Selama kamu masih bernapas, tulisanku tak akan pernah usai.
Pada detik ini, dalam kesadaran yang utuh, aku bersumpah menenun bagimu seribu kenangan dalam aksara yang mungkin tak berharga bagi dunia…
Selama kamu masih bernapas, tulisanku tak akan pernah usai.
Pada detik ini, dalam kesadaran yang utuh, aku bersumpah menenun bagimu seribu kenangan dalam aksara yang mungkin tak berharga bagi dunia, namun sarat makna di dalamnya; untukmu, untuknya, untuk mereka.
Photo by Darren Budiman on Unsplash
Aku menjadikanmu alasan untuk tetap menapaki hidup, sebuah bayang yang kutempatkan di pusat aksara, yang akan terus kutulis selama waktu masih mengizinkanku ada, pun selama prana itu masih bersemayam padamu.
Izinkan aku menuturkan kisah ini ke khalayak tentang rasa yang telah kupendam dalam diam selama tiga warsa, agar mereka mengenal betapa dalamnya aku jatuh pada bayanganmu yang nyaris sempurna itu. Biarkan pula mereka mengecap sekelumit dari rasa yang kuberi dengan segenap hati kepadamu, Kanta-ku.
Semoga engkau menemukan tiap-tiap tulisanku laksana kepingan teka yang terserak, yang perlahan kau susun, hingga maknanya menyingkap dengan sendirinya. Melalui aksara-aksara ini, kubisikkan pada jiwamu betapa berharganya engkau dalam pandangku, Kanta-ku.
Bahkan ketika raga ini telah usai, biarlah tulisanku tetap menjadi terang yang diam-diam menemanimu. Dalam setiap lariknya, kusisipkan doa-doa baik tanpa riuh. Maka, bila kelak engkau menemukannya, sempatkanlah untuk mengamini yang tak terucap itu.
Ini adalah mula saat aksara pertama dijatuhkan, lalu tumbuh menjadi kalimat, dan perlahan menjelma larik-larik yang akan diam-diam menemanimu hingga batas waktumu, Kanta.
Seribu tulisanku akan beralih rupa menjadi bisikan doa yang mengitari langkahmu, entah hingga senjamu, atau hingga titik akhir yang tak terucap.
Dan aku, akan tetap menyayangimu dalam segala bentukmu, dalam segala yang tak selalu dapat kupahami.
Jika suatu waktu engkau menemukan satu dari sekian larik yang kususun, dan membacanya tanpa prasangka, maka diam-diam aku berterima kasih, karena aksara ini akhirnya menemukan jalannya. Sebab hanya melalui ini, yang tak terucap perlahan menjelma menuju engkau.
Dan jika pada akhirnya semua ini hanya berakhir sebagai aksara yang tak pernah menemukan tujuannya, maka biarlah setidaknya aku pernah menuliskannya, dan pernah mencintaimu dengan caraku.
— Akio.
메타데이터
- post_id
- 177e7c49fa29
- slug
- selama-kamu-masih-bernapas-tulisanku-tak-akan-pernah-usai-177e7c49fa29
- url
- https://medium.com/@oohnigiri/selama-kamu-masih-bernapas-tulisanku-tak-akan-pernah-usai-177e7c49fa29
- canonical_url
- https://medium.com/@oohnigiri/selama-kamu-masih-bernapas-tulisanku-tak-akan-pernah-usai-177e7c49fa29
- author_url
- https://medium.com/@oohnigiri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28