← Back to list

Merayakan Duka

Gambar diambil dari Pinterest

Bhiee · 2026-05-30 14:56 · 3 claps · 1.7 min read
#lose-yourself #duka #writing #poetry
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Merayakan Duka

Gambar diambil dari Pinterest

Gambar diambil dari Pinterest

“Aku … merindukan dirimu.”

Tangannya menyentuh pipiku dengan jari-jemarinya yang mengelus perlahan. Matanya lurus menatapku, mencoba mencari sesuatu yang hilang. Dan ada kesedihan dibalik warna hitam di matanya.

Biasanya, aku akan membalasnya dengan senyuman yang manis dan menunjukkan sisi manjaku kepadanya. Akan tetapi saat ini aku hanya tanpa reaksi apapun. Tidak ada lagi tatapan berbunga dengan mata berbinar. Hanya ada tatapan kosong dan dingin. Membiarkan dia terus mencari sesuatu yang hilang itu.

“Key, diriku tetap disini.”

Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku. Setelah menggantung pernyataannya cukup lama tadi.

Dia menarik tangannya dari wajahku. Begitu juga dengan kehangatan yang sejenak aku rasakan. Iris gelapnya semakin memancarkan kesedihan yang aku tidak tahu alasannya. Dia memutus kontak mata denganku dan lebih memilih menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Lagi, aku hanya diam dan tidak beraksi apapun. Walaupun ini keadaan yang aneh, karena laki-laki di depanku selalu terlihat tenang apapun kondisinya. Tapi kali ini dia terlihat, putus asa?

“Aku mohon kepadamu, kembalilah. Aku benar-benar merindukan dirimu. Aku rindu dirimu yang dulu, yang selalu ceria, selalu tersenyum. Bukan seperti ini. Aku engga mau kehilanganmu sepenuhnya.”

Aku membiarkan suaranya berputar-putar di udara. Aku tidak tahu harus meresponnya seperti apa. Aku tidak paham, Key kehilangan apa? Bukankah ragaku ada di hadapannya dan sedang menatapnya? Tapi kenapa dia memintaku untuk kembali? Kalo yang dia maksud adalah bagian lain dari diriku. Akupun sama kehilangannya dan aku tidak tahu cara untuk membuatnya kembali.

“Ya, aku mohon, kembali.”

Lagi, Key kembali memohon kepadaku. Kali ini suaranya semakin menyedihkan. Bukankah jika keadaan seperti ini, seharusnya aku merasa tidak tega? Seharusnya ada rasa sakit yang menggerogoti diriku. Tapi kenapa aku tidak merasakan apapun? Kenapa aku tidak mencoba untuk menenangkannya? Kenapa aku tidak merespon apapun? Aku hanya diam melihat dia kalut dan putus asa seperti itu.

Aku memilih untuk tidak bersuara sama sekali. Key masih berada di hadapanku. Masih mencoba untuk meraihku dan menemukan sesuatu yang hilang melalui sepasang mata ini.

Kali ini aku memilih memalingkan pandanganku. Menatap langit yang berwarna abu-abu. Sepertinya bukan hanya Key yang sedang berduka, semesta pun ikut merasakannya. Aku tidak ingin Key menemukan diriku yang sudah membeku sejak lama.

“Aku pamit undur diri, Key.”

Aku meninggalkan taman yang tidak lagi berwarna di mataku. Membiarkan Key tetap bersama dengan rasa kalut yang tak berujung itu. Untuk saat ini aku tidak bisa memenuhi permohonan yang dia berikan kepadaku. Karena akupun sama berdukanya dengan kamu, Key. Kali ini biarkan aku merayakan duka atas hilangnya diriku.


메타데이터
post_id
143c9aa7f67b
slug
merayakan-duka-143c9aa7f67b
url
https://medium.com/@bhiempykarishma/merayakan-duka-143c9aa7f67b
canonical_url
https://medium.com/@bhiempykarishma/merayakan-duka-143c9aa7f67b
author_url
https://medium.com/@bhiempykarishma
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12