← Back to list

Nila Bilang, Ini Penolakan Langsung dari Tuhan

“Permintaan…ditolak!” jarinya mengayun kiri ke kanan, begitu pun kepalanya terteleng genit. “Ditolak langsung oleh Sang Pencipta!”

Kesemutan · 2026-04-13 21:04 · 2 claps · 2.2 min read
#cerpen #berduka #persahabatan
Open on Medium ↗

Nila Bilang, Ini Penolakan Langsung dari Tuhan

“Permintaan…ditolak!” jarinya mengayun kiri ke kanan, begitu pun kepalanya terteleng genit. “Ditolak langsung oleh Sang Pencipta!”

Nila tertawa, mengusap air matanya, “Astaga, manusia-manusia sinting!” pungkasnya.

Aku ikut terkekeh, sambil sedikit-sedikit membetulkan topi anyaman di kepala, “Tak heran, kalau kita gabung, pun, kita tak lebih waras dari mereka.”

Tawa kami mereda, membiarkan angin berpasir mengisi jeda di pinggir pantai ini. Nila masih menatap kawan-kawan kami bergila-gilaan di air asin laut, jenaka dan geli. Di sana, mereka sedang berkomplotan untuk melempar Awan ke tengah laut, menjahili pria kecil itu sepuas-puasnya. Sontak, kudengar kekehan terhibur Nila lagi.

“Ah…kasihannya. Saat aku mati nanti, pasti anak itu akan sedih.”

Nafasku tercekat, detik selanjutnya langsung kusamarkan dengan deham ringan. Aku melirik Nila dengan senyum miring, “Memang kau pikir cuma dia yang bisa sedih? Dasar…aku juga bakal sedih, lah, anak-anak lain juga pasti sedih,” kudorong sayang kepala berambut hitamnya. Nila mendengus senang, “Drama!” tangannya naik merapikan surai yang mencuat, “Nanti, jangan sedih lama-lama, apalagi gagal move on. Nggak sesuai genre.”

Alisku menukik kebingungan, “Hah? Genre?” tanyaku dibalasnya dengan cengiran lebar.

“Yah…genre hidupku, lah! Pokoknya, aku mau genre hidupku itu komedi remaja, jadi nggak heran kalau ceritanya selesai sebelum aku dewasa,” ujarnya setengah menertawakan tatapan malasku. “Jelek! Ucapanmu jelek!” lidahku terjulur mengejeknya, tapi gagal menyembunyikan seringai di bibir. Nila menghela.

“Tapi, pendapatku masih sama. Awan kasihan. Kau, kau juga kasihan,” telunjuknya menuding hidungku, “yang lain juga kasihan. Harus merasakan sedih ditinggal orang sekece dan setampan aku, ah…kasihan!” tukasnya. Kuputar muak bola mataku.

“Mungkin, mungkin memang kasihan,” aku mengiyakan ucapannya, “tapi, kau juga kasihan, Nila. Kau mati.” Nila menyeringai menyebalkan, ia menoleh cepat ke arahku sambil menjentikkan jarinya.

“Nah! Coba kasih tau aku apa yang harus dikasihani dari orang mati?” Aku diam. Satu sepoi angin lewat, disusul yang kedua sampai keempat. Saat kubuka mulut mau menjawab, Nila menyambar jeda, “Salah, jawaban salah!”

Aku merengut, ia terkikik.

“Toh, semua manusia akhirnya mati.”

“Tapi, kau mati lebih awal. Sakit pula.”

“Lalu?” Nila menatapku, kali ini dengan rasa penasaran yang sejujurnya. Aku pula menatapnya, dengan sirat mencari jawab sesungguhnya.

“Lalu…ya…tidak apa-apa,” aku bergumam, mencoba mencecap jawabanku. Selanjutnya, aku mengangguk-angguk mengamini kata-kataku sendiri, “Ya, betul, sih…tidak apa-apa.” Nila melesu, mencibir, “Tua-tua membosankan.”

Pohon kelapa yang membungkuk berdansa dituntun angin, melenggok kemayu. Kalau saja aku punya indra keenam, aku yakin batang tinggi itu pastilah sedang tersipu. Suara keriuhan kawan-kawan kami masih menggelegar di kejauhan, senormalnya mereka. Nafasku dan nafas nila terdengar seirama berbeda nada, miliknya jauh lebih berat. Sesuai hidupnya jika dibandingkan dengan milikku.

“Nila.” Kutatap mata hitam beningnya yang melebar menyahut panggilanku. Lidahku kelu, kebas. “Jangan mati.”

Nila termangu. Perlahan, tangannya terangkat, mengacungkan satu jari di depan wajahku. Matanya berkilat jenaka, dan berkilat indah, dan berkilat lapis tipis air mata. Senyumnya manis, dan cantik, dan memesona, dan semua hal intan delima di dunia.

“Permintaan…ditolak!” jarinya mengayun kiri ke kanan, begitu pun kepalanya terteleng genit. “Ditolak langsung oleh Sang Pencipta!” tambahnya dengan nada jahil miliknya seorang.

Sebal, kusambar tangan kurusnya yang dingin dan rapuh. Yang semakin dingin dan semakin rapuh ketika kusentuh tuk terakhir kalinya besok-besok.

semutdidinding


메타데이터
post_id
10b58a6dcd28
slug
nila-bilang-ini-penolakan-langsung-dari-tuhan-10b58a6dcd28
url
https://medium.com/@semutdidinding/nila-bilang-ini-penolakan-langsung-dari-tuhan-10b58a6dcd28
canonical_url
https://medium.com/@semutdidinding/nila-bilang-ini-penolakan-langsung-dari-tuhan-10b58a6dcd28
author_url
https://medium.com/@semutdidinding
status
ok
fetched_at
2026-07-29 14:54:16