← Back to list

we are infinite

#10 Sebuah Personal Diary 10/10

Neo Tatsu · 2026-03-24 09:02 · 0 claps · 3.4 min read
Open on Medium ↗

we are infinite

Sebuah Personal Diary

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

Malam 10/10 ini rasanya terlalu berharga untuk tidak diabadikan, jadi aku dedikasikan semua tulisan ini untukmu.

Jujur, aku benar-benar nggak punya ekspektasi apa-apa hari ini. Bayanganku, setelah aku kasih oleh-oleh terakhir ini, semuanya selesai. Dia bakal pergi, aku bakal di-block lagi, dan aksesku ke dunianya bakal tertutup permanen. Aku sudah menyiapkan mental untuk kehilangan (lagi).

Apalagi awalnya hari ini hampir gajadi. Dia sempat bilang nggak mau keluar karena pengen istirahat. Tapi tiba-tiba, sore hari dia chat singkat: “Ayo makan malam ini di Yabe.” Singkat, padat, dan langsung bikin aku gas ke Paskal. Sialnya, pas sampai sana, Yabe lagi waiting list delapan orang. Dia sudah mulai bete, karena tadi sempat kehujanan di jalan. Aku yang sudah sampai duluan cuma bisa mikir, “Anjirlah, masa sia-sia sih?” Akhirnya aku muter otak cari tempat yang dekat dari sana, dan untungnya nemu satu bar yang suasananya pas.

Di bar itulah, obrolan-obrolan kecil yang tadinya aku takutkan bakal canggung, malah terasa hangat banget. Beyond my expectation. Di sela obrolan, ketakutanku soal “perpisahan final” itu luntur. Kita mulai ngomongin hal-hal yang dulu pernah kita lakukan dan terasa sangat lucu aja kalo dibayangin sekarang, malam itu malah jadi bahan ketawa yang baru. Aku bisa ngerasain kalau dia punya frekuensi yang sama saat itu.

Keluar dari bar, adrenalin itu beneran pecah. Bayangin, siapa yang keluar jam 1 malem terus tiba-tiba ngide mau cabut ke Nangor? Kita seolah sepakat: mau ke mana pun, yang penting berdua, gas aja!

Konyolnya, aku nggak bawa jaket. Alhasil, aku terpaksa pakai jas hujan dan sepanjang jalan itu, bau karet jas hujannya nempel terus di antara kita berdua, HAHAHA!

Pas lewat Jalan Soetta, kita teriak-teriak nggak jelas, persis kayak orang gila. Puncaknya, tiba-tiba kita ngide belok ke Summarecon. Tololnya, kita cuma muter-muter nggak jelas sampai nyasar. Di tengah kebingungan cari jalan keluar itu, obrolan kita makin nggak masuk akal. Mana sempat merasa kayak dikejar mobil patroli lagi! Benar-benar definisi kelakuan tolol yang cuma bisa dilakukan oleh dua orang yang sudah nggak peduli lagi sama dunia.

Pas keluar dari Summarecon, aku sempat bingung mau bahas topik apa lagi. Tiba-tiba di depan kita ada bus lewat. Iseng, aku tanya ke dia:

“Kamu pengen jadi bus nggak?”

Di pikiranku, jadi bus itu keren — kayak Transformer, alien robot yang bisa berubah bentuk. Eh, dia malah jawab serius banget. Katanya dia mau jadi bus biar bisa temenan sama Tayo!

Nggak berhenti di situ, dia mendadak ganti cita-cita jadi “Biskuat”.

Sambil boncengan, dia mulai keluarin semua dialog iklan artis cilik jadul itu dengan fasih: “Ma, minta duit…” “Nggak ada.” “Alasan.” “Terima kasih.”

Dia benar-benar hafal setiap kata di iklan itu! Aku yang dengerin cuma bisa ketawa sampai sesak napas di atas motor. Nggak cukup disitu, dia tiba-tiba berubah peran lagi jadi kuda lumping di atas motor. Repot banget emang jalan sama dia kalau topiknya sudah habis, entah gimana kita sudah sampai di titik nggak punya urat malu lagi kalau di depan satu sama lain.

Kita sempat mampir ke Kiara Artha — sebenarnya cuma buat aku numpang pipis di McD — lalu lanjut “sebat”. Di sana, obrolan mendadak jadi jauh lebih personal. Aku ngerasa di balik sifat jahilnya itu, dia punya sisi yang sangat baik.

Pas jalan pulang, ada satu momen yang nggak akan aku lupakan.

Entah gimana, spion kananku tiba-tiba pas banget menangkap bayangan wajahnya di belakang. Aku yang nggak sadar kalau dari tadi dibilangin “Oon… oon…” terus sama dia, langsung terdiam pas tiba-tiba dia bilang:

“Malam ini nilainya 10/10.”

Aku cuma bisa senyum, bener-bener nggak bisa berkata-kata karena dia ngomong gitu out of nowhere. Terus dia nanya lagi, “Kamu seneng nggak hari ini?”

“Banget,” jawabku dengan senyum lebar. “Sama,” sambung dia singkat.

Sepanjang jalan pulang, aku nggak bisa nahan wajahku untuk terus tersenyum malu. Pas aku intip lagi ke spion, ternyata dia juga lagi senyum-senyum di belakang sambil nahan malu. Aku sampai bingung sendiri, kok bisa ya sebuah perasaan sederhana terasa seindah ini?

Kalau malam itu dikasih soundtrack, lagunya beneran cocok pakai “Heroes”-nya David Bowie. Vibe-nya mirip banget sama ending film The Perks of Being a Wallflower. Cakep banget.

Dan malam ini, aku dipaksa menyerah. Skor kejahilan dia telak 21–0. Aku kalah tanpa perlawanan, meski sebenarnya aku memang pengen kalah terus di pertandingan-pertandingan berikutnya. Kalau memang cara dia menjahili aku adalah bentuk rasa sayangnya kepada si target perundungan abadi ini, ya nggak apa-apa juga sih.

Aku nggak keberatan jadi target jahilnya seumur hidup kalau itu artinya dia tetap ada di dekatku. Kita mencoba buat benar-benar mulai lagi, memaafkan semua hal yang sudah terjadi, dan menerima kalau “saat ini” mungkin memang bisa terjadi saat ini juga, Kita yang dulu dan kita yang sekarang adalah versi yang berbeda, dan keindahan malam ini justru lahir karena kita sudah melewati semua proses itu.

Bukannya aku sengaja untuk mengalah, tapi memang dia itu lawan yang gila. Kalau hidup ini adalah Mortal Kombat, dia itu jelas Shao Kahn-nya lah. Kayaknya di pertandingan kejahilan selanjutnya aku harus sudah siap di-fatality.

Dan malam itu, we are infinite


메타데이터
post_id
13bc3e52dcf5
slug
we-are-infinite-13bc3e52dcf5
url
https://medium.com/@NeoTatsu/we-are-infinite-13bc3e52dcf5
canonical_url
https://medium.com/@NeoTatsu/we-are-infinite-13bc3e52dcf5
author_url
https://medium.com/@NeoTatsu
status
ok
fetched_at
2026-07-11 19:00:18