Jobseeker: Not Recommended, Bintang Satu
Satu tahun lebih aku menjalani kehidupan yang monoton. Tidak mengasikkan, not recommended, bintang satu. Kalau hidup bisa diberi rating…
Jobseeker: Not Recommended, Bintang Satu

Satu tahun lebih aku menjalani kehidupan yang monoton. Tidak mengasikkan, not recommended, bintang satu. Kalau hidup bisa diberi rating seperti tempat makan di Google Maps, mungkin sudah lama aku kasih bintang satu sambil menulis ulasan panjang tentang betapa hambarnya hari-hari yang kulewati.
Hidup terasa hampa, sunyi, senyap. Hari-hari datang lalu pergi begitu saja tanpa benar-benar membawa sesuatu yang baru. Sesekali aku dihantui masa depan yang entah mau dibawa ke mana arahnya. Sebagai seorang jobseeker alias si pengangguran, kita takut semua hari, nggak cuma hari Senin.
Ketika orang-orang mulai sibuk dengan aktivitasnya, berangkat kerja, mengantarkan anak, mengejar deadline, sementara kita masih duduk dengan pikiran yang sama: sebenarnya hidup ini mau dibawa ke mana?
Pagi-pagi kita sudah gedabag-gedebug, bak buk bak buk, membantu menyiapkan dagangan ibu. Plastik ukuran ½ mulai dibuka satu-satu, kemudian diisi dan diikat dengan karet merah. Lontong mulai dipotong sesuai presisi, bukan karena kita mendadak jadi ahli matematika, tapi kalau potongannya terlalu besar kita yang rugi. Bubur kacang hijau, bubur sumsum, bubur ketan hitam mulai di-packing juga ke dalam plastik. Harganya murah, cukup tiga ribu saja per plastik. Tapi di balik harga tiga ribu itu tersimpan berjuta harapan. Harapan supaya dagangan habis. Supaya ada uang yang terkumpul. Supaya kebutuhan hari ini bisa terpenuhi. Dan kalau ada lebih sedikit, mungkin bisa disisihkan untuk merayu Tuhan.
Karena ternyata, untuk merayu Tuhan pun kadang kita butuh materi. Untuk berinfak, beramal, bersedekah. Nggak muluk-muluk, hanya ingin punya sesuatu yang bisa diberikan dari hasil tangan sendiri.
In this ekonomi , hidup memang nggak selalu seindah harapan. Uang yang kita kira akan menjadi keuntungan terkadang hanya bersisa sedikit, bahkan kadang malah menumbuhkan rugi. Maka di sela-sela suara plastik yang berdesir dan karet merah yang kutarik berkali-kali, diam-diam aku menyelipkan doa, “Tuhan, tolong menangkan hamba dalam beberapa pertempuran ini.”Bukan ingin hidup mewah. Bukan ingin semuanya serba ada. Hamba cuma ingin punya pekerjaan, punya penghasilan sendiri, dan paling tidak tidak menjadi beban bagi mereka. Berapa pun gajinya nanti, hamba akan bersyukur. Aminn.
Selama satu tahun ini, rasa hampanya semakin terasa. Ibu sibuk berdagang, bapak sibuk di sawah. Setidaknya mereka masih punya dunia untuk diajak berinteraksi. Ibu dengan kostumernya. Bapak dengan rekan-rekannya. Sementara kita sibuk menyendiri di rumah.
Hari-hari terasa panjang sekali ketika tidak ada rutinitas yang benar-benar menjadi milik kita. Kadang membuka lowongan pekerjaan, membaca persyaratannya, kemudian menutupnya lagi. Kadang mengirim lamaran dengan harapan penuh, lalu menunggu email yang entah kapan datangnya. Kadang sampai lupa sudah berapa banyak lamaran yang dikirim dan berapa banyak penolakan yang diterima.
Semakin ke sini aku malah semakin takut berinteraksi. Bukan karena benar-benar nggak suka manusia, tapi karena sudah beberapa kali mencoba berbaur dan yang datang bukan support, melainkan penghakiman yang membuat diri semakin merasa kecil.
Setiap kali bertemu, pembahasannya itu-itu saja sampai muak mendengarnya.
“Belum juga kerja?”
“Bagaimana interview kemarin?”
“Anak si A sudah kerja di sana.”
“Anak si B sudah senang, orang tuanya pasti bangga.”
