← Back to list

Jalanan Kotaku

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kamu jelajahi, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya…

Els | Librarian · 2026-07-05 12:13 · 0 claps · 2.7 min read
#random #renungan-diri
Open on Medium ↗

Jalanan Kotaku

Photo by Els

Photo by Els

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kamu jelajahi, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Al-Mulk-15.

Selama 23 tahun hidup, aku tidak begitu memperhatikan bagaimana jalan-jalan yang aku lewati. Yang terjadi pada diriku saat melewati jalanan itu hanyalah

“Wah jalannya bagus” atau “Ya Allah jalannya jelek banget. Ini kenapa nggak diganti atau diaspal lagi sih biar enak”

Setelah itu ya sudah, hanya gerutu sesaat yang kemudian terlupakan. Tergantikan dengan agenda selanjutnya atau tergantikan dengan imanjinasi ketika sedang berkendara. Tidak lupa juga kadang tergantikan perihal kondisi jalanan itu dengan lagu yang sering aku putar sambil berkendara.

Pernah hidup di ibukota dengan gedung tinggi dan jalanan yang mulus, yang ternyata di bagian yang lain masih ada jalan berbatu atau jalanan becek sisa banjir ditambah aroma tidak enak dari sungai-sungai kehitaman yang aku lewati. Ternyata itu hanya memori masa kecil yang sama sekali tidak pernah aku perhatikan.

Atau ketika merantau untuk pendidikan tinggi, di kota yang jalannya terkadang tidak rata atau bergelombang. Aku yang harus mendaki gunung untuk menuju ke kota lain itu. Dinamika jalanan mulus dan jalanan rusak ternyata dulu juga belum membuat aku sadar.

Hingga ketika aku sekarang sudah bekerja di suatu kota, di kota yang terkenal dengan kebudayaan daerahnya yang sudah mendunia ini. Jalanannya yang setiap hari membuat aku merasa capek, atau yang membuat beberapa baut motorku lepas tanpa aku sadari. Yang aku perlu berjalan pelan-pelan supaya tekanan pada skok motorku tetap aman. Setahun aku lalui ternyata membuat aku perlahan-lahan terbiasa. Terbiasa bahwa memang jalanan di kota ini amat buruk dan tidak begitu bagus.

Hingga kemarin ketika aku mengantar ibuku, dengan motorku yang dulu juga aku pakai untuk kuliah itu. Aku merasakan suatu hal yang berbeda. Hal yang dulu tidak pernah aku sadari. Bahwa kotaku memiliki jalanan yang dapat membuat aku tenang ketika berjalan di atasnya. Yang membuat aku bisa agak kencang supaya bisa segera sampai tujuan. Yang membuat aku merasa tenang ketika membonceng ibuku. Tanpa perlu aku akan merasa khawatir sakit punggung ketika sudah sampai tujuan nanti.

Aku tinggal di kotaku sejak kecil, tapi aku mulai bisa merasakan jalanan ketika aku sudah bisa berkendara sendiri. Itu ketika aku sudah mulai SMA. Bertahun-tahun berlalu tak pernah aku sadari, dan benar kemarin adalah waktu dimana aku sadar. Hal sederhana seperti jalanan yang baik ternyata sangat aku syukuri. Mengingat aku selama satu tahun harus setiap hari merasakan buruknya jalanan di kota tempat aku bekerja ini.

Tak henti-henti senyumku terbit menikmati perjalanan itu bersama ibuku. Kenapa pula aku tak menyadari hal ini sejak dulu-dulu? Baru sekarang aku mengerti. Hal sederhana itu. Kemudian aku mengingat sepenggal ayat itu. Bahwasanya Yang Kuasa menyuruh mahkluknya untuk melakukan perjalanan, bukan untuk menguasai bumi melainkan untuk melihat dan untuk lebih dekat-Nya. Hal sederhana ini, benar-benar membuka mataku terhadap rasa syukur. Rasa syukur bahwa ibu bapak dan adik adikku masih bisa menikmati jalanan yang mulus ini setiap hari.

Sebab di jalanan dari kotaku menuju kota tempat aku bekerja, aku berkata dalam hatiku. Jalanan yang buruk dan berlubang ini, apakah mereka yang memiliki kebijakan tidak pernah melewati jalanan ini dengan mobil mewah mereka? Apalagi berita-berita kecelakaan yang sampai merenggut nyawa rakyat mereka. Apakah hal tersebut tidak mampu mengetuk hati nurani mereka? Ternyata jalan yang rusak itu bukanlah perkara yang sederhana.

Ahmad Tohari dalam bukunya yang berjudul orang-orang proyek sempat menyinggung akan hal tersebut. Ketika seorang kepala keluarga meninggal di jalanan dengan alasan jalan tersebut rusak karena tidak diperbaiki. Keluarga dapat menuntut yang bertanggungjawab terhadap keterbaikan jalanan. Menuntut karena kelalaian mereka, keluarga tersebut kehilangan tulang punngung dan pendapat keluarga mereka. Tapi mirisnya, apakah banyak yang mengetahui hal tersebut? Hal ini ternyata juga menjadi pertanyaan dari Ir Kabul, tokoh utama dari novel karya Ahmad Tohari ini.

Jadi, perihal jalanan ini, memang bukan hal sederhana. Di atasnya banyak kepala sedang berjuang memenuhi hidup mereka. Pergi dari satu tempat ke tempat lain. Alangkah baiknya, jika jalanan itu diperbaiki sebagai upaya mempermudah hidup orang lain.


메타데이터
post_id
1160164342fb
slug
jalanan-kotaku-1160164342fb
url
https://medium.com/@itselmeybook/jalanan-kotaku-1160164342fb
canonical_url
https://medium.com/@itselmeybook/jalanan-kotaku-1160164342fb
author_url
https://medium.com/@itselmeybook
status
ok
fetched_at
2026-07-13 09:25:15