← Back to list

Cerita di Sela Waktu: Menghidupkan Perjalanan Umroh

Malam di Mekkah selalu memiliki cara tersendiri untuk terasa hening sekaligus hidup. Setelah shalat Isya berjamaah, kami masih duduk…

Tanayakenyo · 2026-04-20 07:29 · 0 claps · 4.0 min read
#umrah #zamzam #makkah #masjidil-haram
Open on Medium ↗

Cerita di Sela Waktu: Menghidupkan Perjalanan Umroh

Malam di Mekkah selalu memiliki cara tersendiri untuk terasa hening sekaligus hidup. Setelah shalat Isya berjamaah, kami masih duduk sejenak di pelataran masjid. Lantunan doa dari berbagai penjuru dunia bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa tenang, sekaligus haru, yang menetap cukup lama bahkan setelah doa selesai dipanjatkan. Namun, seperti halnya kehidupan, perjalanan ibadah pun punya ritmenya sendiri. Tidak selalu khusyuk dalam diam, ada juga sela-sela waktu yang justru memperkaya pengalaman secara utuh. Justru di sela-sela waktu itulah, ada ruang kecil untuk bernapas setelah berlari-lari kecil di antara kedua bukit.

Langkah kaki kami beralih dari marmer dingin menuju Zamzam Tower.

Dari kejauhan, bangunan itu berdiri megah dengan cahaya yang tak pernah benar-benar padam. Rasanya kontras, baru saja tenggelam dalam kekhusyukan doa, kini perlahan masuk ke suasana yang lebih ramai, lebih duniawi, tapi tetap terasa dekat. Meski begitu, ada satu hal yang tidak berubah: aura spiritual yang masih terasa. Banyak pengunjung yang masih mengenakan pakaian ihram atau abaya, langkah mereka tenang, wajah mereka memancarkan keteduhan yang sama seperti saat berada di dalam masjid. Rasanya seperti membawa sebagian dari kekhusyukan itu masuk ke dalam ruang yang lebih duniawi.

Gambar: Tanaya Kenyo

Gambar: Tanaya Kenyo

Gambar: Tanaya Kenyo

Gambar: Tanaya Kenyo

Begitu di dalam, pendingin ruangan serta deretan toko menyapu hangatnya malam dengan cahaya terang. Kami berjalan tanpa tergesa, membiarkan diri menikmati setiap sudut. Toko pertama yang menarik perhatian adalah toko parfum. Aroma khas Timur Tengah langsung menyapa, oud yang pekat, amber yang hangat, dan musk yang lembut. Seorang penjaga toko dengan ramah menawarkan beberapa varian untuk dicoba. Saat aroma itu menyentuh pergelangan tangan, ada sensasi yang unik, seolah wangi tersebut bukan sekadar wewangian, tapi juga bagian dari identitas tempat ini. Kami sempat bercanda kecil, mencoba berbagai aroma, tapi di balik itu ada keinginan sederhana: membawa pulang sedikit “rasa” Mekkah.

Tepat di seberangnya, ada toko tasbih dengan butiran berkilau, di sisi lain ada sajadah dengan motif yang rumit dan lembut saat disentuh. Tangan ini refleks menyentuh satu sajadah, membayangkan nanti akan dipakai di rumah, lagi-lagi dengan bayangan seolah membawa sedikit suasana Mekkah pulang.

Gambar: Tanaya Kenyo

Gambar: Tanaya Kenyo

Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika kami singgah di toko kurma. Deretan kurma tersusun rapi, mulai dari kurma ajwa, sukari, medjool, dan belasan jenis kurma lainnya masing-masing dengan karakter rasa yang berbeda. Penjualnya dengan ramah menawarkan untuk mencicipi. Saat menggigit kurma sukari, teksturnya lembut serta rasa manisnya terasa lebih dalam. Mungkin karena dimakan di tempat yang penuh makna, atau mungkin karena suasana hati yang sedang terbuka. Percakapan ringan dengan penjual, senyum yang tulus, semuanya terasa sederhana tapi membekas.

