← Back to list

Hardiknas dan Nasib Generasi yang Dipertaruhkan

Setiap tanggal 2 Mei, kita seperti diajak berhenti sejenak — mengheningkan cipta, mengenang sosok Ki Hadjar Dewantara, lalu melanjutkan…

Arief Azizy · 2026-05-02 14:08 · 1 claps · 3.1 min read
#pendidikan #generasi #pendidikan-indonesia #pelajar #hardiknas
Open on Medium ↗

Hardiknas dan Nasib Generasi yang Dipertaruhkan

Setiap tanggal 2 Mei, kita seperti diajak berhenti sejenak — mengheningkan cipta, mengenang sosok Ki Hadjar Dewantara, lalu melanjutkan rutinitas seperti biasa.

Spanduk-spanduk dipasang, upacara digelar, pidato dibacakan. Namun, sebagai seorang yang berdiri setiap hari di depan kelas, saya sering bertanya dalam diam: apa yang sebenarnya kita rayakan? Dan lebih jauh lagi: apa yang sebenarnya sedang kita pertaruhkan?

Di ruang kelas yang tak selalu ideal, saya menyaksikan generasi yang tumbuh di tengah paradoks. Mereka disebut sebagai “harapan bangsa,” tetapi sering kali diperlakukan sekadar sebagai angka — nilai ujian, peringkat sekolah, statistik kelulusan.

Kita berbicara tentang “merdeka belajar,” tetapi masih sibuk mengukur kecerdasan dengan standar yang seragam, seolah setiap anak dilahirkan dengan cetakan yang sama.

Saya ingat seorang siswa yang duduk di bangku paling belakang. Ia jarang berbicara, nilai matematikanya rendah, dan sering dianggap “kurang mampu.” Tapi suatu hari, ia menulis sebuah esai sederhana tentang ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci. Tulisannya tidak rapi, tetapi jujur — dan menyayat.

Di sana saya melihat sesuatu yang tidak bisa diukur oleh angka: empati, kepekaan, dan keberanian untuk merasakan dunia. Namun sistem tidak memberi ruang bagi itu. Ia tetap dianggap gagal.

Di titik itu, saya merasa gagal sebagai pengajar.

Pendidikan kita, sering kali, terlalu sibuk menciptakan keseragaman. Kita lupa bahwa manusia tidak tumbuh dalam garis lurus. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed pernah menulis, “Pendidikan sejati adalah praksis kebebasan, bukan alat penindasan.”

Tetapi dalam praktiknya, kita masih sering menjadikan pendidikan sebagai alat domestikasi — membentuk anak-anak agar patuh, bukan agar berpikir.

Hardiknas seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan individu, tetapi arah peradaban kita.

Ketika pendidikan kehilangan rohnya, kita tidak hanya kehilangan generasi cerdas, tetapi juga generasi yang mampu merasa, mempertanyakan, dan merawat kemanusiaan.

Sebagai pengajar, saya tidak bisa membohongi diri sendiri. Ada hari-hari ketika saya masuk kelas dengan lelah — bukan hanya karena beban administrasi, tetapi karena rasa hampa. Kurikulum berganti, kebijakan datang dan pergi, tetapi akar persoalan sering kali tetap sama: kita belum sepenuhnya percaya pada anak-anak kita sebagai manusia utuh.

Kita terlalu cepat memberi label — pintar, bodoh, nakal, berprestasi. Padahal, di balik setiap label itu, ada cerita yang tidak pernah benar-benar kita dengarkan. Pendidikan akhirnya menjadi proses penyederhanaan manusia, bukan pemahaman manusia.

Ivan Illich dalam Deschooling Society dengan tajam mengkritik, “Sekolah sering kali mengajarkan bahwa belajar hanya bisa terjadi di dalam institusi, padahal belajar adalah proses alami manusia.” Kutipan itu terasa menohok setiap kali saya melihat siswa yang kehilangan rasa ingin tahu karena terlalu lama dipaksa menghafal hal-hal yang tidak mereka pahami.

Hardiknas seharusnya mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan tentang gedung, bukan tentang kurikulum, bukan tentang angka-angka di rapor. Pendidikan adalah tentang relasi — antara guru dan murid, antara manusia dengan dirinya sendiri, dan antara individu dengan realitas sosialnya.

Namun realitas di lapangan sering berkata lain.

Guru dibebani administrasi yang menumpuk, siswa dibebani target yang tak selalu masuk akal, dan orang tua dibebani ekspektasi sosial yang kadang lebih penting daripada kebahagiaan anaknya sendiri. Semua berjalan dalam sistem yang seolah terus bergerak, tetapi tidak selalu menuju arah yang jelas.

Lalu, di mana posisi kita sebagai pengajar?

Saya percaya, di tengah segala keterbatasan, masih ada ruang kecil yang bisa kita jaga: ruang kemanusiaan. Ruang di mana kita melihat siswa bukan sebagai objek penilaian, tetapi sebagai subjek yang sedang tumbuh. Ruang di mana kita berani mengatakan bahwa nilai bukan segalanya, bahwa kegagalan bukan akhir, dan bahwa setiap anak punya waktunya sendiri untuk mekar.

Namun, menjaga ruang itu tidak mudah. Ia sering kali tergerus oleh tuntutan sistem, oleh tekanan birokrasi, oleh ketakutan akan dianggap tidak profesional. Tetapi jika kita menyerah, maka yang hilang bukan hanya idealisme kita — melainkan masa depan mereka.

Hardiknas, bagi saya, bukan tentang mengenang masa lalu. Ia adalah cermin yang memaksa kita melihat diri sendiri hari ini.

Apakah kita benar-benar mendidik, atau hanya menjalankan rutinitas? Apakah kita membantu anak-anak menemukan dirinya, atau justru membuat mereka kehilangan arah?

Saya sering pulang dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan jujur saja, tidak selalu ada jawaban.

Namun mungkin pendidikan memang bukan tentang jawaban yang pasti. Ia adalah proses yang penuh keraguan, kegagalan, dan pencarian. Dan di situlah letak keindahannya — sekaligus tantangannya.

Nasib generasi memang sedang dipertaruhkan. Tapi taruhan itu bukan hanya di tangan pemerintah, kurikulum, atau sistem. Ia juga ada di tangan kita — para guru yang setiap hari berdiri di depan kelas, memilih apakah akan sekadar mengajar, atau benar-benar mendidik.

Dan mungkin, perubahan besar selalu dimulai dari pilihan-pilihan kecil itu. Ya, sementara itu dulu lah ya.


메타데이터
post_id
12d4e377784e
slug
hardiknas-dan-nasib-generasi-yang-dipertaruhkan-12d4e377784e
url
https://medium.com/@azizyarief/hardiknas-dan-nasib-generasi-yang-dipertaruhkan-12d4e377784e
canonical_url
https://medium.com/@azizyarief/hardiknas-dan-nasib-generasi-yang-dipertaruhkan-12d4e377784e
author_url
https://medium.com/@azizyarief
status
ok
fetched_at
2026-07-28 08:40:33