← Back to list

Lucu dan Tidak Lucu

Hidup berputar-putar lebih dari sekali. Perasaan “ingin dianggap lucu” lama-lama terkikis dengan sendirinya.

Aprilia Kumala · 2025-12-02 07:19 · 101 claps · 4.0 min read
#tebak-tebakan #menjadi-dewasa
Open on Medium ↗

Lucu dan Tidak Lucu

Saya terobsesi menjadi lucu. Dulu.

Saya ingin menjadi Lupus dalam serial Lupus-nya Hilman Hariwijaya. Teman-teman Lupus, mulai dari masa kecil sampai remaja, menyukainya karena kerap melemparkan tebak-tebakan yang minimal membuat pendengarnya senyum sebaris. Gayanya khas: berjambul, mengunyah permen karet, dan mengenakan tas yang talinya sengaja dipanjangkan.

Tidak, saya tidak berjambul. Namun, saya rela mengunyah permen karet supaya “jiwa Lupus” makin terasa. Rasanya menggembirakan kalau di sela-sela kunyahan itu, saya bisa melempar tebak-tebakan, lalu membuat teman-teman saya tergelak keras.

“Dari jauh 8, pas dideketin ternyata 3. Apa, hayo?” atau “Kenapa penumpang di bus bisa tidur?” adalah sedikit dari banyak tebak-tebakan yang saya hafalkan dari tulisan Hilman, sebelum saya melemparnya kepada kawan-kawan dekat di kelas. Beberapa dari mereka mencoba menebak dengan jawaban yang membosankan (maaf!), sedangkan yang lain mengarang bebas sampai tak masuk akal. Ah, dunia memang begitu cemerlang saat kita masih duduk di kelas 4 SD dan menikmati waktu istirahat kedua menjelang makan siang!

Ilustrasi (Sumber: www.pixabay.com/stokpic)

Ilustrasi (Sumber: www.pixabay.com/stokpic)

Saya hanya terobsesi menjadi lucu.

Entah apa sebabnya. Mungkin saja karena Ayah.

Ayah saya seorang yang lucu. Dulu, Ayah beberapa kali bermain peran di atas panggung sebagai karakter yang mengocok perut. Saya mengetahuinya dari foto-foto lama — diambil jauh sebelum Ayah menikah.

Saat saya sakit dan tidak masuk sekolah (saat itu saya duduk di kelas 2 atau 3 SD), Ayah menemani saya ke rumah sakit. Sambil menunggu giliran periksa, kami berjumpa dengan kawan Ayah. Di tengah-tengah obrolan mereka, alih-alih mengeluhkan perut saya yang melilit, saya malah bertanya, “Teman di kantor Ayah yang paling lucu siapa?”

Kawan Ayah terkekeh mendengar pertanyaan itu tiba-tiba. Saya cuek dan melanjutkan pertanyaan itu dengan cerita pada Ayah soal teman sekelas saya yang bernama X. Tingkahnya lucu dan sering membuat seluruh murid tertawa. Saya mengagumi “kelucuan” yang dia punya. Bagi saya, X bisa menjadi tokoh utama cerita lucu semacam Lupus.

“Kalau di kantor Ayah, siapa?”

Kawan Ayah berdeham sebelum ikut menjawab, “Kalau di kantor, ayahmu yang paling lucu!”

Mereka berdua tertawa. Mata saya berbinar-binar. Kegirangan. Meski saya kalah lucu dibanding X, ternyata ayah saya menjadi orang yang paling lucu di kantornya. Bagi saya yang masih menjadi anak kecil, “pencapaian” itu membanggakan.

Dulu, saya sungguh terobsesi menjadi lucu.

“Pencapaian” akhirnya saya rasakan saat tugas menulis surat pada kelas 2 SD. Saya pernah menulisnya di sini: Guru saya berpendapat isi surat saya menarik karena lucu. Beberapa tahun kemudian — masih di SD yang sama — “pencapaian” yang mirip muncul pada masa Pekan Olahraga dan Seni (Porseni).

Bukan, “pencapaian” itu muncul bukan karena saya ditunjuk menjadi salah satu petugas pengibaran bendera pada upacara pembukaan, melainkan karena seorang teman berujar asal, “Kalau ada cabang perlombaan tebak-tebakan lucu di Porseni, kamu pasti ikut!”

