Merantau (Bagian 2)
sebelumnya dari Merantau 1 di sini
Merantau (Bagian 2)
sebelumnya dari Merantau 1 **di sini**
- Karawang (Mode main dan berjuang)

Tulang dan Nantulang Karawang adalah salah satu hadiah terbaik dalam hidup kami, khususnya aku dan Elsa. Elsa sudah lebih dahulu tinggal di rumah Tulang untuk mencari pekerjaan. Bersama keluarga Tulang aku kembali bisa merasakan rasa hangat rumah, interaksi penuh tawa dan kekompakan antar saudara. Ketiga sepupuku laki-laki yang semua berawalan huruf F: Frans, Ferdi dan Farel selalu berhasil menambah semangat. Tapi aku lebih suka memanggil mereka Peyan, Paredot dan Payen 😁. Tulang Nantulang selalu mendukung kami dengan tindakan nyata selayaknya orang tua baik moril maupun finansial. Daftar kerja kemana aja ongkosnya aman. Berbeda dengan orang tua kandungku yang karena keadaan lebih banyak berjarak, maka dengan keberadaan Tulang Nantulang peran orang tua itu kembali berwujud lebih nyata. Kan tinggal video call. Hmm tetap beda yaa.
Skripsi yang mandek hampir 1.5 tahun di Semarang berhasil tuntas di November 2021, hanya 3 bulan setelah aku tiba di Karawang. Karawang selalu istimewa karena hampir setiap libur semester perkuliahan kami main ke sini. Bukan hanya keluarga yang hangat, tetangga dan lingkungan perumahan juga amat menyenangkan. Tulang dan Nantulang juga menjadi saksi skripsiku tuntas dan mewakili orang tuaku saat wisuda online.
2022 menjadi tahun sebenarnya pertarungan di dunia nyata. Tidak terhitung berapa banyak lamaran yang diunggah. Elsa juga belum keterima kerja. Harapan muncul ketika Elsa di awal tahun keterima program MT Gacoan di Bandung. Selang beberapa bulan setelahnya pada bulan Maret aku keterima sebagai admin di Rumah Sakit swasta di Karawang. Kepindahan dia ke Bandung rupanya menjadi awal “perpisahan” kami secara permanen hingga dia menikah. Terkadang kami masih ketemu sebentar sih seperti ketika dia pindah sementara kembali ke Karawang, Cikarang dan Jakarta. Terus terang aku tidak pernah membayangkan akan berjuang dalam hal apapun sendiri, karena meski hubungan unik kami terselip persaingan namun selalu ada perasaan tenang saat mengetahui ada sosok bagian dari rahim yang sama menghadapi realita akan dunia yang keras.
Kebaikan Tulang Nantulang tidak berhenti saat aku bekerja di rumah sakit. Justru Tulang sempat bolak-balik seminggu antar aku kerja sebelum menemukan kos. Dan yah, kos 1 bulan dibayarin dulu sama Nantulang hehehe. Saat itu hubungan spiritual juga terpupuk dengan baik karena Tulang aktif di gereja dan mendorongku untuk bergabung di OMK (Orang Muda Katolik) Rengasdengklok. Saat itu angkatan kamilah yang menghidupkan kembali OMK dengan lahirnya AD/ART sehingga bisa aktif sampai sekarang. Berguna juga pengalaman dulu gabung Senat hahaha.
Pekerjaan sebagai admin sangat buta bagiku karena tidak punya ilmu dasar keadministrasian, dulu-dulu cuma praktik ketika mengurus acara di kampus. Waktu itu yang lolos 2 orang, rekan satunya lulusan Unsika. Spesifik kami bekerja di bagian pelayanan Fever Clinic khusus pasien dengan gejala mengarah Covid-19. Ga heran keseharian wajib menggunakan APD dengan masker ketat. Duh paling pusing kalo udah banyak pasien yang datang tiba-tiba dan bisa sampai buat panik. Seru sih kalo diingat-ingat. Mengkhayal aja sebagai Song Hwa, karakter dokter favorit di drakor Hospital Playlist jadi bisa enjoy apalagi kalau piket malam. Plus beberapa dokter tampan hahaha. MANTAP!! Ada juga sih perawat dan dokter sinis, tapi yaudah lah namanya manusia. Paling sebal ketika hubungi CS asuransi, ternyata obat atau penanganan yang diklaim salah info atau salah tafsir. Yaa, nombok hahaha. Untung ngga pernah nombok gede sih. Masa kerjaku berakhir karena menurut evaluasi performa aku di tim kurang dan hanya baik di kerja individual padahal keseluruhan bidang admin menekankan kerja tim. Well, I didn’t agree. But, yaudah lah. Cukup bingung juga ketika sempat bicara dengan Kadiv yang menyalamiku ketika hendak berpamitan, dia bilang “Okta, sorry ya. Kita kira grafik Covid naik lagi jadi kebutuhan admin dikurangi”. Aku cuma menjawab dengan senyum sementara temanku satu lagi melanjutkan kontrak.
