Keceriaan Anak-anak dan Puisi-puisi lainnya
Keceriaan Anak-anak dan Puisi-puisi lainnya

1/ BERIBU SUMBU
Bangun pagi Ayam berkokok lagi Entah kapan semua ini Berhenti— tatkala aku mati?
Tapi matahari terus saja Menyinariku saat ke Utara Dan malamnya, bulan Menyinariku ketika berada di selatan.
Kiamat yang ditunggu! Bukankah sudah hadir Bersama darah-darah di bibir Dan, hei, api dapat membakar beribu sumbu
:Untuk membakar kiamat, dan kematian yang semakin mendekat.
2/ DAN SEPERTI
Kematian selalu hadir Dalam gerak Dan Dalam henti
Seperti makan yang tak berarti Seperti Hijau daun yang coklat mati Dibakar Dikremasi
3/ WAKTU DAN TEBASAN
Di tengah orang ramai Yang sedang dibantai Seorang anak mengayunkan pedang Dan mengeluarkan suara menantang.
Tertebas leher-leher petani Walau mulut telah mengeluarkan negosiasi —Dihantam —Diinjak Menari-nari anak itu seolah surga.
Dan sisanya, anak-anak lain tertawa Melihat si anak pemegang pedang Akan mati, oleh waktu dan pedang lainnya.
4/ MELUMAT HABIS
Angin kencang membawa hujan Pada tanah yang coklat gersang Disingkapnya kekeringan Bunga-bunga pun bermekaran.
Padi-padi menyembul Menggantikan bunga-bunga Dengan cepat manusia Melumat habis semuanya.
5/ TIMBUNAN KERTAS
Seseorang mati Di timbunan kertas Kematiannya Menimbulkan kertas-kertas Yang menceritakan K E M A T I A N Dirinya.
6/ EPOS BINATANG
Di bawah cerahnya awan Ada ancaman-ancaman Seekor kucing mengintai Siap menerkam tikus.
Tapi tikus, memohon Agar dirinya diperbolehkan Lewat tanpa terkaman Kucing membusungkan dada —bangga.
Kucing merasa jadi Raja Mempermainkan tikus yang tak berdaya Hingga, tikus menghantam kucing Membuatnya terjatuh dari singgasana.
Dan tikus pun dapat lewat Tanpa harus menundukkan kepala Sebab tidak ada lagi raja Dan semua tikus kini hidup dengan bahagia.
7/ MENJADI
Kuberharap menjadi sapu lidi —Atau kemoceng Tuk membersihkan hati berdebu Dan coreng moreng dalam kalbu
8/ REZIM MUSOLINI
Nois disusul darah Berdentingan pecah Gelas-gelas dan piring murah.
Loreng-loreng sipil memukuli Orang yang dulu merasa lebih tinggi Seperti berada di rezim Musolini!
9/ KECERIAAN ANAK-ANAK
Anak-anak berlarian dengan ceria Setelah melempari pintu rumah tetangga Lalu menghina para orang tua Yang memarahi kelakuan mereka.
Untuk menghilangkan dahaga Pergi mereka ke kebun mencuri kelapa Dan untuk menghilangkan lapar Mencuri singkong untuk dibakar.
Anak-anak berlarian dengan ceria Setelah memperkosa gadis remaja Anak-anak berlarian dengan ceria Dengan wajah tak berdosa.
10/ KU
Kuhantam kepalamu dengan batu Setelah kita berdua asik bercumbu.
Tapi tentu kubukan nekrofilia Tak menyetubuhi mayat-mayat seperti negara.
Kuhanya tak mau kau menderita Dipukuli popor-popor senjata.
Karena lebih nikmat peluru Sekejap menjadikan kepala berpencar ke tujuh penjuru.
메타데이터
- post_id
- 10097bcb7b60
- slug
- keceriaan-anak-anak-dan-puisi-puisi-lainnya-10097bcb7b60
- url
- https://medium.com/@bintangaa/keceriaan-anak-anak-dan-puisi-puisi-lainnya-10097bcb7b60
- canonical_url
- https://medium.com/@bintangaa/keceriaan-anak-anak-dan-puisi-puisi-lainnya-10097bcb7b60
- author_url
- https://medium.com/@bintangaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21