Siapa Pribumi dan Siapa yang Asing di Eropa?
Seorang cendekiawan Islam dan profesor di Cambridge, Sheikh Abdal Hakim Murad (juga dikenal sebagai Timothy Winter aka Tim Winter)…
Siapa Pribumi dan Siapa yang Asing di Eropa?

Sheikh Abdal Hakim Murad (Timothy Winter aka Tim Winter)/Islam Awareness
Seorang cendekiawan Islam dan profesor di Cambridge, Sheikh Abdal Hakim Murad (juga dikenal sebagai Timothy Winter aka Tim Winter), melontarkan pertanyaan aneh, “Siapa yang sebenarnya pribumi dan siapa yang asing di Eropa?”
Ini pertanyaan lucu, orang tentu sudah tahu jika bangsa Eropa adalah pribumi di wilayahnya. Saya awalnya berpikir Murad ingin mengajak kita menelusuri arkeologi, tapi tebakan saya keliru. Lewat bukunya “Travelling Home,” dia benar-benar memutarbalikkan cara kita memandang identitas dan konsep “rumah.”
Murad menyatakan (dan ini benar-benar memutarbalikkan logika umum) bahwa seorang Muslim yang taat mungkin memiliki koneksi spiritual yang lebih dalam dengan monumen kuno, seperti Stonehenge daripada seorang ateis yang lahir dan besar di Inggris.
Awalnya pernyataan ini terdengar mustahil, tetapi argumennya ternyata sangat kuat. Argumen dasarnya adalah bahwa bagi seorang Muslim yang taat, seluruh bumi ini adalah ciptaan Tuhan, penuh dengan tanda-tanda kebesaran-Nya. Jadi mereka bisa merasa di rumah di mana saja karena mereka terhubung dengan sang Pencipta, bukan hanya dengan tanah secara fisik. Rasa memilikinya bersifat transenden, melampaui batas negara.
Sementara itu, seseorang yang ateis yang melihat dunia murni dari kacamata material, koneksinya mungkin hanya sebatas kenangan pribadi atau ikatan budaya saja. Menurut Murad, saat hubungan dengan Tuhan hilang, hubungan yang benar-benar mendalam dengan sebuah tempat juga bisa ikut memudar.
Seseorang bisa lahir dan besar di Inggris, tetapi saat melihat Stonehenge, mungkin hanya melihat tumpukan batu yang menarik secara arkeologis, menjadikannya hanya semacam turis di negerinya sendiri. Sebaliknya, seorang Muslim melihatnya dan berpikir bahwa, “orang-orang kuno di sini juga mencari Tuhan. Mereka membangun ini untuk sesuatu yang sakral.” Ada resonansi spiritual di sana, sebuah kesinambungan pencarian ilahi yang melintasi ribuan tahun.
Lenin Bukan Rusia Sejati?
Murad melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa dari perspektif ini, tokoh seperti Lenin bukanlah Rusia sejati, atau beberapa intelektual sekuler Inggris bukanlah Inggris sejati.
Ini pernyataan yang sangat keras dan banyak orang pasti akan menentangnya. Apa dasar argumen Murad? Apakah dia tidak sedang mendefinisikan identitas secara sempit?
Argumennya bukan tentang etnisitas atau darah, tetapi tentang koneksi kepada jiwa sebuah bangsa. Selama ribuan tahun, identitas Inggris atau Rusia dibentuk oleh narasi spiritual yang mendalam, terutama Kristen. Murad berpendapat bahwa ketika seseorang seperti Lenin mengadopsi ideologi ateistik Marxis (sebuah impor dari Jerman) dan secara aktif menghancurkan gereja dan tradisi spiritual bangsanya, dia sebenarnya telah bermigrasi secara intelektual. Dia terputus dari narasi panjang yang membentuk negerinya.