Oh ada cerita seru. Pernah divideoin keluarga pasien waktu kasih penjelasan tentang ketentuan menggunakan BPJS. Anak Bapak itu masuk kondisi agak demam, dan syarat wajib BPJS bisa diklaim jika dokter menyatakan status emergency. Si Bapak ngga terima dan bersikeras anaknya udah biasa berobat ke rumah sakit ini. “Temen saya juga udah pernah ke sini dan pake BPJS langsung bisa. Coba ngomong lagi mbak, saya viralin nanti ini!”, katanya ngotot. Huh tetap kalem ya. Aku coba tanya nama anak dan tanggal lahirnya untuk liat di history sistem. Nope, tidak ada. Nanya lagi “Pak boleh tahu temannya waktu itu sakit apa?”, tanyaku. Dia bilang digigit lebah. Hadeuhh. Itu mah ngga ditanggung atuh Pak. Abis itu raut si Bapak lesu dan menurunkan lehernya. Percayalah, begitu si Bapak pergi baru aku bisa mencerna dengan sedikit tangan bergetar sambil membatin “Duh kalo beneran viral gimana ya”. Hahahha
Setiap ada kebuntuan akan sesuatu aku selalu merasa tenang di Karawang karena ada dukungan mereka. Banyak teman-teman baru dan adik-adik dengan tingkah lugu dan lucu. Terkhusus untuk ketiga “F”, terima kasih ya karena kalian mengajarkan kaka menjadi sosok kaka. Sebagian tempat di Karawang memang untuk mengawali perjuangan dan sebagian lagi untuk dijalani sambil rileks dan bermain-main :) — in a good way hahaha. Ibarat warna maka Karawang adalah pelangi yang penuh warna.
- Kabupaten Bogor dan Bogor

Sebisa mungkin dalam proses pencarian kerja ngga melibatkan jalur relasi. Tapi tantangan di Indonesia yah memang sulit mendapat pekerjaan sesuai jurusan. Tulang menawarkan pekerjaan admin lagi dari kantor lamanya di Karawang untuk Koperasi cabang Kab. Bogor entah Gunung Putri atau Cibinong. Aku udah bertekad begitu lulus ngga mau bebani orang tua lagi dan ngga mikir panjang untuk mengiyakan tawaran Tulang. Aku juga mengajak sahabatku yang saat itu sedang di Medan. Setelah berdiskusi dengan orangtuanya, sahabatku menyusul ke Karawang lalu kami bersama-sama ke Bekasi yakni lokasi kantor pusat untuk menemui pimpinan.
Pekerjaan admin kali ini di bagian mengurusi pinjaman dan tabungan. Aku ditempatkan di Gunung Putri sementara sahabatku di Cibinong (Sentul sih lebih tepatnya). Sebenarnya pekerjaannya mudah, yang buat tidak nyaman adalah bercandaan kotor yang kurang masuk bagiku. Jam kerja juga selalu melebihi ketentuan. Kalau diingat-ingat waktu itu selalu bahagia kalau pulang dengan keadaan masih ada matahari sore. Banyak hal menyenangkan juga karena setidaknya bisa tamasya ke tempat-tempat seru (Dufan, Pantai Pangandaran, Kawah Putih Ciwidey, dan main arung jeram di Citumang!). Sembari menjadi admin aku juga sambil melamar ke tempat lain seperti Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan Konimex dan keduanya lolos administrasi. Saat tiba ujian tahap berikutnya aku ngga ambil karena merasa kurang persiapan dan belum punya finansial cukup, kalo ditalangin Tulang Nantulang lagi kayanya ngga dulu deh. FUK*!! Bertarung lamar sana-sini juga butuh modal!
