Sumber Rejeki — Sebuah Cerpen
Desa Sumber Rejeki, namanya saja sudah seperti doa. Tapi siapa sangka, di balik hijaunya sawah dan ramainya burung-burung di pagi hari…
Sumber Rejeki — Sebuah Cerpen
Desa Sumber Rejeki, namanya saja sudah seperti doa. Tapi siapa sangka, di balik hijaunya sawah dan ramainya burung-burung di pagi hari, desa ini menyimpan rahasia: seluruh warganya, dari kepala desa sampai tukang becak, dari ibu-ibu pengajian sampai Pak Ustad, terjerat pinjaman online. Tak ada rumah tanpa stiker “Bayar Pinjol Tepat Waktu!” di pintunya. Bahkan, masjid desa sesekali menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal: “Yth. Takmir Masjid, segera lunasi cicilan Anda.” Awalnya, pinjol datang seperti hujan di musim kemarau. Membawa janji kemudahan, tanpa agunan, tanpa ribet. “Bisa buat beli pupuk, bisa buat modal warung, bisa buat bayar sekolah anak,” kata Pak Kades, yang pertama kali memperkenalkan aplikasi itu di balai desa. Tak lama, semua ikut. Ibu-ibu arisan, bapak-bapak ronda, bahkan Pak Ustad yang biasanya menasihati soal riba, kini diam-diam mengajukan pinjaman untuk memperbaiki pengeras suara masjid. Tak ada yang merasa bersalah. “Zaman sudah maju, Pak. Kalau tidak ikut, nanti ketinggalan,” begitu alasan mereka. Hutang menjadi kebiasaan, menumpuk dan menumpuk, hingga tak ada lagi yang tahu siapa berhutang pada siapa. Yang penting, tiap bulan bayar cicilan, meski harus gali lubang tutup lubang. Pada suatu hari yang cerah, di tengah semilir angin yang membawa aroma padi menguning, datanglah seorang lelaki muda ke Desa Sumber Rejeki. Namanya Rafi, perantau yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya demi mencari penghidupan di kota besar. Setelah bertahun-tahun berjuang dengan kerasnya hidup metropolitan, ia akhirnya memutuskan untuk pulang. Bukan karena rindu kampung halaman, melainkan karena satu alasan sederhana: rumah orang tuanya di desa sudah lama kosong, tak lagi ada yang menempati sejak kedua orang tuanya meninggal dunia. Ia ingin menjual rumah itu, berharap hasilnya bisa digunakan untuk memulai hidup baru di kota, atau sekadar menambah tabungan yang mulai menipis. Rafi turun dari bus antarkota di pinggir jalan desa, membawa satu koper usang dan ransel di punggung. Ia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang dulu begitu akrab baginya. Pohon-pohon kelapa masih berdiri tegak di kiri-kanan jalan, tapi kini di sela-selanya berdiri rumah-rumah baru dengan pagar besi tinggi dan cat mencolok. Beberapa rumah bahkan memiliki garasi dengan mobil atau motor mentereng terparkir di dalamnya. Ia menghela napas panjang, mencoba mengenali satu per satu rumah yang dulu ia lewati setiap pagi saat berangkat sekolah. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa anak muda yang sedang nongkrong di warung kopi. Mereka mengenakan pakaian bermerek, ponsel canggih di tangan, dan tertawa keras-keras sambil memamerkan aplikasi-aplikasi terbaru di layar mereka. Rafi tersenyum kecil, mengingat masa mudanya yang jauh berbeda. Dulu, ia dan teman-temannya hanya bisa bermain layangan atau sepak bola di lapangan desa, tanpa pernah memikirkan soal ponsel atau motor mahal. Rafi melanjutkan langkahnya, matanya menangkap perubahan lain yang mencolok. Di sepanjang jalan, hampir setiap rumah tertempel stiker warna-warni bertuliskan “Bayar Pinjol Tepat Waktu!” atau “Ayo, Lunasi Pinjamanmu!”