Bertahan Satu Hari Lagi, Ya?
Kita adalah sekumpulan anak kecil yang tumbuh dewasa. Sekumpulan anak kecil yang sama dengan mereka yang enggak sabar pulang sekolah supaya…
Bertahan Satu Hari Lagi, Ya?

diambil dari Pinterest.com
Kita adalah sekumpulan anak kecil yang tumbuh dewasa. Sekumpulan anak kecil yang sama dengan mereka yang enggak sabar pulang sekolah supaya bisa main, enggak sabar hari besok karena mau pakai baju baru, enggak sabar libur sekolah karena mau naik pesawat, enggak sabar masuk tahun ajaran baru karena mau pakai sepatu, seragam, dan tas baru.
Kita adalah sekumpulan anak kecil yang dipaksa untuk menjadi dewasa, seiring dengan berjalannya waktu. Sekumpulan anak kecil yang belajar untuk mengerti dan memaklumi, seiring dengan berjalannya waktu. Belajar untuk bertanggungjawab akan hidup kita masing-masing.
Tapi, apa arti hidup tanpa tenggat waktu? Apa arti hidup tanpa rencana-rencana kecil yang tidak tahu bagaimana, membuat kita bertahan sampai hari ini, di sini. Sebatas keinginan sederhana, “Aku mau nyoba bakso di sana ah.” Atau “Oh iya, hari Selasa aku punya janji mau nyobain coffee shop baru itu sama dia.” Yang entah bagaimana, menghantarkan kita untuk bertahan sejauh ini.
Di tengah keadaan mental yang tidak stabil, ada satu hal yang membuat aku untuk bertahan sejauh ini.
Pengumuman SNBT.
Setiap kali aku berpikiran buruk, berpikiran mengenai hal-hal yang hanya akan menghancurkan diriku sendiri, pikiranku kembali lagi ke sana. Jangan mati dulu lah, siapa tau keterima. Hanya sebatas menunggu sesuatu, aku bisa bertahan sampai sejauh ini.
Jangan mati dulu, karena masih ada yang kita tunggu.
Mungkin, pada akhirnya, itulah yang kita rasakan. Memilih untuk terus melangkah maju ke depan, karena kita memiliki sesuatu. Sesuatu untuk ditunggu. Sesuatu untuk dikerjakan. Janji-janji yang menunggu untuk dilaksanakan. Rasa-rasa penasaran yang menunggu untuk dipuaskan. Mungkin, kita ingin bertahan bukan karena kita cinta sama hidup kita — yang sebenarnya, enggak membahagiakan banget, sih. Tapi, karena kita masih punya alasan untuk menyelesaikan hari ini. Alasan untuk bangun di esok hari. Alasan, untuk bertahan satu hari lagi.
Satu hari lagi aja, ya?
Satu hari lagi yang pelan-pelan akan menjadi dua hari, satu pekan, satu bulan, satu tahun. Kemudian, kita akan terus melangkah maju. Terus berjuang. Terus bertahan.
Bukan karena kita yang lemah atau kita yang gampang menyerah tapi, kadangkala ya hidup itu hanya serangkaian tenggat waktu saja. Hanya serangkaian rencana yang menunggu untuk dilakukan. Hanya serangkaian list panjang, yang menunggu untuk diberikan tanda checklist. Hanya serangkaian ambisi sederhana yang menunggu untuk diwujudkan.
Senin, ada deadline tugas programming.
Selasa, ada janji mau makan bakso sama temen satu kos.
Rabu, ada janji mau wawancara HMPS.
Kamis, ada janji mau nyoba street food viral di Instagram.
Jum’at, ada deadline tugas kalkulus.
Sabtu, ada janji mau ngerjain tugas kelompok.
Minggu, ada rencana mau nyelesein drakor minggu lalu.
Semua rencana sederhana yang sebenarnya tidak selalu hal-hal yang ‘ambisius’. Sekadar mau nyoba masak resep baru dari TikTok ataupun reel Instagram atau bahkan hanya ingin nonton drama Korea yang lagi ramai dibahas dimanapun. Bisa jadi juga, hanya sekadar keinginan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah. Hidup itu enggak harus tentang bagaimana menjadi ‘besar’, kadangkala kita hanya perlu menemukan satu alasan sederhana untuk bisa bertahan sejauh ini.
Seperti aku yang batal menyakiti diri sendiri karena ‘sayang’ sama energiku yang dibuat nangisin tentang ketidakpastian masa depan ketika menjelang hari pelaksanaan UTBK-SNBT, mending dipakai belajar buat UTBK. Atau seperti aku juga, yang batal menyerah sama keadaan di perantauan karena ada janji telefon sama Mama nanti malam.
Ribuan kali aku mau menyerah tapi, ribuan kali juga aku gagal melaksanakan keingianan tersebut karena hal-hal sederhana yang terkesan remeh. Aku yang batal menyakiti diri sendiri karena mendadak playlist ku memutar lagu One Direction dan aku berpikir, “Kalau aku mati terus One Direction balik, gimana? Sayang dong!” atau ketika aku hampir menyerah sama masa depanku sendiri dan berencana bahwa aku nggak mau menyentuh usia delapan belas sama sekali namun, gagal karena aku masih penasaran sama rasa warung bakmi dekat rumah — yang walaupun kelihatan gak menarik bangunannya, tapi selalu ramai, “Pesugihan apa ya? Atau memang enak?”
Kadangkala, alasan kita untuk hidup dan terus melangkah maju itu, bukan dari sesuatu hal yang ‘besar’ melainkan, dari serangkaian hal-hal kecil yang kita ingin lakukan setiap hari. Dari pikiran-pikiran sederhana yang mendadak muncul. Mungkin pula, memang belum saatnya dan kita memang ‘ditolong’ agar bisa mencapai kematian itu dengan baik-baik pula. Bukan dengan cara yang seperti itu. Karena, pada akhirnya, hidup itu hanya serangkaian tenggat waktu. Hidup itu hanya berisikan wacana dan deadline yang menunggu untuk diselesaikan.
Jangan ada yang mati dulu, lah. Kita ‘kan mau trip bareng, kalo udah kerja!
Ucapan-ucapan sederhana yang mungkin, secara tidak langsung malah ‘menyelamatkan’ kita dari belenggu lubang hitam dan lingkaran setan yang ‘menggoda’ kita untuk jatuh terperangkap di dalamnya, dalam waktu yang tidak terdefinisi.
I have been clean for two years now, and I wish you could, too, someday.
메타데이터
- post_id
- 1511e242eb9f
- slug
- bertahan-satu-hari-lagi-ya-1511e242eb9f
- url
- https://medium.com/@brokengetaway/bertahan-satu-hari-lagi-ya-1511e242eb9f
- canonical_url
- https://medium.com/@brokengetaway/bertahan-satu-hari-lagi-ya-1511e242eb9f
- author_url
- https://medium.com/@brokengetaway
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 05:14:53