Refleksi Jambore : Santo Ignatius Loyola
Hari yang awalnya saya paling hindari, yaitu kegiatan Jambore angkatan 38. Saya merasa sangat takut, tidak siap, namun juga senang karena…
Refleksi Jambore : Santo Ignatius Loyola
Hari yang awalnya saya paling hindari, yaitu kegiatan Jambore angkatan 38. Saya merasa sangat takut, tidak siap, namun juga senang karena disini ber dinamikanya secara berkelompok. Saya sangat bersyukur dan senang dengan kelompok Jambore yang saya dapat, karena walaupun kita awal-awalnya masih kurang kenal namun waktu yang kami butuhkan untuk dapat mengadaptasi dengan orang baru sangat cepat. Sehingga, sebelum Jambore kami sudah bisa menunjukan bahwa kami bisa berdinamika dengan baik dan dapat saling membantu sesama tanpa ada rasa ga enak yang menghalangi kelompok.
Setelah kegiatan Jambore selesai, saya sadar bahwa ternyata perasaan takut diawal hilang saat sudah melewati proses itu semua. Banyak hal lucu, sedih, marah, senang yang bisa saya rasakan disana. Hal paling menarik namun juga konyol yang saya rasakan, adalah di hari pertama kami baru saja sampai lokasi Jambore. Maag saya kambuh, di malam hari dan juga saat subuh-subuh. Suasana pagi subuh saat itu sangat lah hectic karena saya dibantu oleh 6 orang teman sekelompok saya. Disini dapat dilihat bahwa, rasa saling membantu dan kebersamaan dalam kelompok nyata adanya.
Banyak sekali pengalaman yang berkesan, bermanfaat bagi saya, sehingga dari situ saya dapat belajar dan berkembang. Salah satunya adalah meningkatkan rasa keberanian yang ada di dalam diri saya. Sebelum acara solo night, di sore hari saya merasa sangat takut dan tidak siap. Rasa takut saya, seperti takut ada binatang yang menggigit saya, takut tidur sendiri, takut tidak bisa menjalankannya membuat saya merasa sangat gugup untuk melakukannya. Namun, walaupun begitu ternyata saya bisa melewatinya dengan perasaan senang dan lega. Saya dapat tidur dengan nyenyak, tidak digigit binatang sama sekali, dan rasa takut saya ternyata hilang. Sehingga kegiatan ini, sangat membuat perubahan pada diri saya.
Juga saat kegiatan rafting, dimana kelompok saya harus bisa merakit ban yang nantinya akan dijadikan alat transportasi untuk menyebrang waduk Jatiluhur. Disini kami harus bisa belajar bekerja sama merakit ban, agar ban yang dihasilkan kokoh dan bisa kami tumpangi untuk menyebrangi waduk dengan lancar. Kegiatan High Ropes, juga membantu saya menumbuhkan rasa keberanian saya, dimana saya, harus melawan rasa takut akan ketinggian yang ada di dalam diri. Sebab, bila rasa takut tersebut masih menggangu, saya nantinya tidak akan bisa menyelesaikan tugas saya dan pasti akan menyesal juga.
Dari kegiatan Jambore saya juga belajar banyak hal yang nantinya saya bisa terapkan di hidup saya selanjutnya. Contohnya, saat Jambore kami dilatih banget soal time management, dimana kami harus bisa mengatur waktu berapa menit untuk masak, untuk mandi harus butuh berapa lama. Juga saat dikasih waktu sampai jam berapa, kami harus bisa menyelesaikan kegiatan kami sebelum jam yang tersedia sehingga kami dapat berkumpul tepat waktu. Sehingga disekolah, saya bisa lebih disiplin soal waktu.
메타데이터
- post_id
- 13ffcb973ae1
- slug
- refleksi-jambore-santo-ignatius-loyola-13ffcb973ae1
- url
- https://medium.com/@jungri2017/refleksi-jambore-santo-ignatius-loyola-13ffcb973ae1
- canonical_url
- https://medium.com/@jungri2017/refleksi-jambore-santo-ignatius-loyola-13ffcb973ae1
- author_url
- https://medium.com/@jungri2017
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-05 03:48:30