Bekerja sebagai admin koperasi selama 1 tahun 2 bulan dan kalau dipotong training 3 bulan, aku di sana cuma 11 bulan sebelum jadi karyawan tetap. Buat kesejahteraan karyawan lumayan sih. Apalagi kalau udah 1 tahun kartap bisa ajukan cuti. Jadi resign di posisi 1 bulan lagi mendapat hak cuti, tunjangan penuh dan keuntungan lain bagi banyak orang adalah keputusan bodoh. Sebetulnya ada banyak hal yang buat aku tidak nyaman namun ga mungkin diceritakan di sini. Pemikiran sejak awal di sini adalah mengumpulkan cuan maksimal untuk amunisi di percobaan-percobaan berikutnya. Terutama cita-cita belum kesampean: jadi DOSEN. Salah satunya saat itu aku mencoba beasiswa LPDP Batch 2 tahun 2023. Weh kata siapa beasiswa gratis? Persyaratan administrasinya segudang dan itu ga murah ya. Diam-diam aku mendaftar dan belajar ujian TOEFL tanpa tercium siapa pun. Skor yang disyaratkan untuk kampus dalam negeri 500. Kampus tujuan yaitu UGM, Unhas dan Unpad dengan bidang studi pengendalian hama. Aku daftar test TOEFL di IPB University dan untung ujiannya hari Sabtu jadi ga perlu izin ga masuk kerja. Modal belajar YouTube doang dan untung masih punya 1 buku yang kubawa dari Semarang. Skorku saat itu 520 dengan waktu belajar 2 bulan (Thank you so much Mr. Andrian, your channel was powerful!). Terima kasih juga untuk Pak Budi, Bu Eny dan Prof Kus atas kesediaan memberikan surat rekomendasi sehingga aku lolos tahap administrasi. Mungkin pertempuran panjang perbeasiswaan ini harus diceritakan di segmen terpisah. Oh iya ada syarat buat esai juga. I love that!
Lolos administrasi satu hal, hal lain tentunya bagaimana cara mengatur waktu untuk mengikuti tahap berikutnya. Namanya tes bakat skolastik (TBS) yang dilaksanakan secara online. Hmm saat itulah kepikiran untuk menggunakan kartu yang sering digunakan karyawan pada umunya, yaitu sakit. Izin dulu ke Bou Bogor mau ke rumah untuk tes dan beralasan ke manager subuh-subuh di hari H test kabarin kalo lagi kena diare. Duh deg-degan banget mau keluar kos karena kamar sebelahan sama pacar salah satu karyawan kantor. Begitu duduk di angkot baru bisa lega. Itu pun cukup menguras tenaga ya karena harus naik angkot dari Gunung Putri ke Jagorawi, lalu naik angkot Cibinong tujuan Kota Bogor dengan total waktu tempuh hampir 2 jam karena ngetem. Pas ujian ada si ponakan Ona yang lagi libur dan sesekali ngintip dari celah pintu wwwkkk. Hasilnya diumumkan 16 Agustus dan aku baru berani buka di tanggal 17 dengan hasil: “MAAF…” Skorku 110 dari passing grade 140. Hikss sakit.
Bagian menyenangkan kembali ke Bogor di usia dewasa adalah bisa terkoneksi lagi dengan keluarga dan teman-teman yang menjadi sobat rantau di Jakarta dan sekitarnya. Sebisa mungkin menyempatkan waktu berkumpul dan bertukar cerita dengan mereka sekaligus menjadi penguat satu sama lain. Kami main ke monumen-monumen, museum, berburu buku, Kebun Raya Bogor dan KRL-an ga jelas hahaha. Hesty, Riska, Icha, Iren, Elsa, kangen banget ges!!
Kegagalan di LPDP jadi titik balik untuk menata ulang rencana hidupku. Tujuan ingin menjadi dosen, harus lanjut S2, tapi belum bisa terwujud atau idealnya bekerja di bidang yang sesuai perkuliahan. Gagal BUMN 2x, MT-MTan juga ga berhasil, capek juga mencoba untuk hal-hal yang kemungkinan besarnya akan gagal lagi. Bersyukurnya masih ada tempat pulang untuk mengisi energi batin, yap main ke Karawang atau ke Kota Bogor. Entah mengapa sebaik dan sebanyak apapun bentuk dukungan keluarga Krw-Bgr tetap membuat hatiku merasa belum penuh. *Tanpa Mama dan Bapak tahu, dalam malamku selalu ada tangis yang seperti minta dipeluk dan sambil membatin“gapapa, nang”.* (Nang: panggilan sayang anak perempuan di Batak).