Jadi ini soal keterputusan dari warisan spiritual yang sudah berakar ribuan tahun, bukan soal genetika, tetapi soal ideologi. Menariknya, ini bukan sekadar argumen teologis, tetapi juga historis. Sebelum era sekuler modern, identitas Eropa adalah identitas sakral. Stonehenge adalah pengingat bahwa pulau Inggris, jauh sebelum kekristenan, sudah menjadi tempat di mana kehidupan berpusat pada yang ilahi.
Di sini Murad membalik narasinya bahwa Muslim yang hidupnya berpusat pada Tuhan secara tak terduga menjadi pewaris tradisi sakral Eropa ini. Sementara sekularisme yang mendominasi wacana modern adalah fenomena yang relatif baru, dan dalam bentangan sejarah yang panjang, mungkin justru dialah yang asing di benua tersebut.
Pembalikan narasi ini sangat luar biasa. Murad memiliki contoh lain yang bahkan lebih mengejutkan, membawa kita pada salah satu metafora paling kuat dalam bukunya, yakni pencarian Cawan Suci atau Holy Grail.
Kesatria Meja Bundar, Raja Arthur, pencarian mistis yang menjadi inti dari banyak legenda Eropa, simbol pencarian kebenaran spiritual dan magna tertinggi. Kisah-kisah ini tertanam dalam jiwa Eropa.
Murad kemudian mengemukakan sebuah teori yang sangat berani, yang sebetulnya juga didukung beberapa sejarawan. Ia berspekulasi bahwa legenda Cawan Suci ini kemungkinan besar berakar dari Islam, secara spesifik merujuk pada Hajar Aswad di Kaabah, batu hitam di Mekah yang disentuh dan dicium para peziarah, simbol perjanjian dengan Tuhan.
Bahkan komposer besar seperti Wagner mengakui adanya pengaruh Saracen (Islam) dalam versi operanya tentang legenda ini.
Jadi menurut Murad Cawan Suci yang dicari-cari para kesatria di hutan-hutan Eropa sebenarnya adalah metafora untuk Hajar Aswad di Mekah. Dan di situlah letak ironi ilahinya, apa yang dicari oleh Eropa dengan susah payah, yang melambangkan hubungan langsung dengan yang sakral, sebenarnya tersembunyi di depan mata, yakni tersedia dalam tradisi Islam yang hidup. Bukan di gua tersembunyi di Prancis, tetapi di tempat yang bisa dilihat semua orang.

Cover Ebook Travelling Home/Ist.
Naga Sesungguhnya Ego dan Kebanggaan
Dalam legenda selalu ada naga atau kesatria jahat yang menjaga cawan itu. Menurut Murad, hambatan terbesarnya bukanlah naga atau penyihir. Ujian terberatnya adalah ego dan kebanggaan Eropa itu sendiri.
Dia menggambarkannya dengan analogi menarik, seorang kesatria Eropa mungkin rela mendaki gunung berbahaya untuk melawan naga, tetapi ketika diberitahu bahwa untuk mencapai Cawan Suci dia hanya perlu mengucapkan tujuh kata dalam bahasa Arab (syahadat) dia akan mundur dan berkata, “Oh tidak, terima kasih, saya lebih suka melawan naga.”
Jadi rintangannya bukan naga sungguhan, tetapi ego, yakni kesombongan untuk mengakui bahwa jawaban yang mereka cari selama berabad-abad mungkin datang dari budaya yang selama ini mereka anggap musuh. Dan itu jauh lebih sulit daripada melawan monster manapun. Ini menurut Murad adalah tantangan psikologis dan spiritual.
Ini juga menyoroti ironi lain yang menarik. Banyak orang Eropa modern yang taat beragama, misalnya penganut Kristen, mengikuti ajaran seorang Yahudi dari Palestina dua ribu tahun lalu, yaitu Yesus dari Nazaret. Secara budaya, bahasa, dan geografi, Yesus jauh lebih dekat dengan seorang nabi Arab abad ketujuh daripada dengan seorang uskup agung di London saat ini.
