← Back to list

Retrospektif #1: Perkenalan

06 Mei 2025

Eka Farras · 2025-05-06 15:16 · 1 claps · 3.0 min read
#journal #blog #nganggur
Open on Medium ↗

Retrospektif #1: Perkenalan

06 Mei 2025

Halo semuanya, semoga kalian semua sedang bahagia. Bagi yang engga, semoga cepet-cepet bahagia.

Saat gue ngetik ini, gue udah punya satu kesimpulan bulat: Gue mau mulai nulis catatan harian. Alasannya sebenernya cukup sederhana, gue mau me-challenge diri gue untuk bisa konsisten, soalnya itu masih jadi persoalan utama gue dari waktu yang lama. Karena, dari awal gue bikin akun Medium ini gue pengen bisa rajin nulis, dan tulisannya engga yang cuma ngebahas persoalan negara, ideologi, atau apapun itu yang “berat-berat” dan butuh mikir pas dibaca ataupun pas ditulis. Gue sepertinya juga butuh nulis untuk sesuatu yang sifatnya ngalir dan luwes aja. Dan kayanya kalau kalian stalk akun ini, udah ada deh beberapa tulisan yang isinya curahan isi hati dan pikiran, tapi gue sendiri masih ngerasa kurang konsisten di sisi itu. Soalnya gue tipe orang yang butuh dorongan emosi kuat untuk akhirnya bisa nerjemahin perasaan-perasaan itu jadi tulisan. Anjay.

Selain perihal konsistensi, gue mau jadi lebih produktif aja. Kalo kata Alwi Johan di blognya, dia harus nulis terus biar engga pikun. Kayanya gue juga ngerasa gitu. Oiya, Alwijo juga jadi salah satu orang yang bikin gue coba nulis catatan harian kaya gini. Fun factnya, gue juga sempet mau coba pake Wordpress kaya dia buat nulis, cuma GUE GA NGERTI FAK. Interfacenya susah banget… yaa kayaknya sih emang guenya aja yang skill issue juga.

Gue udah sempet otak-atik Wordpress dan memutuskan menyerah setelah 25 menit. Akhirnya nulis di Medium aja dah. Lagian abang-abangan kampus juga banyak yang nulis di Medium, siapa tau kalau kalian ngerasa “apansi kocak???” saat ngebaca tulisan mereka, kalian bisa lebih ngetawain tulisan-tulisan gue ini wkwk. Jadi berterimakasihlah wahai para abang-abangan kampus dan filsuf kursi di luar sana, gue membuat tulisan kalian jauh lebih keren. :)

Nah, kenapa Retrospektif?

Engga ada alasan spesifik sih, pas lagi otak-atik Wordpress tadi gue sambil mikirin apa nama yang cocok buat rangkaian catatan (yang semoga) harian ini. Gue pernah baca di salah satu buku-buku buat nugas kuliah dulu dan ngeliat kata “retrospektif”. Pas gue cari artinya di Google, katanya “Retrospektif berarti melihat atau meninjau kembali peristiwa atau kejadian yang telah terjadi di masa lalu. Ini bisa berupa tinjauan kembali terhadap proyek yang sudah selesai, karya seni, atau bahkan pengalaman pribadi.” Yaudah, cocok kan? Plus terdengar keren juga. Jadi bisa sedikit pede kalo lagi nyeletuk di tongkrongan:

“Iya nih, gue lagi iseng-iseng nulis catatan harian” Wih, apaan namanya?Retrospektif.”

Anjay. Keren kan?

Alasan berikutnya gue bikin catatan harian juga karena gue lagi ada di titik persimpangan eksistensialis yang membingungkan: Menganggur. Yang lebih buruk, udah mah nganggur tapi teman-teman tercintaku yang lain sibuk dengan tempat magang barunya. Walaupun beberapa dari mereka di sana menganggur juga sih… Tapi nganggur yang di jam 7 pagi isi absen, terus duduk di atas kursi kantor, abis itu bisa chit chat di jam makan siang bareng teman sekantor, terus pulang di jam kerja bareng para budak korporat yang lain sepertinya jauh lebih baik dibanding bangun jam 10 pagi (menurut Bunda bahkan ini udah siang), makan siang di kamar, bengong sampe sore, terus ngopi sendirian malem-malem sambil scroll-scroll Linkedin yang intimidatif itu. Ini semua salah rezim!

Kalau Albert Camus bilang “Apakah hidup ini layak dijalani?” Gw mau balik bertanya “Apakah hidup menganggur ini layak dijalani?” Bahkan Sisipus aja punya batu yang terus didorong-dorong, kan?

Soalnye menganggur ini bener-bener bikin fisik dan pikiran jadi tumpul. Mau nonton film engga semangat, mau eksplor musik-musik baru engga semangat, mau nongkrong, malu nongkrong mulu kaya orang gapunya kerjaan — ya emang iya sih, mau bikin ideologi dan partai baru, bingung gimana cara ngumpulin massa. Pokoknya serba salah.

Sebenernya kemarin gue udah sempet nyusun plan untuk menghadapi kehidupan mahasiswa akhir ini. Kurang lebih kaya gini:

Masuk Semester 6 → Magang di Tempo sambil menyusun skripsi (ah iya gue juga harus ngerjain skripsi fak) → Gacor di Tempo → Lulus kuliah → Jadi jurnalis terkenal → Mengusik Status Quo → Menata ulang rezim → Hidup jadi lebih baik/Ditembak aparat karena tuduhan subversif.

atau

Masuk semester 6 → Magang di korporat sambil menyusun skripsi → Lulus di semester 7 (keluargaku bahagia) → Cari kerja → Masuk perusahaan big 4 → Kaya raya di usia muda → Jadi oligarki → Jadi presiden → Digulingkan rakyat.

Tetapi sekarang semua rencana itu sia-sia karena tempat-tempat magang itu tiba-tiba “tidak punya slot untuk SDM baru lagi”. Huft. Mungkin semesta sedang menyiapkan jalan yang lain di luar rencana kocak-ku itu. Entah lebih seru atau lebih membosankan. Semoga sih seru ya.

Begitulah kurang lebih perkenalan singkat ini. Semoga konsistensiku ini betul-betul terwujud dan tidak hanya menjadi omong kosong seperti Makan Siang Bergizi Gratis, Danantara, dan efisiensi anggaran.


메타데이터
post_id
14fef6cee5de
slug
retrospektif-1-perkenalan-14fef6cee5de
url
https://medium.com/@ekarythm/retrospektif-1-perkenalan-14fef6cee5de
canonical_url
https://medium.com/@ekarythm/retrospektif-1-perkenalan-14fef6cee5de
author_url
https://medium.com/@ekarythm
status
ok
fetched_at
2026-07-19 20:40:35