Ulasan Lagu Tujuh Belas - Tulus
[2] Tentang mereka yang abadi dalam memori
ULASAN
Ulasan Lagu Tujuh Belas karya Tulus
[2] Tentang mereka yang abadi dalam memori
Foto oleh Ed Us di Unsplash
Satu-satunya hal yang tidak berubah dalam hidup ialah perubahan itu sendiri. Adagium ini mencakup hampir semua aspek, termasuk transisi dari remaja menuju dewasa. Metamorfosis ini banyak menginspirasi penulis lagu untuk menciptakan karya terbaiknya.
Salah satunya yaitu Tulus yang pada tahun 2022 lalu merilis album Manusia. Album ini berisi 10 lagu tentang lika-liku menjadi manusia, termasuk “Tujuh Belas”. Untuk memperkuat nuansa nostalgia, lagu ini dibalut dengan iringan orkestra megah dari Budapest Symphonic Orchestra, Hungaria.
1. Suatu saat mereka akan pergi, tetapi kenangannya akan tetap tinggal
Muda jiwa selamanya muda Kisah kita abadi selamanya
Bait pertama merupakan manifestasi evokasi yang mengandung paradoks saintis. Secara biologis, semua yang yang bernafas pasti akan bertambah tua. Namun, Tulus seolah menempatkan "jiwa" sebagai entitas yang terbebas dari hukum alam, yang mana ia tak terikat oleh pergantian sang waktu.
Lebih lanjut, bait ini juga sarat akan romantisasi kehidupan sebelum usia kepala dua. Ada nuansa emosional yang menyelimuti masa-masa tersebut. Transisi lirik dari individu ke hubungan (relationship) juga terasa natural, maknanya masih padu. Menariknya, Tulus seakan berkata bahwa sesuatu akan menjadi abadi ketika waktunya telah usai dan terukir di dalam sejarah.
2. Ketika ujian matematika terasa lebih menakutkan daripada ujian kehidupan
Masihkah kau mengingat di saat kita masih tujuh belas Waktu di mana tanggal-tanggal merah terasa sungguh meriah Masihkah kau ingat cobaan terberat kita matematika Masihkah engkau ingat lagu di radio yang merdu mengudara
Alih-alih menggunakan kata "remaja", pilihan justru jatuh pada angka tujuh belas. Hal ini menunjukkan kelihaian penulis lagu dalam menciptakan atmosfer emosional yang spesifik. Selain itu, pria kelahiran 1987 ini juga merinci momen receh yang mengisi kehidupan pelajar kelas menengah.
Saat mendengar bait ini, ingatan saya terlempar menuju ketakutan saat masa putih-abu. Bukan tagihan finansial atau tuntutan karier, melainkan deretan variabel yang menjadi momok tersendiri.
Untungnya, itu tak bertahan lama. Saat menyadari besok tanggal merah, terlebih lagi jika lima hari berturut, senyum lebar muncul di wajah. Saat itu, libur lebih dari sekadar jeda istirahat, ia adalah kesempatan untuk melakukan tualang bersama teman dekat.
3. Kebebasan dan keberanian para remaja dalam memandang dunia
Kita masih sebebas itu / Rasa takut yang tak pernah mengganggu Batas naluri bahaya / Dulu tingginya lebihi logika
Seiring bertambahnya usia, kemampuan kalkulasi risiko menjadi makin kompleks. Berbeda jauh dengan versi diri saat masih belasan tahun, di mana seringkali lebih spontan dalam bertindak. Bahkan, pada percobaan dengan probabilitas keberhasilan yang kecil sekalipun—mengejar cinta monyet, misalnya.
4. Perpisahan mengajarkan kita bahwa yang datang tidak harus menetap
Putaran bumi dan waktu yang terus berjalan menempa kita Walau kini kita terpisah, namun jiwaku tetap di sana
Metafora pada baris pertama menggambarkan bahwa hidup bukan sekadar perjalanan, melainkan proses penempaan yang keras. Lirik tersebut menyiratkan bahwa kita dapat tumbuh melalui rangkaian ujian hidup. Sebuah pengakuan apa adanya, namun terasa pahit.
Baris kedua tidak kalah menampar. Tak terhitung perpisahan yang terjadi setelah status sebagai pelajar kita lepas, entah karena karier atau pendidikan. Namun, lirik selanjutnya justru memberi angin segar. Secara fisik mungkin sudah berpisah, tetapi ada tautan emosional (kenangan) yang masih bisa tinggal.
5. Pada akhirnya, mereka yang pergi tidak selalu berakhir dilupakan
Sederas apa pun arus di hidupmu Genggam terus kenangan tentang kita Seberapa pun dewasa mengujimu Takkan lebih dari yang engkau bisa Dan kisah kita abadi untuk selama-lamanya
Lagu "Tujuh Belas" ditutup dengan bait yang berisi wejangan hidup. Metafora arus deras mencirikan bahwa fase dewasa dapat menyeret dan menghilangkan arah. Saat itu terjadi, kenangan masa putih-abu bisa menjadi cermin yang mengingatkan siapa diri kita sebenarnya.
Seberapa pun dewasa menguji, kita masih punya simpanan memori bahagia yang tak bisa dicuri. Lebih lanjut, dalam lirik tersebut, narasi tentang keabadian bukan terletak pada raga, melainkan pada jiwa. Selama ingatan itu masih dirawat, dirasakan, dan diceritakan; maka ia akan terus dikenang.
Bagi saya, "Tujuh Belas" lebih dari sekadar karya sastra, lagu ini adalah tempat pulang yang tak bisa diulang. Karena bagaimanapun juga, hidup itu tentang mereka yang memilih untuk tinggal, ditinggal, dan meninggalkan.
메타데이터
- post_id
- 15fd467ff32a
- slug
- nostalgia-masa-putih-abu-bersama-lagu-tujuh-belas-dari-tulus-15fd467ff32a
- url
- https://medium.com/@aryo.maulana/nostalgia-masa-putih-abu-bersama-lagu-tujuh-belas-dari-tulus-15fd467ff32a
- canonical_url
- https://medium.com/@aryo.maulana/nostalgia-masa-putih-abu-bersama-lagu-tujuh-belas-dari-tulus-15fd467ff32a
- author_url
- https://medium.com/@aryo.maulana
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 17:18:11