Setelah melalui pergumulan dan pemikiran serta perencanaan matang akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung. Serapuh dan seputus asa saat itu setidaknya ada secercah harapan yang coba diwujudkan. Aku melakukan riset mini kepada adik bungsuku yang saat itu masih kelas XII di kampung untuk mengamati kebutuhan masyarakat dan anak-anak di sekitar kampung kami. Oke fix ini 3 hal yang bakal aku buat: buka fotocopy, ngajar les anak SD dan bertani. Ketiganya tersusun rapi di excel berisi time line dan rancangan anggaran.
Keluarga di Karawang dan circle sahabat terdekat mendukung keputusanku untuk pulang. Hanya keluarga Bogor yang tidak kukabari. Aku hanya pamitan ke Karawang, hang out terakhir bersama para bestie dan hanya diantar Elsa ke bandara Soekarno Hatta. Aku selalu tidak ingin gagal di hadapan Bou Bogor. Mungkin karena aku memandang kesuksesan kakak dan abang sebagai standar dan aku belum memenuhi standar itu. Jadi rasanya seperti lebih baik memilih pergi diam-diam untuk membuktikan sesuatu. Tanpa harus menyalahkan siapa-siapa, yang terpikirkan saat itu adalah jika aku melanjutkan pekerjaan sebagai admin rasanya aku semakin menjauh dari diriku. Bidang ini terlalu monoton dan yang paling kutakutkan adalah kehilangan jati diri dan menyesal belum mengusahakan impian sebelum berjuang di titik paling mentok. Tentu untuk mewujudkan impian itu masih banyak batu yang menjelma menjadi masalah, tantangan dan ujian atau justru bisa berubah menjadi fondasi dan kekuatan tidak terduga di masa depan.
- Pancurnauli (Bagian 2 : Sebuah Awal)

Aku pulang di bulan Oktober 2023 setelah mengajukan pengunduran diri diawal September sehingga berkewajiban menyelesaikan tugas-tugas admin di akhir bulan itu. Sebetulnya surat pengunduran diri udah dicetak sejak awal tahun 2023 dan aku taruh di laci. Aneh sih kok karyawan lain ngga pernah ngeh ada berkas penting di situ apalagi karyawan laki-laki memang tinggal di lantai dua kantor. Lembaran surat itu seolah menjadi alat ukur sejauh mana aku bisa bertahan. Bulan demi bulan terlewati sehingga harus mengedit lagi bagian tanggal dan bulan surat untuk sebulan berikutnya. Menunggu momentum kapan pun siap untuk diajukan. Proses pengunduran diriku berjalan dengan baik dengan acara perpisahan yang baik pula. Aku menghadiahi mereka barang-barang lucu sekaligus berguna dan mereka menghadiahiku cardigan biru. Terima kasih ya tim Gunput, kalian adalah alasan mentalku menjadi lebih kuat, SEKUAT BAJA hahaha.
Kepulanganku kembali ke rumah dihadapkan pada sedikit kekhawatiran, namun tidak ada pemikiran ragu. Keputusan ini mantap walau modal terbatas. Tabunganku belum sampai 10 juta itu pun sudah dengan pencairan BPJS Ketenagakerjaan. Ditambah sebulan sebelum resign adik bungsu yang saat itu menjadi mahasiswa baru mengalami phising yang mengakibatkan 2.8 juta raib di tangan penipu. Masalah itu tidak langsung sampai ke orang tua kami dan aku mencoba menalangi 1.5 juta untuk pembayaran kontrakannya di Padang. Di hari kepulanganku, masih di dalam mobil sewa menuju rumah tiba-tiba si bungsu mengirim foto sekali lihat. Rupanya telapak kakinya tertusuk batu tajam saat bermain di sungai bersama teman-temannya sehingga harus dijahit. Ya Tuhan, cobaan apalagi ini.
Aku banyak merenung sepanjang perjalanan dari dalam pesawat, turun lalu naik mobil ALS ke loket Sampri di Medan hingga menyusuri jalan-jalan familiar menuju rumah. Perjalanan ini rasanya canggung sekali. Dulu perjalanan penting kami selalu ditemani Bapak atau minimal bersama Elsa. Timbul juga pikiran bahwa anak rantau lain umumnya pulang ketika sudah sukses sementara aku datang karena sedang tidak berada dalam fase sukses itu sendiri. Modal niatku pulang menjadi bulat karena dukungan tak terhingga dari Mama sementara Bapak masih samar-samar. Entah Bapak marah, kecewa atau menerima aku pun tidak tahu. Aku hanya tahu saat itu aku butuh pulang.