Di sela-sela itu, saya memperhatikan orang-orang di sekitar. Ada keluarga yang tertawa kecil sambil memilih oleh-oleh, ada jamaah lansia yang berjalan perlahan sambil menggenggam tas kecil, ada juga anak-anak yang tampak lelah tapi tetap antusias. Semua datang dari latar belakang yang berbeda, tapi malam itu mereka berada dalam satu ritme yang sama. Rasanya seperti melihat potongan kecil dari dunia yang berkumpul di satu tempat. Mekkah memang selalu seperti itu, mendekatkan yang jauh, untuk bersama-sama mempelajari kehidupan satu sama lain.

Jam menunjukkan semakin larut, tapi suasana di dalam Zamzam Tower masih ramai. Meski begitu, ada perasaan halus yang terus menarik kembali ke arah masjid. Seolah hati tahu bahwa pusat dari semua ini tetaplah ibadah yang tadi dijalani. Malam semakin larut ketika kami akhirnya keluar dari Zamzam Tower. Kantong kecil berisi oleh-oleh terasa ringan di tangan, tapi entah kenapa hati justru terasa penuh. Lampu-lampu kota masih menyala terang, memantulkan kilau di lantai marmer yang kami pijak.

Di kejauhan, Masjidil Haram tetap berdiri megah, seolah tidak pernah benar-benar berhenti menyambut siapa pun yang datang. Langkah kami kali ini tidak lagi tergesa. Ada rasa lelah yang mulai terasa setelah seharian beraktivitas, ditambah rangkaian ibadah yang menguras energi, tapi dengan cara yang menenangkan.

Kami berjalan pelan menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari Zamzam Tower — masih dalam satu kawasan, hanya beberapa menit berjalan kaki. Di sepanjang jalan, arus manusia tetap ada, meski tidak seramai sebelumnya. Beberapa jamaah tampak baru selesai berbelanja seperti kami, sementara yang lain justru bersiap menuju masjid untuk ibadah malam. Suasana malam itu unik. Tidak benar-benar sepi, tapi juga tidak riuh. Ada ketenangan yang hidup.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung hening. Sepatu dilepas, tas diletakkan begitu saja, dan tubuh hampir refleks menjatuhkan diri ke kasur. Rasa lelah yang tadi tertahan seolah langsung datang bersamaan. Tapi di balik itu, ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan seperti pulang ke tempat yang tepat, meski hanya sementara.

Kami tidak benar-benar tidur lelap. Waktu istirahat ini terasa seperti jeda singkat di antara dua bagian perjalanan. Lampu kamar dibiarkan redup, menciptakan suasana yang tenang. Beberapa dari kami masih sempat membuka oleh-oleh yang baru dibeli, melihat kembali sajadah, mencium aroma parfum yang tadi dicoba, atau sekadar memastikan kurma yang dibeli tersimpan rapi. Ada senyum kecil yang muncul, sederhana tapi tulus.

Di sela-sela itu, waktu terus berjalan. kami kembali melangkah di tengah malam menuju masjid dengan hati yang terasa lebih ringan seolah jeda singkat tadi bukan sekadar istirahat, tapi juga cara Tuhan mengatur ritme perjalanan ini agar tetap seimbang. Dan pada akhirnya, bahkan di keheningan tengah malam, setiap langkah yang kami ambil selalu bermuara kembali ke satu tempat yang sama Masjidil Haram, tempat di mana perjalanan ini dimulai, dan selalu ingin diulang kembali.

Gambar: Tanaya Kenyo

Gambar: Tanaya Kenyo


메타데이터
post_id
181a3ad325a7
slug
cerita-di-sela-waktu-menghidupkan-perjalanan-umroh-181a3ad325a7
url
https://medium.com/@tanayakenyo/cerita-di-sela-waktu-menghidupkan-perjalanan-umroh-181a3ad325a7
canonical_url
https://medium.com/@tanayakenyo/cerita-di-sela-waktu-menghidupkan-perjalanan-umroh-181a3ad325a7
author_url
https://medium.com/@tanayakenyo
status
ok
fetched_at
2026-07-16 00:14:14