Kisah Bani Israel Menolak Perintah Jihad
Dengan adanya Tabut yang dapat memberi keteguhan hati, Nabi Musa pun memutuskan sudah saatnya Bani Israel melaksanakan jihad
Kisah Bani Israel Menolak Perintah Jihad

Photo by Kenny Eliason on Unsplash
Tulisan sebelumnya menceritakan saat seorang Bani Israel melanggar salah satu Perintah Allah, yaitu larangan membunuh, sehingga Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi betina.
Saat itu, Bani Israel sudah memiliki loh (lempeng batu) yang berisi Perintah Allah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Loh-loh itu disimpan dalam peti yang disebut Tabut Perjanjian.
Tabut itu juga berisi tongkat Nabi Musa. Alkitab, Kitab Keluaran 25, menyebutkan bahwa Tabut itu dibuat setelah Nabi Musa menerima Perintah Allah di Gunung Sinai.
QS. Al Baqarah: 248 menyebutkan bahwa Tabut itu membawa ketenangan. Ibnu Jarir menceritakan bahwa Tabut itu dapat membantu Bani Israel mengalahkan musuh-musuh mereka.[1]
Dengan adanya Tabut yang dapat memberi ketenangan (keteguhan hati) bagi Bani Israel dalam peperangan, Nabi Musa pun memutuskan sudah saatnya Bani Israel melaksanakan jihad.
Dua Belas Pengintai
QS. Al Maa’idah: 21 dan Kitab Ulangan 1:21 menyebutkan bahwa Nabi Musa memerintahkan Bani Israel memasuki tanah suci, wilayah yang terletak di antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan.
Bani Israel meminta Nabi Musa agar mengirim pengintai terlebih dulu untuk menyelidiki tanah yang akan mereka masuki. Nabi Musa lalu mengutus dua belas orang sebagai tim pengintai. (Kitab Ulangan 1:22–23)
Setelah kembali, tim pengintai tersebut mengatakan bahwa tanah itu berlimpah susu dan madunya, tetapi penduduknya kuat-kuat dan memiliki kota-kota besar yang berbenteng. (Kitab Bilangan 13:27–28)
Mereka juga mengatakan bahwa penduduk di sana bertubuh tinggi besar, ada pula yang keturunan raksasa, sehingga Bani Israel seperti belalang di hadapan mereka. (Kitab Bilangan 13:32–33)
QS. Al Maa’idah: 22 menceritakan bahwa mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar.”
Ibnu Katsir menyebutkan pendapat para ahli tafsir bahwa cerita tentang kebesaran (keturunan raksasa) atau kemampuan penduduk negeri itu adalah berita bohong.[2]
Kemudian berkata dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maa’idah: 23)
Alkitab menyebutkan bahwa dari dua belas orang tim pengintai, dua orang di antaranya tidak setuju dengan mayoritas tim pengintai, yaitu Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun.
Saat itu, Bani Israel bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, serta berkata: “Mengapa Tuhan membawa kami ke negeri ini supaya tewas oleh pedang, dan isteri serta anak kami menjadi tawanan?” (Kitab Bilangan 14:2–3)
Orang-orang Bani Israel juga berkata: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” (Kitab Bilangan 14:4)
Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.” (Kitab Bilangan 14:6–7)
Yosua dan Kaleb juga berkata: “Janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, … Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.” (Kitab Bilangan 14:9)
Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. (Kitab Bilangan 14:10)
QS. Al Maa’idah: 24 menceritakan bahwa Bani Israel berkata: “Hai Musa, kami tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka (penduduk negeri itu) ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”
Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS. Al Maa’idah: 26)
“Dan anak-anakmu akan mengembara sebagai penggembala di padang gurun empat puluh tahun lamanya dan akan menanggung akibat ketidaksetiaan, sampai bangkai-bangkaimu habis di padang gurun.” (Kitab Bilangan 14:33)
Allah menghukum Bani Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun sebagai akibat dari penolakan mereka untuk berjihad memasuki tanah suci.