Saya merasa hal itu serupa “pencapaian” bukan karena bayangan saya bakal mewakili sekolah dalam Porseni, melainkan karena saya merasa bahwa teman saya berpikir saya lucu.

Pada waktu lain (kali ini saya sudah duduk di bangku sekolah menengah atas/SMA), saya berusaha keras menyusun kata-kata pada profil halaman media sosial Friendster yang saya punya. Setiap baris saya susun hati-hati, menimbang-nimbang efek yang bakal diberikan pada pembaca.

Semua terasa terbayarkan penuh saat seorang teman berkata, “Cita-citamu jadi penulis komedi, ya, Li? Profilmu isinya lucu banget!”

Saya tertawa. Pura-pura cool, padahal kegembiraan membawa saya seolah-olah terbang sampai ke Planet Neptunus.

Ilustrasi (Sumber: www.pixabay.com/ClickerHappy)

Ilustrasi (Sumber: www.pixabay.com/ClickerHappy)

Saat bekerja, saya masih suka melempar tebak-tebakan; berharap sebaris kalimat tanya dan jawaban itu memberikan kesan baik dari orang lain, mengingat ekspresi muka saya menyebalkan. Pada salah satu kantor tempat saya bekerja, saya bahkan secara tidak langsung dijadikan pelengkap konten tebak-tebakan. Mereka memahami kesukaan saya bermain tebak-tebakan dan memutuskan menggunakan ilustrasi wajah saya untuk konten tebak-tebakan dari akun resmi.

Kalau dipikir-pikir, diri-saya-yang-masih-kecil pasti akan merasa bangga menyadarinya. Meski saya bukan Lupus dan meski saya tidak sempat bertemu Hilman Hariwijaya (yang selamanya akan saya sesali mengingat betapa besar saya mengaguminya), diri-saya-yang-masih-kecil itu pasti tidak berhenti tersenyum senang.

Saya menulis tulisan hari ini dengan waktu yang terlambat. Seharusnya, saya menyadarinya sejak lama — seharusnya saya berterima kasih pada diri-saya-yang-masih-kecil, yang hidup dengan terang di dalam diri saya selama bertahun-tahun. Sekarang, setelah saya tidak lagi aktif bermain tebak-tebakan, saya hanya bisa mengenangnya: mengingat momen menggembirakan bagi diri-saya-yang-masih-kecil.

Sekarang, saya tidak lagi terobsesi menjadi lucu.

Kata orang, sudut pandang kita saat dewasa bisa berubah drastis dari sudut pandang kita saat lebih muda. Saya setuju.

Dulu, saya menonton series berjudul Lizzie McGuire sebagai tontonan khas anak muda berusia 13 tahun yang mengalami pubertas dan ingin menjadi populer. Sekarang, saat saya menontonnya ulang, saya memahami kenapa sikap orang tua Lizzie begitu kolot, kaku, sekaligus serius. Malah, sekarang saya menyadari bahwa mereka sama sekali tidak kolot dan kaku, apalagi serius.

Hidup berputar-putar lebih dari sekali. Perasaan “ingin dianggap lucu” lama-lama terkikis dengan sendirinya. Saya tidak lagi mengumpulkan materi tebak-tebakan, tidak juga memaksakan diri untuk melempar pertanyaan konyol saat berkenalan dengan orang baru. Saya tidak makan permen karet karena rasanya terlalu repot mengunyah sesuatu untuk hal yang tidak bisa kita telan.

Ah, saat ini, mendadak saya rindu diri saya yang terobsesi menjadi lucu. Hidup ternyata butuh hiburan, kan? Rasanya, saya bersedia mendengar 100 tebak-tebakan (yang seharusnya) lucu untuk menghilangkan penat.

Terima kasih sudah mampir dan membaca. Silakan kunjungi akun saya di Instagram dan X @dwiapriliakdewi untuk berdiskusi. Semoga harimu menyenangkan selalu!


메타데이터
post_id
112e31ae93aa
slug
lucu-dan-tidak-lucu-112e31ae93aa
url
https://medium.com/@adkumala/lucu-dan-tidak-lucu-112e31ae93aa
canonical_url
https://medium.com/@adkumala/lucu-dan-tidak-lucu-112e31ae93aa
author_url
https://medium.com/@adkumala
status
ok
fetched_at
2026-08-24 02:17:47