. Ada pula baliho besar di depan balai desa yang mempromosikan aplikasi pinjaman online, lengkap dengan gambar keluarga bahagia dan slogan-slogan manis. Pemandangan itu membuat Rafi tertegun. Ia mengingat cerita-cerita di kota tentang bahaya pinjol, bunga mencekik, dan teror debt collector. Tapi ia tak pernah menyangka, wabah itu sudah sampai ke desanya sendiri. Setibanya di depan rumah tua peninggalan orang tuanya, Rafi berhenti sejenak. Rumah itu tampak kusam dan tak terawat. Cat temboknya mengelupas, jendela-jendela berdebu, dan halaman dipenuhi rumput liar. Ia membuka pintu yang berderit pelan, masuk ke dalam dan menghirup udara pengap yang lama terperangkap. Di ruang tamu, foto-foto keluarga masih tergantung di dinding, seolah menunggu kehadiran seseorang yang tak kunjung pulang. Rafi duduk di kursi kayu tua, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk — ada rindu, ada sedih, tapi juga ada kelegaan karena akhirnya ia bisa melepaskan beban masa lalu. Sore itu, setelah membersihkan rumah seadanya, Rafi keluar untuk mencari makan. Ia berjalan ke warung langganan ibunya dulu, berharap bisa bertemu wajah-wajah lama yang dikenalnya. Namun, suasana warung pun sudah berubah. Pemiliknya kini seorang ibu muda yang sibuk melayani pelanggan sambil sesekali menerima telepon dari seseorang yang tampaknya menagih pembayaran. Di pojok warung, beberapa bapak-bapak duduk melamun, wajah mereka muram, sesekali menghela napas berat. Rafi memesan segelas kopi dan sepiring gorengan, lalu duduk di sudut, mengamati percakapan di sekitarnya. “Sudah jatuh tempo lagi, Pak. Kalau nggak bayar, nanti data kita disebar ke grup RT,” bisik seorang bapak setengah tua pada temannya. “Pinjam di aplikasi lain saja dulu, buat nutup yang ini. Nanti kalau ada rejeki, baru dilunasi,” sahut temannya, berusaha menenangkan. Rafi mendengarkan dengan saksama. Ia makin yakin, desa ini benar-benar sudah berubah. Dulu, orang-orang di sini hidup sederhana, saling membantu, dan hampir tak pernah berhutang kecuali pada tetangga dekat atau koperasi desa. Kini, hutang menjadi topik utama, dan pinjaman online menjadi solusi instan yang justru menjerat mereka dalam lingkaran tak berujung. Setelah makan, Rafi berjalan ke masjid untuk salat magrib. Ia berharap bisa bertemu Pak Ustad, guru mengajinya dulu. Masjid itu kini tampak megah, dengan karpet tebal dan pengeras suara baru yang menggelegar. Namun, suasana di dalamnya terasa dingin. Jamaah hanya sedikit dan kebanyakan tampak terburu-buru pulang setelah salat. Rafi sempat berbincang singkat dengan Pak Ustad, yang kini tampak lebih tua dan lelah. Dari obrolan singkat itu, Rafi tahu bahwa bahkan masjid pun pernah mengajukan pinjaman online untuk membeli perlengkapan baru. Malam harinya, Rafi duduk di beranda rumah, memandangi langit desa yang bertabur bintang. Ia merenung, mencoba memahami perubahan yang terjadi. Dalam hati, ia bergumam, “Dulu, orang desa ini bangga hidup sederhana. Sekarang, semua berlomba-lomba punya motor baru, ponsel mahal, tapi tiap malam gelisah karena tagihan pinjol.” Ia merasa asing di kampung halamannya sendiri. Orang-orang yang dulu ramah dan terbuka, kini lebih sibuk dengan urusan masing-masing, dikejar waktu dan tagihan yang tak kunjung lunas. Keesokan harinya, Rafi memulai urusan menjual rumah. Ia menghubungi beberapa tetangga untuk menanyakan harga tanah dan mencari calon pembeli. Namun, ia mendapati bahwa hampir semua tetangganya sedang kesulitan keuangan. Banyak dari mereka yang sudah menggadaikan surat tanah ke aplikasi pinjol atau leasing. Bahkan, beberapa rumah di sekitar sudah berpindah tangan ke orang luar desa, dibeli murah oleh para penagih hutang yang datang dari kota. Saat berbicara dengan Pak RT, Rafi mendengar