Seluruh generasi Bani Israel yang menolak berjihad akan mati di padang gurun, termasuk para anggota tim pengintai, kecuali Yosua dan Kaleb. (Kitab Bilangan 14:30)
Yosua dan Kaleb akan tetap hidup sampai generasi berikutnya dari Bani Israel melaksanakan jihad dan memasuki tanah suci.
Manna dan Salwa
“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu Manna dan Salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al Baqarah: 57)
Meskipun menghukum Bani Israel untuk mengembara di padang gurun, Allah tetap mencurahkan rahmat-Nya dengan memberikan Manna dan Salwa kepada mereka.
Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun. “Seandainya saja kami mati di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” (Kitab Keluaran 16:2–3)
Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, Allahmu.” (Kitab Keluaran 16:11–12)
Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun di sekeliling perkemahan itu. Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. (Kitab Keluaran 16:13–14)
Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan Tuhan kepadamu menjadi makananmu.” (Kitab Keluaran 16:15)
Umat Israel menyebutkan namanya: Manna; warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu. (Kitab Keluaran 16:31)
Orang Israel makan Manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan Manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan. (Kitab Keluaran 16:35)
Salwa adalah burung puyuh. Sementara Manna, menurut sebagian peneliti Alkitab, adalah embun madu hasil ekskresi serangga tertentu yang memakan getah tanaman.
Namun, karena sebagian besar terdiri dari gula, embun madu tidak mungkin menyediakan nutrisi yang cukup bagi populasi untuk bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama.
Sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Al Kam’ah adalah sejenis Manna, airnya mengandung obat bagi penyakit mata.” [HR. Bukhari no. 4118 dalam aplikasi Lidwa]
Al Kam’ah merupakan truffle gurun (Terfeziaceae), keluarga jamur truffle yang endemik di kawasan Mediterania, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Sehingga, Manna adalah sejenis jamur yang kaya nutrisi.

Al Kam’ah (saudipedia.com)
Walaupun demikian, Bani Israel tetap mengeluh atas makanan yang mereka peroleh.
“Hai Musa, kami tidak bisa sabar dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (QS. Al Baqarah: 61)
Burung puyuh termasuk dalam kelompok daging putih yang memiliki kandungan lemak lebih sedikit dibandingkan daging merah.
Daging burung puyuh kaya akan protein, lemak baik, vitamin D, vitamin B kompleks (seperti B3/niasin, B6, B12), serta mineral penting seperti zat besi, fosfor, dan kolin.
Sedangkan keluarga jamur truffle kaya akan serat, karbohidrat, vitamin, mineral, asam amino, dan antioksidan.
Oleh karena itu, Manna dan Salwa memiliki kandungan gizi yang lebih baik daripada makanan yang mereka minta.
Di Padang Gurun
Allah menghukum Bani Israel mengembara di padang gurun sebagai sarana untuk merendahkan hati mereka dan mengajar mereka untuk bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Pengembaraan di padang gurun juga sebagai masa persiapan yang melatih ketangguhan fisik dan mental Bani Israel untuk berjihad memasuki tanah suci.
Saat di padang gurun, terdapat pula beberapa peristiwa yang dialami Nabi Musa, di antaranya adalah pemberontakan Qarun dan pertemuan dengan Nabi Khidir.
Wallahu A’lam
[1] Tafsir Ath-Thabari, Jilid 4, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), hlm. 340.
[2] Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3, (Bogor: Pustaka Imam Asy Syafi’i, 2003), hlm. 62.
메타데이터
- post_id
- 179ec8fa0a70
- slug
- kisah-bani-israel-menolak-perintah-jihad-179ec8fa0a70
- url
- https://islampedia.id/kisah-bani-israel-menolak-perintah-jihad-179ec8fa0a70
- canonical_url
- https://islampedia.id/kisah-bani-israel-menolak-perintah-jihad-179ec8fa0a70
- author_url
- https://medium.com/@wiji-aljawi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21