#8: What If?
Pin
#8: What If?

Pin
Dunia kembali ke masa kini.
Suara deru kereta Malabar sudah lama hilang, digantikan oleh kesunyian peron yang hanya diinterupsi oleh suara pengumuman keberangkatan kereta tambahan tujuan Jogja yang akan tiba dalam tiga puluh menit.
Nino dan Naura masih duduk di kursi besi yang sama. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang penuh amarah seperti sepuluh tahun lalu di angkringan, melainkan keheningan yang sarat akan kelelahan dan penerimaan.
“Kamu tahu, Ra?” Nino memecah kesunyian, matanya menatap ujung sepatunya yang berdebu. “Di Jakarta, di tahun-tahun pertama setelah kita putus, aku sering banget ke stasiun cuma buat dengar suara pengumuman kereta arah Jogja. Aku berdiri di sana kayak orang bego, bayangin kalau aku naik kereta itu dan nemuin kamu di kosan, bilang kalau aku menyerah sama kerjaan dan mau balik jadi Nino yang dulu.”
Naura tersenyum tipis, matanya menatap lurus ke rel yang berpendar di bawah lampu stasiun. “Kenapa nggak dilakukan, No?”
“Karena aku tahu, kalau aku lakuin itu, kita bakal tetap hancur karena masalah yang sama. Kita bakal tetap berantem soal uang, soal masa depan, soal ego. Aku nggak mau ngerusak memori manis kita dengan keegoisanku.”
Naura menarik napas panjang, dadanya terasa sesak oleh kejujuran Nino. “Lucu ya. Kita berdua terlalu sibuk jadi dewasa sampai kita lupa kalau dulu kita itu kuat justru karena kita punya satu sama lain.”
Naura menoleh, menatap wajah Nino yang kini sudah memiliki garis-garis kedewasaan. Tidak ada lagi tawa renyah tanpa beban, yang ada hanyalah ketenangan seorang pria yang sudah banyak menelan asam garam kehidupan.
“No,” panggil Naura pelan. “Apa kamu pernah mikir… Gimana kalau dulu aku nggak terlalu nuntut waktu kamu? Apa jadinya kalau aku milih buat ikut kamu ke Jakarta, tidur di kosan sempit berdua dan mulai semuanya dari nol lagi sama-sama?”
Nino terdiam. Pertanyaan itu adalah gema yang paling menyakitkan. Sebuah simulasi kebahagiaan yang tidak akan pernah terjadi.
“Mungkin sekarang kita sudah punya rumah kecil di pinggiran kota,” jawab Nino dengan suara yang sedikit bergetar. “Mungkin sekarang kita lagi debat soal warna cat kamar anak kita, bukan debat soal masa lalu di stasiun ini. Tapi mungkin juga… kita bakal tetap berakhir asing karena tekanan hidup yang lebih berat dari sekadar jarak.”
Nino menatap Naura, tatapannya dalam dan penuh rasa terima kasih yang tak terucapkan. “Tapi satu hal yang aku tahu pasti, Ra. Dulu, sekarang, atau di semesta mana pun… kamu adalah satu-satunya orang yang bikin aku ngerasa kalau aku layak dicintai, bahkan saat aku nggak punya apa-apa.”
Lampu kereta tambahan mulai terlihat dari kejauhan, membelah kegelapan malam. Mereka berdiri serempak. Tidak ada alagi tangisan histeris seperti di Lempuyangan dulu. Hanya ada dua orang dewasa yang saling melempar senyum getir.
“Aku di gerbong depan, No,” kata Naura sambil menarik pegangan kopernya.
“Aku di gerbong paling belakang,” sahut Nino.
Mereka berjalan berlawanan arah. Langkah kaki Naura terasa berat, setiap langkah menjauhi Nino terasa seperti ia sedang mengubur satu per satu kenangan tentang nasi kucing, mie instan dingin, dan malam panas di hotel budget kala itu.
Saat sudah berada di depan pintu gerbong masing-masing, mereka berhenti sejenak dan menoleh untuk terakhir kalinya. Di antara kerumunan orang, mata mereka bertemu. Nino memberikan sebuah anggukan kecil dan Naura membalasnya dengan senyuman tipis.
Naura naik ke gerbongnya, duduk di kursi dekat jendela. Saat kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Bandung, ia melihat bayangan stasiun yang semakin menghilang ditelan malam.
Naura menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin. Ia membuka ponselnya, memasang earphone dan memutar lagu yang akhir-akhir ini sering ia dengarkan. Lagu AKMU. Suara Lee Su-hyun mulai mengalun, menyayat sisa-sisa pertahanannya.
“How can I love the heartbreak, you’re the one I love…”
Air mata Naura jatuh, satu tetes, membasahi layar ponselnya yang menampilkan pantulan wajahnya sendiri. Ia menyadari sesuatu yang sangat indah sekaligus menyakitkan. Ia tidak perlu melupakan Nino untuk bisa melangkah maju. Rasa sakit ini, kenangan ini, adalah bagian dari dirinya.
Nino adalah orang yang membentuk Naura menjadi perempuan kuat seperti sekarang. Dan Naura adalah orang yang memberi Nino alasan untuk terus berjuang di Jakarta. Mereka mungkin tidak ditakdirkan untuk menua bersama, tapi mereka pernah menjadi segalanya bagi satu sama lain.
Kereta melaju semakin cepat menuju Jogja. Menuju tempat di mana semuanya dimulai, dan tempat di mana semuanya telah selesai.
— TAMAT —
메타데이터
- post_id
- 17c123732d0e
- slug
- 8-what-if-17c123732d0e
- url
- https://medium.com/@desertverse/8-what-if-17c123732d0e
- canonical_url
- https://medium.com/@desertverse/8-what-if-17c123732d0e
- author_url
- https://medium.com/@desertverse
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 04:46:19