Naik Delman Tak Lagi Istimewa
Ketika Ayah ke Kota Naik Yamaha Disaat Itulah Naik Delman dan Duduk di Muka Tak Lagi Istimewa
Naik Delman Tak Lagi Istimewa

Dok. Pribadi
Ketika Ayah ke Kota Naik Yamaha Disaat Itulah Naik Delman dan Duduk di Muka Tak Lagi Istimewa
Tepat di depan Hard Rock Café, terlihat sejumlah kusir tengah memarkirkan delmannya. Lengkap dengan kuda yang menjadi tumpuan hidup mereka.
Tidak banyak aktivitas yang mereka lakukan. Sebagian kusir nampak duduk manis di dalam delmannya. Sebagiannya lagi hanya mengusap-ngusap kuda kesayangannya.
Mereka bukannya malas untuk bekerja. Hanya saja saat itu tidak banyak pengunjung yang memakai jasanya.
Pemandangan semacam ini agaknya cukup menjadi perhatian. Sebab, ditengah keramaian Pantai kuta, tak ada satu pun wisatawan yang tertarik dengan delman.
Salah satu kusir delman adalah Pak Dahlan. Pria paruh baya asal Desa Pemogan, Denpasar Selatan, yang sudah 22 tahun menjadi kusir delman.
“Tyang* udah lama jadi kusir, dari Bom Bali 1. Sekarang Sudah 22 tahun. Waktu Pandemi sempat berhenti dan jadi kuli bangunan, tetapi baru-baru ini Tyang nyoba narik lagi.” Bisa dapat satu penumpang sehari sudah untung.
Pendapatan Pak Dahlan selalu tak menentu. Meski eksistensi delman di Bali masih ada, tetapi pekerjaan sebagai kusir hanya cukup untuk menyambung hidup. Walaupun letih dan lelah harus dilalui, semangat Pak Dahlan dalam bekerja tetap terpancar dari wajahnya.
메타데이터
- post_id
- 120b586dcda2
- slug
- naik-delman-tak-lagi-istimewa-120b586dcda2
- url
- https://medium.com/@sinthadevimaharani/naik-delman-tak-lagi-istimewa-120b586dcda2
- canonical_url
- https://medium.com/@sinthadevimaharani/naik-delman-tak-lagi-istimewa-120b586dcda2
- author_url
- https://medium.com/@sinthadevimaharani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 07:45:57