← Back to list

Hanya Diam

#7: Menyaksikan Kebrutalan Subjektif

Muhammad Baehaqi · 2025-12-30 19:13 · 0 claps · 1.5 min read
#menulis #renungan #ekosistem #zalim #biawak
Open on Medium ↗

Hanya Diam

7: Menyaksikan Kebrutalan Subjektif

Photo by Jackson Simmer on Unsplash

Photo by Jackson Simmer on Unsplash

Hati saya merasa tidak nyaman saat ini. Bakda magrib tadi, saya menyaksikan pembantaian yang dilakukan dua orang tetangga saya.

Si korban terlihat lari terbirit-birit menyelamatkan nyawanya. Dua orang tadi dengan penuh ambisi membawa balok kayu untuk membunuh sang korban. Dengan penuh harap, hati saya berdoa agar korban berhasil menyelamatkan diri. Namun, ia tidak selamat. Kayu keras yang dibawa dua orang tadi berkali-kali menghantamnya diiringi dengan umpatan kasar yang keluar dari lisan salah seorang pelaku. Ia diam seketika ketika sebuah pukulan mengenai kepalanya. Setelah tanpa daya pun, penderitaannya tidak berhenti juga. Ia masih menerima pukulan lanjutan yang memastikan nyawanya tak membersamainya lagi.

Walaupun ia hanya seekor biawak, berat hati saya untuk menerimanya. Dari tadi hingga sekarang batin saya sibuk mengutuk dua orang pelaku yang sayangnya juga tetangga baik saya. Bagaimana bisa makhluk tanpa dosa dihabisi tanpa ampun. Saya mencoba berpikir apa alasan mereka melakukannya. Saya rasa di sini tidak ada yang beternak atau memelihara unggas sehingga Varanus salvator (nama ilmiah biawak) mungkin dianggap hama yang menjadi predator hewan-hewan ternak. Untuk dikonsumsi, mungkin? Ah, tidak. Saya rasa orang-orang tersebut bukan orang yang susah mencari makan.

Padahal, biawak merupakan makhluk yang memiliki peran sangat penting dalam kelangsungan ekosistem. Mereka menjadi predator alami bagi tikus, ular, dan masih banyak lagi. Membantainya tidak dapat dibenarkan apalagi mereka tidak pernah memiliki niat mengganggu kita sedikitpun.

Di sisi lain, saya juga menyesal tidak berani menegur tetangga saya itu. (Saya hanya) berani menyalahkan dalam hati, tetapi tidak berani bilang secara langsung. Ini juga tidak bisa disebut hal terpuji. Mendiamkan kemungkaran sama saja ikut menormalkannya.

Tulisan ini merupakan hasil pengembangan menulis dadakan yang tadi bakda isya saya praktikkan ketika menghadiri kelas 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘑𝘶𝘳𝘯𝘢𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘔𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘒𝘦𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘔𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘔𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘴𝘸𝘢 bersama Uda Ivan Lanin. Menurutnya, saya menggunakan teknik pancingan yang terlihat heboh di awal seakan-akan sedang menceritakan manusia sebagai korban, padahal biawak. Saya sedikit merasa bersalah karena isinya mungkin terlalu sadis sehingga Uda Ivan pun tidak membacakannya secara jahar saat mereviunya. Barangkali Uda lihat, maaf, ya, Uda. 🙏😁


메타데이터
post_id
17ec19d992c2
slug
hanya-diam-17ec19d992c2
url
https://medium.com/@MuhammadBaehaqi/hanya-diam-17ec19d992c2
canonical_url
https://medium.com/@MuhammadBaehaqi/hanya-diam-17ec19d992c2
author_url
https://medium.com/@MuhammadBaehaqi
status
ok
fetched_at
2026-07-16 02:52:27