P. Maksud. Dalam hati.
Kadang ingin sekali menjawab, “Iya, aku juga pengen kerja. Emangnya aku betah begini?”
Tapi tentu saja nggak semua isi kepala harus keluar dari mulut.
Apalagi kalau sudah diterima, rasanya kabar itu nggak perlu kita umumkan. So pasti akan menyebar ke mana-mana tanpa harus diinfokan.
Dan kalau belum diterima?
Pertanyaannya tetap ada.
“Sudah lamar di mana saja?”
“Yo banyaklah.”
Saking banyaknya, aku sendiri sudah lupa pernah mengirim lamaran ke mana saja. Ada yang nggak membalas, ada yang menolak, ada yang sampai interview lalu menghilang. Ada juga yang sempat membuat kita berharap, kemudian menjatuhkan kita lagi.
Banyak hal yang bikin jengkel kalau sudah ngobrol dengan orang. Bukan karena kita sombong, bukan pula karena merasa lebih baik dari siapa-siapa. Kita hanya sedang lelah menjelaskan sesuatu yang bahkan kita sendiri belum tahu kapan akhirnya. Jadi alangkah baiknya menjaga diri, menjaga hati.
Sebab tidak semua orang perlu tahu seberapa keras kita sedang berjuang. Tidak semua pertanyaan harus dijawab. Dan tidak semua percakapan harus diikuti sampai selesai.
Jujur, walaupun kita dikenal nggak suka berteman, nggak terlalu suka keramaian dan memang dari dulu lebih nyaman dengan dunia sendiri, kali ini rasanya berbeda.
Hampanya ngehampa banget.
Ada rumah untuk pulang. Ada keluarga. Ada makanan di meja. Ada ibu yang setiap pagi sibuk dengan dagangannya dan bapak yang pergi ke sawah.
Tapi tetap saja ada bagian dalam diri yang terasa kosong.
Mungkin karena terlalu lama menunggu. Mungkin karena terlalu sering melihat hidup orang lain bergerak sementara hidup sendiri seperti sedang buffering. Orang-orang seusia kita mulai punya pekerjaan, membangun karier, membeli kendaraan, menikah, atau sekadar punya rutinitas yang membuat mereka merasa hidupnya berjalan. Sementara kita masih di sini, mengirim lamaran sambil berharap ada satu saja yang mau membuka pintu.
Lucunya, dulu kita berharap punya pekerjaan supaya bisa mengeluh karena capek. Sekarang justru rela capek demi punya pekerjaan untuk dikeluhkan.
Tapi mungkin hidup memang nggak selalu harus berlari. Barangkali ada masa ketika Tuhan membuat kita berhenti bukan karena kita gagal, tetapi karena ada sesuatu yang sedang Dia siapkan di balik jalan yang belum bisa kita lihat.
Jadi untuk sekarang, ya sudah.
Kita bantu ibu membungkus bubur, memotong lontong, mengikat plastik dengan karet merah, lalu kembali mencari lowongan dan mengirim lamaran. Tetap mencoba meskipun berkali-kali kecewa. Tetap berharap meskipun kadang rasanya malu untuk berharap lagi.
Karena mungkin satu-satunya hal yang masih bisa dilakukan di tengah hidup yang terasa hampa ini adalah bertahan. Bukan karena semuanya mudah, tapi karena kita percaya akan ada satu hari ketika semua gedabag-gedebug pagi ini berubah menjadi bagian dari cerita yang bisa kita ceritakan sambil tersenyum.
Bahwa pernah ada seseorang yang hampir menyerah, tetapi memilih tetap bangun setiap pagi. Memilih membantu ibu. Memilih mencoba lagi. Memilih percaya bahwa Tuhan belum selesai menulis cerita.
Cukup sekian curcol kita hari ini.
Semoga besok ada email masuk.
Kalau belum juga, yaudah.
Kita bantu ibu jualan lagi.
Bye.
메타데이터
- post_id
- 105f8142ca0a
- slug
- jobseeker-not-recommended-bintang-satu-105f8142ca0a
- url
- https://medium.com/@hilmi30620/jobseeker-not-recommended-bintang-satu-105f8142ca0a
- canonical_url
- https://medium.com/@hilmi30620/jobseeker-not-recommended-bintang-satu-105f8142ca0a
- author_url
- https://medium.com/@hilmi30620
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-05 17:18:08