cerita-cerita pilu. Ada keluarga yang terpaksa pindah karena tak sanggup membayar cicilan, ada pula yang anaknya putus sekolah karena uang sekolah habis untuk membayar bunga pinjol. Rafi merasa prihatin, tapi ia juga sadar tak mudah mengubah keadaan. Wabah pinjol sudah terlalu dalam mencengkeram desa ini. Hari-hari berikutnya, Rafi mencoba berbicara dengan lebih banyak orang. Ia mendatangi dan berbincang dengan Pak Kades, lalu juga mengikuti pertemuan warga. “Pak, pinjol itu riba. Bunga mencekik, data pribadi bisa disebar. Kalau semua terjerat, desa ini bisa hancur,” katanya. Namun, di setiap kesempatan, ia selalu mendapat jawaban seperti “Kalau tidak pinjam, bagaimana bisa bertahan hidup? Harga-harga naik, bantuan pemerintah tak pernah cukup. Pinjol saja jalannya.” atau jawaban seperti “Tenang saja, Nak Rafi. Semua sudah diatur. Kalau macet, nanti pinjam lagi di aplikasi lain. Lagipula, siapa sekarang yang tidak punya hutang?” Rafi tak menyerah. Ia datangi Pak Ustad, berharap mendapat sekutu. Tapi Pak Ustad malah mengeluh, “Saya juga terpaksa, Nak. Jamaah ingin masjid punya karpet baru, pengeras suara bagus. Dari mana dananya? Bantuan pemerintah jarang turun. Pinjol saja jalannya.” Rafi berkeliling ke warung, ke sawah, ke rumah-rumah warga. Semua sama: mereka tahu pinjol itu berbahaya, tapi tak ada yang berani berhenti. Ketergantungan sudah seperti candu. Bahkan, anak-anak muda pun mulai ikut-ikutan, pinjam untuk beli skin game atau sekadar traktir teman. Rafi akhirnya mengumpulkan warga di balai desa. Ia bercerita tentang bahaya pinjol, tentang kasus-kasus orang bunuh diri karena teror debt collector, tentang dosa riba. Ia ajak warga kembali ke hidup sederhana, menabung, gotong royong, dan saling membantu tanpa bunga. Tapi warga hanya diam. Ada yang menguap, ada yang sibuk main ponsel. “Kalau mau bantu, kasih kami uang, bukan ceramah,” celetuk seorang ibu. Pak Kades menutup pertemuan dengan cepat. “Terima kasih, Nak Rafi. Tapi desa ini baik-baik saja. Jangan bawa pikiran kota ke sini.” Rafi kecewa. Ia merasa sendirian. Tak ada yang mau berubah. Bahkan, ia mulai dicurigai, dianggap iri karena tak bisa ikut menikmati “kemudahan” pinjol. Beberapa anak muda mengejeknya, “Jangan sok suci, Mas. Kalau mau hidup enak, pinjol saja!” Akhirnya, Rafi memutuskan pergi. Ia titip pesan pada Pak Ustad, “Kalau suatu hari desa ini kena musibah, ingatlah, semua ini bermula dari hutang.” Tak lama setelah kepergian Rafi, bencana mulai menyelimuti Desa Sumber Rejeki. Awalnya, ancaman datang dalam bentuk yang tak kasat mata namun sangat nyata: debt collector berdatangan silih berganti. Mereka bukan hanya menagih dengan suara kasar dan ancaman, tapi juga melakukan tindakan yang semakin memperparah keadaan. Foto-foto warga yang terlilit hutang tersebar luas di grup WhatsApp RT, media sosial, bahkan dipampang di papan pengumuman masjid yang selama ini menjadi pusat kehidupan warga. Rasa malu dan takut menyelimuti setiap sudut desa. Banyak warga memilih mengurung diri di dalam rumah, menutup rapat pintu dan jendela, menghindari tatapan tetangga dan teror penagih hutang yang tak kenal ampun. Anak-anak yang dulu riang bermain di halaman sekolah mulai menjadi sasaran ejekan dan bullying. “Bapakmu ikut pinjol!” teriak beberapa teman sekelas dengan penuh hinaan. Suasana yang dulu penuh kehangatan berubah menjadi dingin dan penuh ketakutan. Ekonomi desa pun lumpuh total. Warung-warung yang dulu ramai kini tutup satu per satu karena pemiliknya tak mampu lagi membeli barang dagangan. Sawah yang subur terbengkalai, pupuk