Namun, mereka bisa menerima yang satu sebagai inti sejarah mereka, tetapi melihat yang lain sebagai ancaman asing. Ini menunjukkan betapa kuatnya prasangka historis.
Di satu sisi ada warisan spiritual yang saling terkait, di sisi lain ada sejarah konflik. Murad mengidentifikasi ada dua tekanan besar dari arah yang sangat berlawanan yang bermain di Eropa abad ke-21 ini.
DNA Matamoros
Yang pertama adalah apa yang ia sebut “DNA Matamoros.” Matamoros merujuk pada sebuah patung terkenal di pusat ziarah Santiago de Compostela, Spanyol. Namanya secara harfiah berarti “Santo Jacobus Pembunuh Muslim.” Patung itu menggambarkan seorang santo Kristen di atas kuda yang sedang memenggal kepala orang Muslim.
Bagi Murad, ini adalah simbol kebencian historis yang sudah mendarah daging. Selama seribu tahun, identitas Eropa sering kali didefinisikan sebagai “apa yang bukan Islam.” Jadi ini bukan hanya soal patung, tetapi representasi dari sebuah pola pikir.
Bahkan jika sekarang patung itu ditutupi bunga karena dianggap memalukan, warisan psikologisnya atau “DNA”-nya tetap ada di alam bawah sadar Eropa (sebuah kecurigaan yang mendarah daging yang muncul dari tekanan masa lalu).
Wokeism dan Revolusi Budaya
Tekanan kedua datang dari masa kini, dari arah yang sama sekali berbeda, yakni apa yang sering disebut wokeism atau revolusi budaya baru yang menantang nilai-nilai tradisional (terutama tentang gender dan seksualitas). Dan di sini tiba-tiba Muslim dan Kristen konservatif menemukan diri mereka di sisi yang sama, menghadapi tantangan yang sama terhadap pandangan dunia mereka.
Murad memberikan contoh nyata yang sangat gamblang tentang hal ini, yaitu kasus temannya sendiri, Bernard Randall, seorang pendeta Anglikan di sekolah yang berafiliasi dengan Gereja Inggris.
Dalam sebuah kutbah, dia hanya menyampaikan ajaran resmi gerejanya sendiri tentang pernikahan (bahwa itu antara pria dan wanita) dan mengatakan kepada para siswa bahwa mereka tidak harus menerima ideologi gender yang baru.
Akibatnya dia bukan hanya dipecat, tetapi juga dilaporkan ke program antiterorisme pemerintah sebagai potensi ancaman teroris karena menyampaikan doktrin Kristen ortodoks di sebuah sekolah Kristen.
Lebih ironis adalah sikap pemimpin gerejanya. Di situlah Murad menyoroti sebuah kemunafikan yang begitu kentara. Uskup Agung Canterbury, pemimpin Gereja Anglikan, menolak membela pendetanya sendiri, hanya mengatakan “situasinya rumit.”
Padahal beberapa bulan sebelumnya, ketika ada kontroversi tentang kartun yang menyinggung Muslim, Uskup Agung yang sama dengan sangat lantang membela kebebasan berbicara untuk menghina.
Jadi prioritasnya tampak terbalik, yaitu kebebasan berbicara untuk menyinggung dilindungi, tetapi kebebasan pendeta untuk menyatakan ajarannya sendiri tidak. Ini menunjukkan betapa kelompok tradisional, baik Kristen maupun Muslim, merasa terjepit.
Dengan semua tekanan ini (dari kebencian historis di satu sisi dan ideologi modern yang agresif di sisi lain) orang mungkin berpikir Islam di Eropa sudah dalam krisis besar. Namun Murad menyajikan data yang menunjukkan gambaran yang sama sekali berbeda.
Faktanya, data sosiologis menunjukkan hal sebaliknya. Menurut sebuah penelitian, tingkat retensi iman (persentase anak-anak yang tetap memeluk agama orang tuanya) di kalangan Kristen yang aktif ke gereja di Inggris adalah sekitar 26 persen (jadi hanya sekitar 1 dari 4 anak yang tetap aktif secara religius).
