KONTROVERSI DI BALIK KENAIKAN HARGA BBM
Penulis dan editor: Steve Laurent Montong
KONTROVERSI DI BALIK KENAIKAN HARGA BBM
Penulis dan editor: Steve Laurent Montong

Ilustrasi SPBU
Sabtu (03–09), pemerintah Indonesia pada akhirnya memutuskan untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan ini bukan tanpa dasar, melainkan dampak dari membengkaknya anggaran negara terhadap subsidi BBM selama ini. Pemerintah mengklaim sudah tidak sanggup mensubsidi dan lebih memilih untuk menaikan harga BBM. Beberapa SPBU di Yogyakarta — khususnya — seperti SPBU Gejayan dan Kaliurang no.59 sudah menerapkan harga baru yang baru saja diumumkan, kira-kira pukul 14.30 WIB, Sabtu 3 September 2022.
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Adian Napitupulu berpendapat bahwa lebih baik masing-masing warga kurang mampu disubsidi satu juta perbulan. “Total orang miskin di kita menurut data BPS 27 juta, agak susah ngitungnya kalau 27 Juta, kita bikin lempeng 30 juta biar gampang. Kalau 30 juta jiwa itu kita kalkulasikan, kita asumsikan setiap keluarga empat orang, berarti ada sekira 7,5 juta keluarga yang dikatakan miskin. Nah kalau setiap keluarga itu diberikan tunjangan sosial empat juta setiap bulan per tahun cuma habis Rp 360 triliun,” usul Adian di dalam webinar bartajuk “Menemukan Jalan Subsidi BBM Tepat Sasaran”, Selasa (30–08).[1]
Komentar Pegawai SPBU
Pak Patri (Pegawai SPBU Jalan Kaliurang no.59) merasa tidak keberatan dengan adanya kenaikan harga BBM. Hal ini mungkin disebabkan karena mata pencahariannya yang merupakan pegawai SPBU tidak menggunakan BBM untuk sumber dayanya. “Saya sih biasa-biasa aja sih mas, gak setuju dan gak menolak juga.” pungkas Patri, Sabtu (03–09).
Dampak Kenaikan Harga BBM pada Mahasiswa
Sementara itu, keberatan pertama dirasakan oleh mahasiswa UPN, Albertus Nugroho (20). Ia mengaku mengetahui kenaikan ini pertama-tama dari temannya. Sebagai mahasiswa, Nugroho selalu menggunakan kendaraannya untuk mobilitas sehari-hari entah itu pergi ke kampus atau tempat lainnya. “Ya kalau dampaknya sangat terasa, motor saya juga boros dalam penggunaan BBM. Sebagai mahasiswa, keuangan saya akan sangat terdampak” ujar Nugroho.
Ketika ditanya pendapat terkait usulan Adian Napitupulu, Nugroho mengaku satu juta sangat kurang. “Menurut saya satu juta itu hal yang kecil ya karena kita tidak tahu jarak mobilitas kita akan sejauh apa setiap harinya.” tegas Nugroho. Saat diminta pesan, Nugroho meminta agar pemerintah mencari alternatif lain selain menurunkan harga BBM. “Kalau tidak bisa diusahakan untuk lebih murah, setidaknya kita dikasih alternatif lain seperti angkot-angkot sampai ke pelosok-pelosok.” pungkas Nugroho, Sabtu (03–09).
Dampak Kenaikan Harga BBM pada Pengemudi Ojek Online
Nada keberatan serupa diutarakan oleh Malaindra Widyatama (29) sebagai pengemudi ojek online. Beliau mengaku terkejut ketika harga BBM secara tiba-tiba melonjak. “Agak kaget juga sih, karena pemerintah juga tidak jelas,” “Sudah ngantri di pom tiba-tiba di-prank, prank-nya luar biasa.” ujar Widyatama. Ia pun mengaku belum ada kenaikan tarif dari mitra ojek online, walaupun harga BBM telah naik.
Ketika ditanya pendapat terkait usulan Adian Napitupulu, Widyatama mengaku satu juta sangat kurang. “Uang satu juta itu sekarang berapa sih kak? Satu minggu aja pasti udah habis itu. Lagian kalau BBM konsumsi buat ojol tiap hari sudah pasti.” jelas Widyatama.
Widyatama menyampaikan pesan pada pemerintah agar memihak rakyat kecil. Ia lebih setuju apabila kenaikan harga BBM dilakukan secara progresif. “Tau-tau langsung (naik) dua ribu kan agak kaget ya kak.” pungkas Widyatama, Sabtu (03–09).
Pendapat yang sama diutarakan oleh Suranti (36) dan Achid Masruri (45) selaku pengemudi ojek online. “Pengeluaran kita akan lebih dan kebutuhan kita akan naik semua kan? Nanti cari orderannya juga makin susah” ujar Suranti. Di satu sisi Masruri menekankan perihal adaptasi yang dirasakan masyarakat miskin. “Boleh (harga BBM) naik monggo, tapi disesuaikan dengan masyarakat miskin,”. “Saya setuju, tetapi secara bertahap, mas. Pemerintah harus memperhatikan masyarakat paling bawah, paling diperhatikan, itu permintaan saya.” pungkas Masruri, Sabtu (03–09).
[1] Catatan kaki: referensi yang digunakan di tulisan ini hanya bersumber dari yang terlampir, selebihnya adalah kerja penulis yang turun langsung ke lapangan. https://www.youtube.com/watch?v=qwnreJaIdAQ
메타데이터
- post_id
- 13a7ba0ea3e3
- slug
- kontroversi-di-balik-kenaikan-harga-bbm-13a7ba0ea3e3
- url
- https://medium.com/@steveberopini/kontroversi-di-balik-kenaikan-harga-bbm-13a7ba0ea3e3
- canonical_url
- https://medium.com/@steveberopini/kontroversi-di-balik-kenaikan-harga-bbm-13a7ba0ea3e3
- author_url
- https://medium.com/@steveberopini
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 18:32:36