tak terbeli, dan para petani kehilangan semangat untuk bertani. Motor-motor baru yang dulu dibanggakan warga satu per satu disita leasing, meninggalkan jalanan desa yang sepi dan sunyi. Pak Kades yang selama ini menjadi panutan warga jatuh sakit, tubuhnya melemah oleh tekanan dan stres akibat dikejar-kejar hutang yang tak kunjung selesai. Pak Ustad yang biasanya mengisi mimbar dengan ceramah penuh hikmah, kini tak berani lagi naik ke atas panggung masjid. Ia takut akan kedatangan para penagih hutang yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Desa yang dulu penuh dengan kebersamaan dan gotong royong kini berubah menjadi tempat yang penuh kecurigaan dan saling menyalahkan. Warga saling menghindar, tak ada lagi tawa yang terdengar di malam hari. Semua sibuk bersembunyi dari bayang-bayang pinjol yang menjerat. Namun, bencana itu belum berakhir. Suatu pagi, warga desa dikejutkan dengan kemunculan buah-buah aneh di pohon-pohon yang tumbuh liar di sekitar desa. Buah itu berkilauan seperti emas, memancarkan cahaya yang memikat siapa saja yang melihatnya. Warna kulitnya mengilap, dan bentuknya menggoda untuk dipetik. Berita tentang buah berharga ini segera menyebar, dan tanpa pikir panjang, warga mulai memetik dan mengumpulkan buah tersebut dengan harapan bisa mendapatkan kekayaan instan. Namun, kegembiraan itu berubah menjadi mimpi buruk. Buah yang berkilau emas itu ternyata beracun. Warga yang memakan buah itu mulai jatuh sakit dengan gejala aneh: demam tinggi, halusinasi, dan kelemahan parah. Rumah sakit desa kewalahan menerima pasien, dan kematian mulai merenggut beberapa nyawa. Ironisnya, buah beracun itu ternyata mengandung emas di dalamnya, sehingga banyak warga yang tetap tergoda untuk memakan atau menjualnya demi mendapatkan keuntungan cepat, meski risiko kematian mengintai. Wabah buah beracun itu menjadi simbol azab yang datang sebagai akibat dari keserakahan dan ketidakmampuan menahan godaan zaman. Desa yang sudah rapuh secara ekonomi kini juga terpuruk dalam bencana kesehatan yang mengancam nyawa. Desa ini bukan hanya korban pinjol, tapi korban dari ketidakbijaksanaan manusia yang mengabaikan kearifan dan nilai-nilai lama. Rafi yang mendengar kabar tersebut dari kota, menunduk dalam keheningan, berdoa untuk desa yang pernah menjadi rumah dan harapan. Ia tahu, azab yang menimpa Sumber Rejeki bukan sekadar hukuman, melainkan pelajaran yang sangat mahal. Bahwa kemudahan dan kekayaan yang datang tanpa tanggung jawab hanya akan membawa kehancuran. Dan kadang, perubahan yang sejati tidak bisa dipaksakan dari luar, melainkan harus tumbuh dari kesadaran dan kebijaksanaan sendiri. Cerita tentang Desa Sumber Rejeki akhirnya menjadi peringatan bagi desa-desa lain di sekitarnya. Bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi harus selalu diimbangi dengan kearifan lokal, dan hutang bukanlah jalan keluar dari kemiskinan. Harapan terbesar adalah agar generasi berikutnya dapat belajar dari azab pinjol dan buah beracun yang menghancurkan desa ini, dan kembali pada hidup yang sederhana, jujur, serta saling membantu. Dengan begitu, mereka bisa membangun masa depan yang lebih baik tanpa harus terjerat dalam lingkaran kehancuran yang sama.
메타데이터
- post_id
- 161f35f59ca6
- slug
- sumber-rejeki-sebuah-cerpen-161f35f59ca6
- url
- https://medium.com/@fathiaqthrn/sumber-rejeki-sebuah-cerpen-161f35f59ca6
- canonical_url
- https://medium.com/@fathiaqthrn/sumber-rejeki-sebuah-cerpen-161f35f59ca6
- author_url
- https://medium.com/@fathiaqthrn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31