Sementara untuk Muslim, angkanya adalah 71 persen, hampir 3 kali lipat. Data itu saja sudah cukup untuk membantah narasi “krisis Islam” yang sering kita dengar.
Masjid-masjid, terutama saat salat Jumat, penuh sesak dengan kaum muda. Sementara itu, banyak gereja di seluruh Eropa menghadapi jemaat yang usianya terus menua dan jumlahnya menyusut.
Jadi jika ada krisis, kata Murad, itu mungkin bukan krisis Islam. Krisis yang sesungguhnya mungkin ada di masyarakat Barat itu sendiri, yakni krisis demografi, krisis makna, dan krisis komunitas. Sampai-sampai Inggris harus menunjuk seorang “menteri kesepian.”
Sementara itu, institusi seperti keluarga Muslim, lingkungan, dan masjid, meskipun mungkin punya kekurangan, secara fundamental masih berfungsi sebagai jangkar komunitas.
Konsep ‘Urf
Jika Islam tidak sedang sekarat tetapi justru berkembang, lalu apa tantangan terbesarnya ke depan? Murad mengemukakan konsep kunci untuk masa depan Islam di Eropa, yakni ‘Urf.
Dalam hukum Islam, ‘urf berarti adat istiadat atau budaya lokal. Islam, secara historis, tidak datang untuk menghapus budaya lokal. Sebaliknya, ia sering kali datang untuk menyuburkannya.
Lihat saja sastra Persia. Sebelum Islam datang, sastra Persia tidak begitu menonjol. Setelah Islam memberikan kerangka tauhid, lahirlah karya-karya raksasa seperti Rumi dan Hafez. Hal yang sama terjadi pada sastra Turki, budaya di Afrika Barat, dan Asia Tenggara. Islam menyediakan kerangka spiritual, tetapi membiarkan ekspresi budayanya berkembang secara lokal dan unik.
Jadi kata Murad, tantangan terbesar bagi Muslim Eropa saat ini bukanlah tentang bertahan hidup secara iman, melainkan tentang beradaptasi secara budaya. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan ada Islam di Eropa, tetapi bagaimana rupa Islam Eropa itu nantinya.
Misalnya bagaimana rupa sebuah masjid Swedia? Apakah harus terlihat seperti masjid di Timur Tengah, atau bisa mengadopsi estetika desain Skandinavia? Bagaimana seharusnya seorang imam di Jerman berpakaian dan berbicara agar relevan dengan audiens mudanya?
Tujuannya adalah untuk beralih dari sekadar menjadi komunitas etnis imigran yang mempertahankan budaya dari Pakistan atau Turki, menjadi bagian otentik dari lanskap budaya Eropa.
Masjid Cambridge
Ada contoh yang sempurna soal konsep ini, yaitu masjid di Cambridge yang dirancang dengan pilar-pilar kayu yang menyerupai pohon, sangat menyatu dengan arsitektur lokal. Ini bukan tentang mengorbankan prinsip inti agama, misalnya salat lima waktu, meskipun masjidnya bergaya Eropa salatnya akan tetap sama di manapun. Ini soal membedakan mana yang inti ajaran dan mana yang ekspresi budaya.
Menurut dia selama budaya tidak bertentangan dengan prinsip inti agama, maka mengadopsi budaya lokal menjadi alat yang sangat kuat untuk beradaptasi.
메타데이터
- post_id
- 135ce3eedf4e
- slug
- siapa-pribumi-dan-siapa-yang-asing-di-eropa-135ce3eedf4e
- url
- https://medium.com/booknotations/siapa-pribumi-dan-siapa-yang-asing-di-eropa-135ce3eedf4e
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/siapa-pribumi-dan-siapa-yang-asing-di-eropa-135ce3eedf4e
- author_url
- https://medium.com/@yopi.makdori
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31