Cerita lucu pas pulang adalah aku lupa simpang jalan menuju rumah. Seingatku dulu pas pulang karena nikahan abang di tahun 2020 ada marka panah tulisan “Desa Laehole II/Sicike-cike”. Mungkin karena hari sudah gelap jadi ngga kelihatan, sehingga terlewat beberapa meter. Ternyata begitu tiba di rumah tidak banyak suasana yang berubah. Mama masih dengan senyum lebar plus kerutannya yang kalau dilihat langsung ternyata lebih banyak garis kerut dibanding layar HP. Bapak juga dengan gaya tsundere khas seperti biasa, tidak banyak bicara tapi dari mata dan lakunya dia tidak ingin banyak bertanya. Untung Nantulang bersikeras membelikanku oleh-oleh jadi ga kosong banget pas keluarga lain dan tetangga datang. Love you Nantulang!
Jadi kalau ditotal sejak 2013 meninggalkan rumah untuk SMA di Bogor, maka ini menjadi kepulangan ketigaku. Wow sepuluh tahun LDR. Hari berikutnya dan seterusnya serasa seperti menjadi anak favorit. Sedikit-sedikit Mama menyuruh makan. Bapak juga tiap berapa waktu menanyakan aku udah makan atau belum. Kasihan kali ya mereka lihat badanku ga nambah-nambah dari dulu hahaha. Tentu aku pun ikut ke ladang. Aku sangat suka melihat awan dan hamparan perkampungan yang telihat jelas dari ladang kami. Kegiatan berladang yang paling digemari adalah memetik kopi dan cabai. Dua komoditas itu adalah sumber utama penyokong perkuliahanku dan Elsa. Sayangnya saat aku pulang masa jaya pertanian sedang tidak berbuah manis. Timbul kekhawatiran lagi “apakah aku menambah beban orang tua?”. Anak pertama lagi hmm.
Waktu leha-leha dan mengamati selesai. Aku harus menyelesaikan misiku. Oke, secara logis saat itu prioritas rencana yang harus dijalankan adalah membuka fotocopy. Aku udah bawa baliho bertuliskan “BONG-BONG PRINT & FC” dengan poin-poin di bawahnya (cetak dokumen, scan, jilid, sedia ATK dan konsultasi tugas). Baliho itu dicetak di salah satu toko percetakan daerah Air Mancur Bogor dekat rumah Bou. Soalnya aku pikir nanti biar praktis tinggal gantung dan beli alat-alat lain. Aku ditemani adikku laki-laki nomor 3 untuk belanja ke Medan. Barang yang dibeli berupa printer, rak dan alat-alat tulis. Kami menginap di rumah Tulang Pudan dan bersyukur sekali Tulang juga banyak membantu merekomendasikan toko-toko yang bagus dengan harga terjangkau. The best sih Tulang direkturku ini hahaha.
Nah tepat di Medan keberadaanku diketahui Bou Bogor. Sebenarnya Bou udah video call pas kami di Sampri menuju Medan. Tapi hatiku belum kuat dan pikiran mau fokus belanja. Setelah menarik napas, berdoa dan menata hati baru aku telepon Bou. Telepon ya, belum berani video call hihi. Boom!! Bou merepet banyak sekali intinya dia khawatir gimana nanti bisa cari kerja di kampung dan jangan sampai merepotkan orang tua. Yah aku minta doain aja dan mastiin ngga bakal repotin mereka. Sedihnya Bou tidak percaya saat itu dan itu mematahkan hatiku. Aku menangis semalaman, kepala berdenyut dan susah tidur. Pagi-pagi mataku sudah sembab hingga bengkak. Apakah aku menyerah? Oh tidak. Anggap aja keraguan Bou sebagai motivasi!
BONG-BONG PRINT & FC dan ceritan lanjutannya ada di sini
메타데이터
- post_id
- 17c844743e86
- slug
- merantau-bagian-2-17c844743e86
- url
- https://medium.com/@oktavianalimbong10/merantau-bagian-2-17c844743e86
- canonical_url
- https://medium.com/@oktavianalimbong10/merantau-bagian-2-17c844743e86
- author_url
- https://medium.com/@oktavianalimbong10
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 12:25:54