksi dengan angka yang tidak dapat Liora bayangkan, melihat 5 lembar seratus ribuan di atas mejanya adalah pemandangan yang sangat unik.
“Ini uangnya. Pas, lima ratus ribu. Tidak kurang, tidak lebih,” ucap Liora bangga, meski hatinya sedikit meringis merelakan sisa uang angpaonya yang sudah habis.
Sylus tidak menyentuh uang itu. Ia justru menatap Liora dengan intens, membuat Liora mendadak salah tingkah.
“Apa?” tanya Liora defensif. “Uangnya asli, kok! Bukan uang barbie.”
“Aku tahu,” kata Sylus pelan. Ia mengetukkan jarinya di atas meja. “Aku hanya berpikir. Transaksi ini terlalu cepat selesai setelah semua kecurigaan yang kamu berikan pada saya lewat chat.”
“Kan barangnya sudah saya periksa, uangnya sudah saya bayar. Apalagi yang kurang?”
Sylus mengulas senyum misterius (yang seksi). “Bagaimana dengan kompensasi untuk tuduhan ‘penculik’ dan ‘penipu’ yang kamu tujukan pada saya?”
Liora mengerutkan kening. “Loh, kan saya sudah minta maaf tadi.”
“Minta maaf sekali itu murah, Sweetheart,” sahut Sylus dengan nada menuntut yang manja namun tegas. “Saya dengar restoran ini punya menu dessert yang cukup terkenal. Temani aku makan siang, dan kita anggap hutang tuduhanmu lunas.”
Liora tertegun. Ia menatap Sylus, lalu melirik ke arah luar partisi kaca di mana Luke dan Kieran tampak berdiri berjaga sambil sesekali memberikan ibu jari tanda setuju ke arah mereka dengan senyum lebar.
Sepertinya mereka itu memang sudah sekongkolan menjebakku. Lumayan menarik tawarannya, tapi ini kayak sama sugar daddy😭
“Temani makan siang?” tanya Liora memastikan lagi.
“Kenapa? Takut saya menaruh sesuatu di makananmu?” goda Sylus lagi, matanya menyipit meledek.
Liora mendengus kecil, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang mulai menggila karena pesona pria berambut perak di hadapannya ini. Ia meletakkan iPad barunya di samping kursi, lalu merapikan cardigannya dengan gaya sok cuek andalannya.
“Siapa takut. Tapi, kakak yang bayar, kan?”
Sylus tertawa lepas, suara tawa yang begitu hangat hingga memenuhi ruangan privat tersebut. “Anggap saja ini layanan after sales dari saya.”
메타데이터
- post_id
- 0ff9ef6158d2
- slug
- cod-ipad-0ff9ef6158d2
- url
- https://medium.com/@qinchesdick/cod-ipad-0ff9ef6158d2
- canonical_url
- https://medium.com/@qinchesdick/cod-ipad-0ff9ef6158d2
- author_url
- https://medium.com/@qinchesdick
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 05:26:43