← Back to list

#158: Angin Sepoi dan Debur Ombak

“Mengenal Becak dan ‘Toponimi’ di Pulau Doom”

Dayu Rifanto in Berbagi & Berdampak · 2026-04-06 02:33 · 104 claps · 2.9 min read paywalled
#sorong #west-papua #kepenulisan #berbagi-dan-berdampak #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗

JURNAL KEPENULISAN

#158: Angin Sepoi dan Debur Ombak

Mengenal Becak dan ‘Toponimi’ di Pulau Doom”

(Editor DyPa Dinara)

Naik becak di Pulau Doom (sumber: Dayu)

Naik becak di Pulau Doom (sumber: Dayu)

Dengan ojek, saya menuju Halte Doom. Di sana ada pelabuhan kecil tempat kapal-kapal kecil penghubung daratan besar Sorong dengan pulau Doom.

Untuk menyeberanginya, kita perlu naik kapal penghubung yang berbiaya lima ribu rupiah, per orang.

Saya ingin ke Doom, karena ada kegiatan sharing penulisan di sana yang diampu oleh sahabat saya, Mas Faiz Ahsoul.

Baca selengkapnya melalui klik TAUTAN UNTUK TEMAN

Sudah lama kami tidak bertemu. Teringat, 2019 lalu ia pernah ke Sorong untuk memfasilitasi pelatihan salah satu yayasan di Kota Sorong.

Kapal yang saya tumpangi bergerak perlahan menuju Doom, suara anak-anak yang melihat pemandangan dan bercerita, celoteh ibu-ibu yang tak sabar mencoba becak. Saat melintasi laut, di kejauhan terlihat kumpulan kapal-kapal pinisi yang sedang berlabuh mendekati Sorong.

Kapal-kapal yang juga menghadirkan tanya, apakah ada milik warga Sorong, ataukah kita hanya menjadi tempat mencari dan duduk di pinggir melihat dari kejauhan?

Semua pemandangan seolah bercampur aroma air asin, dan keringat yang menguar dalam kapal kecil yang saya tumpangi.

Tidak sampai 5–8 menit, kapal pun tiba di Pulau Doom. Begitu turun dari kapal kayu untuk 10–15 penumpang itu, kami sudah disambut oleh tukang-tukang becak yang menawarkan jasanya.

Memandangi pelabuhan kecil (sumber: Dayu)

Memandangi pelabuhan kecil (sumber: Dayu)

Doom menjadi satu-satunya daerah di Papua Barat Daya, atau mungkin Papua yang memiliki becak sebagai transportasi sehari-hari.

Kalau melihat kontur pulaunya, memang transportasi yang paling mudah adalah becak. Dulu, kalau tidak ada kendaraan bermotor, maka sepeda adalah transportasi utama. Dan besar sepeda, menjadi pilihan yang paling jenius sekaligus masuk akal.

Mencoba becak dan bertemu kawan

Saya memilih mencoba naik becak, yang ternyata juga seharga lima ribu. Lumayan. Sebenarnya kegiatannya di Sahara Jetty, dekat saja. Tapi pilihan naik becak menggoda sekali.

Doom tampak sibuk, dan penuh orang. Pulaunya kecil saja, orang-orang memenuhi jalanan, dan bibir pantai. Di pulau yang kecil ini, tampak banyak pepohonon di pantainya. Akar-akar pohon menangkap air, untuk kebutuhan masyarakat di sana.

Saat akhirnya bertemu Mas Faiz, ia bercerita bahwa pintu masuk dalam latihan penulisannya adalah mengenal nama dari sebuah tempat, atau toponimi.

Mas Faiz adalah salah satu pengelola Radio Buku di Yogyakarta, juga bekerja sebagai seorang editor. Kedatangannya ke Sorong dalam rangka mengampu salah satu kelas penulisan, yang diselenggarakan teman-teman Rumah Kata Sorong dalam kegiatan bernama Festival Sastra Sorong.

Sahabat saya ini pun meneruskan bahwa dari penamaan sebuah tempat, sebenarnya kita menjadi punya gambaran struktur dan sistem sosial, keadaan alam dan lainnya.

Itu membuat saya bertanya tentang arti nama Doom, mengingat peserta penulisan diminta turun ke masyarakat sekitar untuk juga melacak jejak dari masyarakat di Pulau Doom, meski waktunya tidak banyak.

Arti nama

Ada beberapa penamaan pulau Doom yang didapatkan. Saya pun mencoba membaca ulang buku tentang penamaan pulau tersebut.

Pada buku Eksistensi Pulau Doom, yang ditulis oleh Parera, dkk dan diterbitkan oleh Amara Books pada tahun 2018, para penulis menemukan ada beberapa perbedaan penamaan dari pulau Doom.

Pendapat pertama menjelaskan bahwa kata Doom berasal dari seorang wanita yang dulunya tinggal di pulau tersebut. Nama wanita tersebut yang kemudian menjadi nama pulaunya.

Pandangan lain, atau yang kedua menyatakan bahwa Doom berasal dari bahasa Moi, yaitu dari kata “Dum” atau merujuk pada tumbuhan. Dan Dum inilah yang digunakan oleh pemerintah Belanda sebagai nama pulau pada awalnya, tetapi menjadi Doom menyesuaikan pelafalan masyarakat lokal.

Yang selanjutnya, penamaan yang dikenal adalah Dom, yang berarti bodoh. Ini maksudnya pada jaman Belanda, pulau Doom menjadi tempat administrasi dan peristirahatan pejabat Belanda. Beristirahat di tempat yang asri, indah membuat mereka menjadi malas. Dari malas, terlihat masa bodoh tidak mau kembali bekerja.

Pendapat lainnya menjelaskan bahwa Doom berasal dari kata dori muma, yang dalam bahasa Biak, artinya panggil ke mari, atau ke sini.

Beragam pandangan tentang nama pulau doom ini begitu menarik, meski masing-masing berbeda.

Saya pun penasaran, jangan-jangan ada nama lainnya yang dikenal masyarakat yang tinggal di Pulau Doom, dan belum dijelaskan dalam buku tersebut.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengganggu sekali. Sebenarnya sejak kapan ya, becak masuk ke Pulau Doom. Adakah teman pembaca yang mengetahuinya?


메타데이터
post_id
1394babb6a2f
slug
158-angin-sepoi-dan-debur-ombak-1394babb6a2f
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/158-angin-sepoi-dan-debur-ombak-1394babb6a2f
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/158-angin-sepoi-dan-debur-ombak-1394babb6a2f
author_url
https://medium.com/@dayourifanto
status
ok
fetched_at
2026-06-09 14:34:10