← Back to list

Dosa Para Desainer

Coba lihat sekeliling kamar lo. Ada baju yang jarang dipakai, charger lama yang entah masih berfungsi atau nggak, HP lama yang sebenarnya…

Ramanda Yustian · 2026-02-16 19:23 · 0 claps · 1.7 min read
#designer #politik #konsumsi #produk #budaya
Open on Medium ↗
Wiki topics: DSN · Design · General

Dosa Para Desainer

Coba lihat sekeliling kamar lo. Ada baju yang jarang dipakai, charger lama yang entah masih berfungsi atau nggak, HP lama yang sebenarnya masih nyala tapi terasa “jadul”. Semua barang itu punya perjalanan panjang: dari tambang, pabrik, distribusi, sampai akhirnya mendarat di tangan kita. Lalu apa? Dipakai sebentar, diganti lagi.

Kita hidup di sistem yang menjadikan konsumsi sebagai pusat kehidupan. Kalau orang berhenti belanja, ekonomi goyang. Solusinya hampir selalu sama: dorong belanja lagi. Masalahnya, kita nggak cuma beli karena butuh. Kita beli karena merasa kurang.

Di sinilah desain masuk.

Desain bukan cuma soal visual atau UI yang rapi. Desain adalah alat yang halus. Kita bikin tombol “Beli Sekarang” lebih mencolok. Kita susun layout supaya mata langsung ke promo. Kita bangun branding supaya orang merasa produk ini “gue banget”. Kita nggak maksa. Kita cuma mendorong sedikit. Tapi dorongan kecil yang dilakukan jutaan kali berubah jadi budaya.

Iklan jarang bilang lo gagal. Tapi ia bikin lo merasa belum cukup. Belum cukup keren. Belum cukup update. Dan solusi yang ditawarkan selalu sama: beli.

Menariknya, ada ironi di sini.

Perusahaan seperti Tupperware dulu terkenal karena produknya sangat awet. Wadah plastik yang bisa bertahan bertahun-tahun. Bahkan diwariskan. Tapi di era sekarang, perusahaan itu sempat mengalami kebangkrutan dan restrukturisasi besar. Penyebabnya kompleks — utang, perubahan model bisnis, kalah bersaing dengan e-commerce — bukan semata-mata karena produknya tahan lama. Namun kasus ini menunjukkan sesuatu: di sistem yang bergantung pada pembelian berulang, produk yang terlalu tahan lama tidak selalu menguntungkan secara pertumbuhan.

Kalau semua orang membeli satu produk dan memakainya 15 tahun, bagaimana perusahaan tumbuh setiap kuartal?

Di titik ini, kita mulai melihat dilema. Produk tahan lama baik untuk konsumen dan lingkungan. Tapi pertumbuhan bisnis sering kali menuntut pembaruan, edisi baru, fitur baru, versi baru.

Dan di tengah dilema itu, ada kita — para desainer.

Kita pakai framework. Kita analisis target market. Kita segmentasi berdasarkan income dan lifestyle. Kita sebut itu strategi. Tapi di saat yang sama, kita ikut menentukan siapa yang merasa termasuk dan siapa yang merasa tertinggal. Kita ikut membentuk standar tentang apa yang dianggap cukup.

Banyak produk hari ini tidak harus rusak untuk diganti. Cukup dibuat terasa tidak relevan.

Desain tidak selalu jahat. Tapi desain juga tidak sepenuhnya netral. Ia selalu punya tujuan. Dan sering kali tujuan itu sederhana: membuat orang membeli lagi.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan. Ini cuma pengakuan bahwa desain punya kuasa. Kuasa membentuk keinginan. Kuasa membentuk rasa kurang. Kalau desain bisa membuat orang checkout dalam 10 detik, mungkin desain juga bisa mengajak orang bertanya 10 detik sebelum membeli.

Kita mau jadi desainer yang sekadar mempercepat siklus, atau desainer yang berani memperlambatnya?

Ramanda

(Desain bisa berpolitik dalam narasinya. Pencipta, desainer, cerita, komunitas, metode, semuanya bisa berpolitik dalam desain. Desain tidak 100% suci-bahwa ia bisa bermain kotor juga)


메타데이터
post_id
1142fb2e8140
slug
dosa-para-desainer-1142fb2e8140
url
https://medium.com/@mandaxy14/dosa-para-desainer-1142fb2e8140
canonical_url
https://medium.com/@mandaxy14/dosa-para-desainer-1142fb2e8140
author_url
https://medium.com/@mandaxy14
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13